Cewe Marah itu Manis

BINGUNGBACA – Ini tahun kelima saya kuliah. Di umur dan tampang ini, harusnya saya sudah semester empat belas. Mestinya lagi sibuk mikirin jodoh yang akan dibawa saat wisuda. Atau cari-cari
kegiatan biar ada alasan, “belum sempet nggarap skripsi, hehehe…” Tapi apa daya, takdir membawa cerita berbeda.

Selepas lulus SMK, saya kudu kerja cari biaya demi kuliah. Setelah kerja, saya kelabakan kuliah gini demi kerja lagi. Lha, urip ki mung dolanan. Siklus muter-muter ini kan memang harus dilewati, sekadar untuk ketawa dan mati bahagia. Persis keinginan orang-orang untuk bisa mati pagi-pagi, ditemani istri dan secangkir kopi sambil lihat anak-anak lari haha-hihi di taman belakang rumah nan asri.

Sekitar lima tahun belakangan, saya harus hidup indekos. Jarak rumah orang tua ke kampus
sekitar tujuh puluh kilometer. Agak boros rasanya kalau harus bolak-balik tiap hari. Belum lagi harga bensin yang semakin seksi, mengharuskan saya menyewa sebuah rumah untuk tempat berlindung dari teriknya mentari dan dinginnya guyuran hujan.

Saya dan empat orang teman lainnya, sepakat menyewa sebuah rumah bulat tapi petak di dekat area kampus untuk menghemat ongkos. Ukuran rumahnya lumayan besar dan warna kamarnya merah jambu. Cukuplah untuk anak-anak perantauan dengan leher berkalung daki seperti kami.

Tapi, namanya indekos, kepala saya tetap saja menggeleng tiba-tiba ketika hal-hal aneh saya
temukan dari teman dan bahkan saya sendiri. Perhatikanlah beberapa contoh berikut ini.

  1. Galon air minum yang tidak pernah ditutup

Untuk yang baca tulisan ini, ke depannya cobalah untuk tidak melakukan ini lagi. Jangan pernah biarkan galon air minum menganga tanpa tutup. Kalau air itu akan habis dalam jangka pendek, mungkin tidak masalah. Lha, ini habisnya berhari-hari, kok dibiarkan terbuka. Kamu tahu, enggak, di bumi ini ada jutaan nyamuk yang siap jadikan air galonmu sebagai lokasi usaha prostitusinya. Sialnya, mereka tak pernah pakai alat kontrasepsi dan tentu saja, seketika hamil lalu melahirkan. Dan kamu dengan cengengesan, merasa biasa saja menelan bayi-bayi mereka? Jahannam!

  1. Begitu tega terhadap siapa saja

Domino adalah permainan kedua paling mematikan setelah Mobile Legends, menurut saya. Bagi para pecandu domino, waktu malam yang dua belas jam itu terasa tiada guna. Mungkin, kalau mereka mampu menciptakan teknologi yang lebih aneh dari tongkat penggaruk punggung, mereka akan rencanakan penciptaan mesin pengundur malam. Minimal sampai
mereka merasa klimaks bermain domino.

Ini sungguh sifat manusia yang sangat buruk. Tahukah Anda, bahwa semua makhluk di muka bumi ini, bernyawa ataupun tidak, sejatinya bernyawa. Tidak percaya? Sudah kuduga, hmm.

Tapi, ini serius. Bahkan bebatuan saja bertasbih, bukan? Tidakkah kalian berpikir, Wahai
Dominoers? Meja yang kalian tepak-tepuk itu merasa sakit dan lelah?

Di indekos saya, ada meja panjang dengan ukuran kurang lebih delapan puluh sentimeter,
lebar empat puluh sentimeter, dan tinggi juga empat puluh sentimeter. Para dominoers akan duduk di empat sisi meja tersebut. Saling berhadapan dengan tatapan menyeramkan. Merasa bahwa harga diri harus terselamatkan dari ancaman kekalahan tiga orang dajal. Dan mereka akan semena-mena memukul meja, tentu saja.

Kalau saja mereka mikir, bahwa pukulan yang mereka lakukan pada bagian panjang meja, yang kita anggap saja pungung dan pinggang meja, akan membuat suara “arrgghh”, dan pada bagian lebar meja, akan menimbulkan desahan “ahhhh ahhh”, pasti mereka akan segera berhenti melakukan tindakan hardcore itu.

Tidakkah kalian iba dengan itu, saudaraku? Sungguh, biadab sudah kalian semua!

  1. Matematika masuk kuliah pagi

Sudah barang tentu, pagi adalah waktu terbaik untuk tidur bagi mahasiswa seperti kami. Padahal kalau dipikir, tidur malam sudah lumayan cepat, jam sepuluh kadang kala. Tapi entah kenapa, pagi seperti sate madura yang melenggang bersamaan dengan asap penggoda. Dan kami hampir selalu kalah melawan nafsu berahi yang dipancing oleh pagi.

Namun, biasanya mahasiswa indekos punya hitung-hitungan matang bila ada jam kuliah pagi yang harus didahulukan ketimbang molor. Misalnya saya. Saya ada mata kuliah pada jam enam pagi, senin dan kamis.

Biasanya, saya akan bangun tepat saat azan berkumandang. Dengan perkiraan azan lima sampai tujuh menit, kemudian ada jeda azan dan komat sekitar lima belas menit, saya masih punya kesempatan tidur dua puluh sampai dua puluh dua menit. Kemudian saya bangun. Berlari menuju toilet, buang air kecil dan wudu dengan estimasi waktu satu menit. Ganti baju dan berjalan menuju masjid satu setengah menit. Sampai di masjid dan bergabung dalam saf salat tepat sebelum rukuk. Salat akan berlangsung kurang lebih lima belas menit atau paling lama jam setengah enam, saya sudah berada di kasur lagi. Saya akan kembali tidur.

Sebelum jam enam, harus disisakan sepuluh menit untuk siap-siap dan estimasi perjalanan ke kampus. Acap kali, saya tiba di kelas di penghujung batas keterlambatan.

Inilah makna efisiensi sesungguhnya. Berarti, dari jam setengah enam, saya masih punya kesempatan tidur dua puluh menit lagi.

Begitulah seterusnya perhitungan matematis terstrategis yang hampir semua teman indekos saya laksanakan setiap hari. Berhasil. Tapi sering kali gagal.

  1. Ribut saat saya menulis

Saya ini penulis amatiran, punya daya konsentrasi rendah, selera humor pas-pasan, dan sedang menulis. Tapi, teman-teman indekos lain malah tidak mengerti. Saya ini butuh suasana tenang. Eh, malah pada sibuk carut-marutan pasal kalah perang di game, gitar-gitaran lagu dangdut koplo jadul, ngeributin jenong si Jerico, ikan lohan yang baru saja datang beberapa jam lalu dan hampir tiap jam katanya jenongnya makin besar, dan lainnya yang makin hari makin aneh.

Dunia ini butuh tertawa. Butuh sedikit hiburan walau kesannya dipaksa. Bayangkan kalau tidak ada penulis amatiran seperti saya. Kamu mau apa malam ini? Detik ketika kamu baca tulisan ini, kamu mau baca apa lagi selain ini? Cerita dewasa? Mbok tobat! Cerita dewasa itu fiktif belaka. Kesamaan nama dan tokoh hanya kebetulan. Walaupun di sana tertera “ini kisah pribadi saya beberapa tahun yang lalu”. Saya bisa nulisinnya buat kamu. Mau?

Bagikan Tulisan Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mungkin Kamu Tertarik