Oleh: Anisa Qisti

Aku bertahan demi semangkok es krim vanila kesukaanku, demi dua kucing kesayanganku, demi Papua yang ingin aku kunjungi, demi semangkok Indomie tengah malam, demi apapun. Aku akan menjadikan alasan sekecil apapun bagiku untuk bertahan.

BINGUNGBACA – Aku akan membuat cerita ini seolah-olah aku sedang berbicara dengan teman dekatku. Karena dengan begitu, aku dapat merasa bahwa tak ada salahnya tulisan ini kubagikan.

Tulisan ini dipenuhi rasa frustrasi dan putus asa. Jika kau masih mau membacanya, aku cuma ingin kau tahu bahwa ada masanya setiap orang ingin menghilang dari muka bumi. Siapa saja, baik itu aku, kau, teman terdekat, atau mungkin orang yang kau temui di jalanan. Tanpa terkecuali.

Kau tahu saat kapan seseorang ingin mati?

Aku rasa, saat dia merasa tak satu orang pun di dunia ini yang ada untuknya, menemaninya. Dia kesepian dan membutuhkan seseorang, tapi tak ada satu pun yang mempedulikannya.

Kesepian itu mematikan. Kau bisa melihat seseorang tertawa dan seolah tak terjadi apa-apa. Tapi, kau tak pernah benar-benar tahu apa yang sebenarnya dia rasa.

Ada kalanya aku pengin menghilang dari muka bumi. Menghilang untuk rasa-rasa sakit yang kuterima, untuk setiap luka, dan barang setetes air mata. Menghilang untuk disadari, menghilang dianggap keberadaannya.

Tapi, bagaimana bisa merasa kehilangan, kalau kehadiranmu saja tak dianggap ada?

Tolong jangan ajari aku doa dan meminta kepada Tuhan, karena sebelum kau beritahu pun aku sudah melakukannya. Tapi kenapa aku masih tetap tak merasa apa-apa? Aku kesulitan mengontrol emosiku yang kadang marah-marah tidak jelas, kadang datar, dan bahkan kadang tidak bersuara sama sekali seharian penuh. Kadang aku tertawa keras dan diakhiri dengan tangis.

Pernah saat aku tak melakukan apapun seharian, hanya tidur dan makan, ketika bangun badanku justru terasa berat. Aku berdiam sejenak mengumpulkan tenaga, tapi malah semakin lelah.

Aku tatap langit-langit kamarku. Aku yakin tak merasa sedih, tapi tak juga merasa bahagia, hanya merasa hampa. Kepalaku berat, dadaku sangat sesak, aku ingin menangis tapi tak satu tetes air mata pun yang jatuh. Aku pukul-pukul dadaku, berharap sesaknya berkurang meski percuma.

Aku merasa gila.

“Wah, udah nggak waras ni aku,” batinku.

Lagi dan lagi, aku ingin menghilang dari muka bumi.

Aku mulai sadar semua itu hanya sekadar keinginan setelah Leyon, kucingku datang ke pangkuanku. Dia berjalan dengan lunglai dan mata yang tampak berat. Sedikit mengeong dan menginjak badanku. Saat itu juga air mataku jatuh. Aku meraung sejadi-jadinya. Aku peluk Leyon yang kebingungan. Menangis.

“Setidaknya aku tidak boleh menghilang, supaya Leyon ada yang kasih makan,” pikirku.

Aku mulai melakukan kegiatan produktif. Menghilangkan semua pikiran negatif. Mengembangkan minatku pada bidang seni rupa, menyibukan diri dengan membantu orang tua, membaca buku yang kutelantarkan sejak lama. Apapun. Supaya aku merasa baik-baik saja.

Sekarang aku sedang pada fase mulai menerima. Menikmati semua sakit, hampa atau sedih yang aku rasa. Saat ingin menangis, aku akan menagis.

Keinginan untuk menghilang, tentu masih ada. Tapi setidaknya, aku harus bertahan.

Aku bertahan demi semangkok es krim vanila kesukaanku, demi dua kucing kesayanganku, demi Papua yang ingin aku kunjungi, demi semangkok Indomie tengah malam, demi apapun. Aku akan menjadikan alasan sekecil apapun bagiku untuk bertahan.

Kalau ditanya, apakah aku bahagia sekarang, aku tak yakin bisa menjawab, “Tentu aku bahagia!”

Aku punya teman untuk berbagi cerita apapun yang kumau, punya keluarga yang kadang sedikit menjengkelkan, tapi selalu ada untukku, punya cukup uang untuk beli apa yang aku inginkan.

Tapi kalau ditanya apa aku bahagia? Entahlah, aku tak yakin bisa menjawabnya.

Sepertinya pertanyaannya harus diganti dengan, “Apakah kau bersyukur atas hidupmu?”

Tentu aku dengan yakin akan menjawab, “Ya, aku sangat bersyukur dengan kehidupan yang aku punya.”

Meski kadang, rasa syukur belum tentu berbuah kebahagiaan. Namun setidaknya saat ini itu yang aku rasakan.

Baca juga tulisan kontemplasi lainnya di rubrik Curhat

Gadis biasa di antara perempuan lain yang ingin bahagia. Pencapaian terbesar hanya membesarkan dua ekor kucing kampung. Orang Padang Panjang yang ingin segera ke Papua dan hilang selamanya.

Bagikan Tulisan Ini

2 Comments

  1. Sangat menyentuh. Persis seperti yang aku rasakan.
    Ternyata aku hanya kurang bersyykur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mungkin Kamu Tertarik