BINGUNGBACA.COM – Benar. Buku tidak boleh dan tidak bisa dibandingkan dengan film. Buku itu produk berbasis teks, sedangkan film basisnya audio visual. Membandingkan buku dengan film, bukan saja tidak apple to apple seperti membandingkan ponsel yang tidak flagship dengan yang flagship, tapi lebih seperti membandingkan ponsel dengan personal computer (PC). Stupid, bukan?

Namun, orang-orang yang kecewa karena ekspektasinya terhadap film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas yang diadaptasi dari novel berjudul sama persis dan memenangkan Golden Leopard, serta diputar di banyak negara, apakah sebuah kebodohan layaknya membandingkan buku dengan film?

Film adaptasi buku, dengan gamblang mempromosikan bahwa film itu adalah adaptasi dari sebuah buku. Maka, sadar tak sadar pula orang-orang di belakangnya mengatakan, “Film kami akan mengambil seluruh atau sebagian dari cerita-cerita yang ada di dalam buku.” Oleh karenanya, pembaca buku tentu saja berhak berekspektasi. Membayangkan akan seindah apa film yang inti ceritanya berasal dari sebuah buku.

Ketika film itu akhirnya tayang dan ekspektasi pembaca buku ataupun novel tidak terpenuhi, otomatis muncul ekspresi. Ketika filmnya jelek, sumpah serapah yang terucap. Ketika filmnya bagus, pujian yang mengalir.

Perkaranya, apakah pembaca novel yang kecewa terhadap film yang tidak sesuai ekspektasinya sedang bertindak bodoh? Tidak juga. Karena pada dasarnya mereka mengomentari film sebagai film. Bukan film sebagai buku. Hanya memang, pembaca-pembaca ini punya latar belakang pengalaman membaca yang mereka tuangkan dalam ekspektasi, dalam harapannya kepada sebuah film. Ketika filmnya jelek dan tidak sesuai bayangannya, ya kecewa, ya marah. Biasa saja.

Pada tulisan saya sebelumnya berjudul Glorifikasi Kalian untuk Film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas Itu Kayak Taik! saya sedang membicarakan film. Baik itu akting, setting, pemain, pengambilan gambar, pemilihan pemotongan adegan, dan tentu saja ekspektasi saya kepada film itu sebagai pembaca novel Eka Kurniawan.

Akan menjadi kebodohan, ketika pembaca novel bilang bukunya lebih bagus daripada filmnya. Itu jelas tidak apple to apple. Karena film dan buku adalah dua karya dengan medium berbeda, basis berbeda. Macam mana pula bisa dibandingkan? Tapi kalau mereka bilang, “Nyesal aku nonton. Ekspektasiku tidak sampai, tidak tuntas. Aku enggak nyangka cerita filmnya berbeda jauh dari cerita yang ada di buku,” itu bukan kebodohan. Hanya ungkapan kekecewaan yang, pada dasarnya tetaplah mengomentari film sebagai film, bukan buku.

Teman saya yang lebih banyak pengalaman bilang, film Life of Pie kalau dirata-ratakan pada sebuah nilai, bisa lebih baik dibanding bukunya. Ingat, apabila tataran nilainya disejajarkan terlebih dahulu. Dia juga bilang, dalam film Harry Potter, sutradara mampu membuat adegan kematian Lord Voldemort lebih menegangkan daripada adegan di dalam buku. “Di bukunya payah,” kata dia.

Apakah penilaian itu salah? Tentu saja tidak. Kecuali teman saya tadi bilang buku Harry Potter lebih bagus daripada filmnya, baru itu kesalahan. Kebodohan. Dan apabila dituliskannya dalam sebuah blog dan membagikannya, menjadi kebodohan yang diumbar-umbar. Sahlah ia menjadi seorang badut.

“Jadi begini, masalah kita membandingkan film dengan buku, enggak boleh. Film dengan film, buku dengan buku. Itu haram, enggak boleh ya. Jadi kalau kita mau bilang itu film bagus apa enggak jangan tergantung kepada bukunya. Bukunya bisa lebih bagus, bisa lebih laris tetapi bukan itu masalahnya. Dengan film lain dia bagus apa enggak? Buku saya juga begitu, kalau filmnya jelek apa buku saya jadi jelek? Kan enggak,” tutur Sapardi Djoko Damono, sastrawan yang karyanya berjudul Hujan di Bulan Juni sempat dilirik untuk ditayangkan di layar lebar.

Novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas itu menurut saya gila. Bagusnya minta ampun. Di luar nalar dan keren luar biasa. Saya pribadi memberinya nilai 8. Adapun filmnya yang digarap sutradara bernama Edwin, tidak. Menurut saya tidak sebagus itu hingga perlu dipuja dan dibela. Dialog kaku, akting masih kelihatan akting, dan lainnya. Saya cuma bisa memberinya nilai 6,5. Itu pendapat saya, selera saya.

Jadi, tenang ya, kawan-kawan yang kecewa sama film adaptasi novel. Kalian tidak bodoh kok hanya karena kecewa dengan film. Tidak. Pun ketika kalian mengumbar kekecewaan itu di media sosial. Tidak bodoh. Itu media sosial kalian, kalian bebas mengutarakan apapun. Namun, kalau tetap akan dinilai bodoh, maka kalian sama bodohnya dengan orang yang suka curhat, pengecut, dan kerap menyindir orang lain lewat status. Hehehe …

**

Untuk dua kekecewaan saya yang paling kuat terhadap film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, yakni kenapa di awal-awal film terasa terburu-buru dan adegan Ajo Kawir berhubungan seks di WC dengan Jelita sebagai alasan penisnya ereksi kembali dihilangkan, saya dapat dua kritik dari teman yang saya ceritakan di atas.

Pertama, bisa jadi Edwin memang mengejar seluruh adegan dalam novel sehingga terjadi kesan buru-buru. Apalagi film terkungkung durasi 1,5 sampai 3 jam saja. Kalau alurnya mau dibikin runut dan jelas satu per satu seperti dalam novel, mau berapa jam filmnya? Begitu kata teman saya.

Kedua, bisa jadi adegan seks Ajo Kawir dengan Jelita sengaja dihilangkan. Sebab, Jelita digambarkan sebagai perempuan gila, dekil, dan jelek. Kata teman saya, orang gila tak bisa memberi persetujuan saat berhubungan seksual. Ketika ditampilkan dalam film, maka bisa saja muncul kesan perkosaan. Karena secara teknis, Ajo Kawir berhubungan seks dengan orang yang belum tentu menyetujuinya. Maka diciptakanlah adegan lain yang mirip-mirip seperti kisah di buku. Meski menurut saya gagal.

Bagikan Tulisan Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mungkin Kamu Tertarik