Berhasil Sidang Akhir dan Tetap Gondrong Itu Bisa

BINGUNGBACA – Banyak hal yang mengejutkan di dunia ini; petir, ban meledak, sirine ambulans, alarm pukul 5 subuh, knalpot pembalap jalanan, Saipul Jamil masuk TV, kemampuan komunikasi Ketua KPI yang buruk, kenyataan bekerja di media, dan lain sebagainya, termasuk menjadi seorang sarjana.

Kalau dipikir-pikir, 4 hari yang lalu ketika dosen penguji bilang saya lulus dan sah jadi sarjana, kayaknya enggak pernah ada dalam bayangan si Ihsan saat kecil dulu.

Dengan keterbatasan segala macam, khususnya ekonomi, saya cuma punya mimpi bekerja di perusahaan dekat rumah sampai tua (kalaupun kuliah, mentok-mentok nonreguler). Eh, ndilalah arah takdir berbelok. Saya dapat kesempatan kuliah reguler di kampus Islam, dengan biaya semester yang cuma Rp400 ribu.

Waktu dengar nominal itu, ibu memeluk saya. Mungkin dia berpikir, akhirnya tembok tinggi penghalang anaknya kuliah bisa sedikit lebih pendek.

Intinya begitulah. Saya sekarang sudah sarjana, meski revisi belum digarap dan validasi belum dapat. Cerita soal bagaimana sulitnya masa kuliah, kapan-kapan saya tulis di topik berbeda. Di tulisan kali ini, saya mau bahas salah satu keterkejutan saya selain beberapa yang disebutkan pada paragraf pertama.

***

Saya suka musik metal sejak SMP. Teman-teman dekat saya tahu persis soal ini. Dan di aliran musik cadas itu, ada dua identitas yang tidak akan pernah lepas dari ingatan setiap orang: gondrong dan tato. Saya mengamini itu. Makanya, sejak SMK, saya sudah membayangkan bakal seperti apa muka campuran Minang Jawa ini kalau-kalau suatu saat memanjangkan rambut.

Selama kuliah hampir 6 tahun, setidaknya sudah 3 kali saya bolak-balik gondrong. Ditambah masa prakuliah, kayaknya sudah 5 kali.

Di kampus yang semua-semua harus Islami dalam tanda kutip sesuai tafsiran mereka, tampilan saya terlarang. Jangankan begini, pakai celana berbahan denim saja tidak diperkenankan masuk kelas dan dapat layanan administrasi (pada waktu itu). Alasannya macam-macam, mulai dari karena bahan denim disebut tidak formal, sudah aturan dari pusat, sampai keidentikan denim dengan kafir-kafir barat.

Soal gondrong, meski para nabi rambutnya panjang, alasan yang dipakai untuk melarang mirip-mirip: kayak preman, kayak perempuan, tidak rapi, dan tentu saja sudah aturan pusat.

Makanya saya sendiri kaget, ketika saya berhasil sidang akhir dengan tetap mempertahankan rambut gondrong. Hanya memang, karena saya butuh kelulusan, dan saya juga bukan tipikan orang yang hobi memulai perdebatan, saya pakai peci buat nutupin rambut. Cuma, mau ditutupin dengan cara apa pun, potongan gondrong itu tetap saja terlihat. Terbukti saat salah satu dosen penguji masuk ruangan sidang, dia mengejek saya.

“Wih, keren rambutnya,” katanya.

Itu bukti betapa pun ditutupinya, kegondrongan tetap akan terlihat. Tapi bukan itu poinnya. Poinnya adalah saya berusaha tidak menentang keadaan. Saya berusaha sopan di depan mereka. Saya berusaha menyesuaikan dengan aturan yang ada. Jadi, barangkali itu yang membuat mereka enggan mempermasalahkan penampilan saya.

Padahal, saya sudah mempersiapkan diri kalau-kalau ketika sidang terjadi perdebatan soal rambut saya. Setidaknya saya akan bilang begini:

“Dalam aturan, saya dilarang rambut panjang, betul? Nah, sekarang, apakah saya terlihat berambut panjang? Tidak, kan? Perkara kenyataan seberapa panjang rambut di dalam peci ini, biarlah saya dan Tuhan yang tahu. Tapi, dalam tampilan seperti ini, saya dengan yakin menjawab tak ada satu pun aturan kampus yang dilanggar.”

“Analoginya begini. Maaf, kalau misal, saya ternyata ada tato di selangkangan, apakah bapak tahu? Dan ketika tahu pun, apa bapak akan iseng memaksa saya memperlihatkan kenyataannya? Tentu tidak, kan? Sekali lagi, biarlah hakekat dan realita betuk tubuh saya di dalam pakaian ini saya saja yang tahu dengan Tuhan.”

Atau, kalau perdebatan makin alot dan absurd, saya akan permisi keluar dan mencari tukang cukur. Ya, saya terpaksa potong rambut kalau harga yang harus dibayar adalah penundaan ujian kelulusan.

Teguh prinsip boleh, tapi gondrong menurut saya bukanlah sebuah prinsip. Ia bisa tumbuh lagi ketika dipotong. Dan saya merasa akan sangat tolol jika mempertentangkan sesuatu yang bisa datang sendiri, dengan kesempatan yang bisa saja datang satu kali seumur hidup.

Tapi, ya begitulah. Ketakutan-ketakutan itu tidak terjadi. Saya selamat sentosa, meski pascaujian rambut saya jadi apek kayak rambut Linda, kekasih saya yang seharian memakai jilbab.

Saya kaget dan bangga pada diri sendiri. Sebab, sejauh pengetahuan saya, yang berhasil sidang akhir dengan rambut gondrong di kampus saya cuma Muhammad Royhan Okronald, mahasiswa managemen sekaligus bassis salah satu band metal di Pekanbaru. Itu pun sudah bertahun-tahun lalu kejadiannya. Jadi, saya bisa sangat yakin (keyakinan bukan kenyataan, bisa saja salah), dalam jangka 5 tahun belakangan, saya satu-satunya yang mampu gondrong sampai lulus.

Jadi, kalau gelar king of gondrong ada, harusnya saya yang pegang tahta itu sekarang. Sampai ada mahasiswa yang berhasil seperti saya dan Bang Roy, baru tahta tersebut berpindah tangan.

Admit me, I am your king. I am the king.

Selamat atas kelulusanku!

Bagikan Tulisan Ini

3 Comments

  1. Hahahaha
    Ada2 aja lu gan. Untung lancar
    Mantap lah

    #sen3ward

  2. […] pemangku tahta King of Gondrong, saya merasa punya kewajiban moral untuk menjelaskannya. Bukan hanya kepada teman tadi, tapi […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mungkin Kamu Tertarik