Balap Liar, Masalah yang Tidak Pernah Mampu Diatasi Sejak Dulu

Balap liar di Perawang pada sore hari akhir pekan

Dalam balapan liar, hanya ada satu aturan: tidak ada aturan. Semua orang yang merasa tertantang, boleh menantang siapa pun. Demi taruhan, maupun sekadar bersenang-senang.

BINGUNGBACA – Baru sekitar pukul sepuluh malam, Ibu Kota Kecamatan Tualang itu mulai sepi. Aktivitas sedikit demi sedikit dikurangi. Orang-orang pulang ke rumah masing-masing, kecuali ribuan buruh pabrik kertas terbesar se-Asia Tenggara yang harus kerja pukul sebelas malam, berganti shift dengan rekan mereka yang telah bekerja sejak pukul tiga sore.

Waktu itu malam Minggu, 24 Oktober 2020. Pukul 22.09 WIB, mobil patroli aparat kepolisian keluar dari markas. Tujuannya jelas: Jalan Raya KM 6 Perawang, tepat di depan Hotel Istana 7. Di sana, ada puluhan remaja yang rutin membunuh malam Minggu dengan cara yang tidak biasa dilakukan pemuda seusia mereka, seperti jalan-jalan dengan pacar atau kongko bersama teman di kafe. Remaja-remaja itu, melakukan aktivitas ekstrem yang dinilai mengganggu banyak orang: balap liar.

Seperti sudah saling terkoneksi, kira-kira pukul setengah sebelas, remaja-remaja itu bermunculan dari balik gang-gang di sepanjang Jalan KM 6 mengendarai berbagai jenis sepeda motor berkanlpot racing. Di depan ruko yang tutup, mereka berkumpul, membuat kelompok-kelompok. Mereka tampaknya memang menunggu tontonan gratis aksi para pembalap liar.

Polisi belum pergi, mobil patrolinya masih parkir di depan Hotel Istana 7 ketika seorang pemuda bermotor biru mulai memancing suasana. Ia turun ke jalanan.

“Gaslah. Teslah!” sorak temannya dari jauh.

Dengan motor yang rata-rata tidak memakai kap lengkap alias trondol, para pembalap itu mulai mengangkat-angkat roda depan dan menarik panjang tali gas agar knalpot mengeluarkan bunyi yang sangat keras.

Pukul 22.39 WIB, polisi pergi. Mungkin kembali ke markas. Padahal, sinyal pancingan, barangkali juga semacam kode atau alarm dari knalpot-knalpot racing itu sudah diperdengarkan. Pertanda akan ada balapan tak lama lagi.

Salah satu pembalap mengangkat tangan, memanggil teman-temannya di pinggir jalan. “Ayo!” teriaknya. Beberapa pembalap pun turun ke “gelanggang”. Kebut-kebutan dimulai.

Setidaknya, ada belasan pembalap yang berpacu di “sirkuit” jalanan itu. Dalam balapan liar, hanya ada satu aturan: tidak ada aturan. Semua orang yang merasa tertantang, boleh menantang siapa pun. Demi taruhan, maupun sekadar bersenang-senang.

“Di sini jarang ada taruhan, Bang. Kalau taruhan seringnya di Jalan Pemda. Di sini biasanya cuma untuk hiburan aja,” ungkap Lufman (bukan nama sebenarnya), pembalap liar yang baru saja lulus SMA pada 2020 lalu itu.

“Sirkuit” di depan Hotel Istana 7 bukanlah cerita baru. Sudah belasan tahun jalan lurus bermedian satu sepanjang kurang lebih 300 meter itu dijadikan arena balap. “Sirkuit” itu, menjadi saksi bisu tumbuh kembang para remaja Kota Industri, Perawang, Riau.

“Kalau habis minyak pulang sendiri-sendiri nanti orang ini, Bang,” kata Lufman.

Lufman sudah melakukan aksinya sejak SMA kelas 2 ketika pertama kali dibelikan Kawasaki KLX oleh orang tuanya. Lufman berkali-kali kecelakaan, berkali-kali dimaki dan dimarahi orang tuanya, berkali-kali diberi kepercayaan, dan berkali-kali pula ia melanggarnya. Lufman mengaku tidak kapok. Ia akan terus balapan liar sampai entah kapan.

Saat ditemui, KLX kesayangan Lufman sedang di bengkel. Motor itu rusak parah akibat dihantam pembalap lain dari belakang. Alhasil, malam itu ia terpaksa menyalurkan hasratnya menggunakan motor metik merah marun milik ibunya.

“Aku enggak balap, Bang, waktu itu. Aku mau pulang. Tapi ditabrak sama yang lagi balap. Hancur motor aku. Tapi motor dia hancur juga,” jelasnya bersemangat.

Di kota kecil penuh pabrik itu, lokasi balap liar tidak hanya satu. Kini, setidaknya ada empat tempat yang kerap dijadikan sirkuit: Jalan Pemda (Maredan), jalan menuju Terminal Tuah Tualang, Jalan Baru di KM 3, dan tentu saja, di depan Hotel Istana 7. Meskipun dulu balapan juga dilakukan di jalan dekat SMA 1 Tualang, Jalan Raya KM 2 arah ke Feri, Jalan ke gerbang PT IKPP arah Bunut, dekat SMK N 1, dan lain-lain.

Sebelum malam kami bertemu Lufman di jalan depan Hotel Istana 7, kami juga sudah bertemu dengannya di jalan menuju Terminal Tuah Tualang. Saat itu, ada puluhan pembalap yang bertarung adu kencang. Namun, balapan terhenti sebab di ujung jalan, tampak masyarakat mengacung-acungkan parang dan kayu balok.

“Warga, Bang. Bawa-bawa parang. Marah mereka gara-gara balap sampai ke atas (masuk ke perumahan warga),” kata Lufman usai terpaksa memutar balik motornya dan menghampiri kami.

Di jalan menuju Terminal Tuah Tualang, balapan biasa dilakukan setiap sore. Namun, akhir pekan diakui semakin seru sebab jumlah penonton yang datang bisa berkali-kali lipat.

“Yang ramai kali Minggu, Bang. Sepanjang jalan ini yang nonton. Sampai ke ujung,” paparnya sambil menunjuk-nunjuk.

Dari pantauan kami, penonton balap liar di jalan menuju Terminal Tuah Tualang tidak hanya kalangan pembalap, tapi juga masyarakat yang sengaja datang, sedang berolahraga, bersepeda, atau tak sengaja melintas.

Kendati meresahkan, balapan liar di Perawang sejatinya sudah semakin berkurang jumlahnya. Hal ini diakui mantan pembalap liar Perawang era 2005 hingga 2015, Rido.

Rido berhenti balap liar sejak ia memutuskan bekerja untuk perusahaan tisu di Perawang pada 2010. Akan tetapi, hingga kini ia tetap mengamati perkembangan balap liar di kota tempat ia dibesarkan itu. Jiwa pemotor telah mendarah daging dalam tubuhnya. Rido bahkan mengaku sengaja tidak terlalu sering berkumpul bersama teman-teman lamanya ketika balap, sebab ia merasa hal itu membantu membendung jiwa trek-trekannya.

“Sekarang ya masih banyak (balapan liar). Tapi enggak sebanyak dulu. Ya gimana, tempatnya (menyalurkan hobi balap) enggak ada. Dulu pernah dikasih (arena balap) di terminal lama, itu pun kecil cuma. Apa itu segitu? Setelah itu enggak lama diusir juga akhirnya,” jelas bapak satu anak ini.

Balap liar di Perawang tidak hanya diisi oleh pembalap-pembalap tempatan, tapi juga luar daerah, misalnya Pekanbaru. Baik Lufman maupun Rido, mengakui bahwa balap liar Perawang cukup punya nama di luar daerah. Sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi pembalap luar untuk merasakan sensasinya.

Aksi balap liar di Perawang bukan tidak pernah ditindak. Aparat kepolisian dan masyarakat sudah sejak belasan tahun lalu kewalahan menghadapi pembalap-pembalap ini. Rido menceritakan, pada 2011 ada sekitar 200 orang terkepung polisi saat sedang balapan di jalan menuju gerbang Bunut PT IKPP. Dari arah Bunut, polisi telah siaga menangkap para pembalap. Sedangkan dari arah Jalan Indah Kasih, ternyata ada polisi yang berjaga.

200-an orang itu panik. Semua sepakat menerobos pagar betis yang dibuat polisi dari arah Indah Kasih. Padahal, ratusan orang tersebut tak banyak yang saling kenal satu sama lain.

“Di atas (arah Bunut) ada polisi. Kami waktu itu cuek aja. Kami pikir bisa lari ke bawah (Jalan Indah Kasih). Masih balap aja terus ini. Rupanya di bawah ditutup juga. Enggak ada lagi. Sepakatlah nerobos,” ujar Rido sambil berkali-kali menghisap rokok elektriknya.

Beberapa orang pada waktu itu tertangkap, lebih banyak yang lolos. Ada juga yang jatuh akibat bersenggolan dengan motor lain.

Kejar-kejaran dengan polisi, kecelakaan, dimarahi orang tua, bukan lagi hal spesial bagi pembalap liar. Lufman berkali-kali didatangi orang tuanya ketika tengah balap. Rido berkali-kali kecelakaan yang menyebabkan banyak bekas luka di sekujur tubuhnya. Soal kerusakan motor yang pernah dialami, sudah tak terhitung lagi.

“Ini, ini, ini lagi. Di muka untung hilang. Ini. Jadi cacat seumur hidup,” kata Rido menunjukkan bekas luka di tangan dan kakinya.

“Waktu itu malam tahun baru, Bang. Datang orang tua aku ke Istana 7 waktu aku lagi balap. Habislah aku diceramahi,” ucap Lufman.

Balap liar di Perawang sudah ada sejak awal 2000-an. Hal ini dikonfirmasi sekretaris club motor resmi yang terdaftar di IMI Riau yang bermarkas di Perawang, Protor-C, Jerry Hayani.

Pria yang kerap disapa Jenny ini menjelaskan, balap liar di daerah, khususnya di Perawang muncul akibat mulai seringnya diadakan even-even balap di Pekanbaru pada waktu itu.

“Aku ingat kali dulu ke Pekanbaru awal 2000-an buat beli album baru Slipknot, IOWA. Di Pekanbaru ada even balap. Di Jalan Cut Nyak Dien. Itu Pekanbaru lagi musim-musimnya balap. Makanya berimbas ke daerah-daerah, termasuk Perawang,” papar Jenny.

Namun, sebagai club motor resmi, Protor-C berlepas diri dari segala hiruk-pikuk balap liar di Perawang. Kata Jenny, Protor-C menjalankan tanggung jawab sosialnya sebagai club resmi dengan cara pembinaan terhadap anak Perawang yang ingin serius jadi pembalap. Menurutnya, balap adalah olahraga kelas atas. Selain kemauan, fisik, mental, dan disiplin latihan, ongkos memang harus dipersiapkan dengan matang.

“Pertama kali Porda di Riau yang ada balapnya, itu Kabupaten Siak. Kami yang adakan. Kami jaring sekitar 36 pembalap dari Perawang. Itu salah satu bentuk tanggung jawab kami. Jadi sekarang pembalap-pembalap liar ini kalau mau serius, datanglah ke kami,” jelasnya.

Sejak mulai ikut balap liar, Lufman memang hanya sekadar berniat menghibur diri. Namun, ia tak menyangkal punya keinginan menjadi pembalap profesional. Akan tetapi, seperti kata Jenny, balap adalah olah raga kelas atas. Butuh biaya yang tidak sedikit untuk bisa menjadi pembalap sukses. Untuk membeli wearpack balap saja, sudah menghabiskan jutaan rupiah. Belum lagi merombak motor, spare part, dan lain sebagainya.

Rido juga mengaku dulu didukung orang tuanya menyalurkan bakat dan hobi di dunia balap, meskipun liar. Tapi, sebatas dukungan moril saja tidaklah cukup.

“Dulu pas lagi main, datang bapak pakai mobil. Ditanya, bisa kau kayak gitu (Balap dan freestyle motor)? Aku bilang bisa. Terus kata bapak, kalau bisa yaudah. Gitu. Mereka dukung. Cuma dana enggak dukung,” ungkap Rido.

Menurut Jenny, satu-satunya cara menghentikan aktivitas balap liar adalah sinergitas antara kepolisian dan masyarakat. Selain itu, masyarakat juga diharap tidak lagi menjadikan balap liar sebagai tontonan. Sebab, dengan ditonton, keinginan unjuk gigi para pembalap liar jadi terpuaskan.

Pendapat Jenny ditentang Rido dan Lufman. Menurut dua pembalap ini, untuk mengurangi intensitas balap liar, Perawang mesti punya sirkuit. Rido mengusulkan sirkuit dibuat di Gor Tualang. Hanya, mesti diorganisir dengan baik agar teratur dan kondusif.

“Di Medan aku pernah lihat. Bayar. Mau balap bayar, mau nonton bayar. Jadi teratur dia,” kata Rido.

Makin malam, suara knalpot racing dari pembalap di depan Hotel Istana 7 makin memekakkan telinga. Para pembalap itu berteriak-teriak memanggil pembalap lain agar ikut meramaikan jalanan. Masyarakat yang melintas, terpaksa mengalah, atau bergeser ke pinggir jalan agar terhindar dari kecelakaan.

Salah satu pemilik kedai di pinggir jalan depan Hotel Istana 7, Zulfahmi mengaku sangat resah dengan keberadaan pembalap liar tersebut. Apalagi, mereka selau beraksi di jam-jam tidur. Ia juga mengaku takut menegur sebab khawatir barang dagangannya diobrak-abrik para pembalap yang tersinggung, meski hal ini belum pernah terjadi.

“Terganggulah. Orang belanja aja enggak ada yang datang jadinya. Pengin kali kita enggak ada balap-balap ini. Isinya anak ABG semua. Nanti kita tegur, kita dikeroyoknya,” kata Zulfahmi.

Namun, tanggapan Zulfahmi berbanding terbalik dengan Rahmat Sal Fitrah, mahasiswa Pekanbaru yang setiap pulang ke Perawang selalu menyempatkan diri menonton balap liar di depan Istana 7. Menurutnya, Perawang tidak punya hiburan lain yang bisa ditonton secara beramai-ramai selain balap liar.

“Kalau aku enggak dekat sini tinggal. Jadi enggak merasa terganggu. Cuma hampir tiap malam minggu ke sini, ya karena seru aja. Mereka balap enggak pakai aturan, asal-asal. Terus kemungkinan terjadi kecelakaannya tinggi. Mantap juga,” kata Fitrah dengan mata yang terus fokus mengikuti laju motor.

Meski ilegal dan meresahkan, balap liar di Perawang bukan sama sekali tidak membawa nilai positif. Meski tak pernah juara, tapi pembalap-pembalap Perawang sering lolos seleksi di kejuaraan motor di luar daerah. Beberapa nama yang selalu disebut-sebut narasumber kami di antaranya Febri Riau, Dedek, Rido, Reynold, Bowo, dan sederet nama lainnya.

Balap liar di Perawang memang tidak selalu ramai, tapi selalu ada. Bila tidak ditangani dengan bijak dan benar, pembalap-pembalap tersebut akan terus ada dan berlipat ganda, menurunkan ide dan nilai-nilainya kepada adik-adiknya yang kini mungkin masih duduk di bangku sekolah dasar.

Oleh: M Ihsan Yurin

*Feature ini pertama kali terbit di Riaumandiri.co dengan beberapa perubahan.

Bagikan Tulisan Ini

2 Comments

  1. Gir Ra minggir tabrak.
    Terakhir kali balap waktu kelas 2 SMK
    Dan berhasil menabrak trotoar tepi jalan.
    Sungguh pengalaman yang berharga.

    1. Tapi kalau enggak menabrak, mungkin sampai sekarang tidak berhenti balapan ya mas? 😂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mungkin Kamu Tertarik