Bongkar Kebiadaban Merpati, si Tukang Selingkuh Berhati Batu

merpati

Berhari-hari setelah Biru pergi, leher Julius masih saja tampak coklat. Sungguh mengerikan. Tasha bermesraan dengan Julius padahal darah kering anaknya belum hilang. Sedangkan Arnold, tengah sibuk membangun sarang bersama pasangan barunya.

BINGUNGBACA – Ada yang mau nikah dalam waktu dekat, memanfaatkan situasi pandemi agar keluarga tak menuntut resepsi gede-gedean? Kalau ada, apakah di undangan dan segala pernak-pernik pernikahanmu ada gambar merpati putihnya? Kalau ada–dan kalau sempat–mending gambar merpatinya diganti saja. Merpati tidak sesuci dan seromantis yang selama ini dikisahkan. Merpati tak pantas jadi simbol cinta dan kesetiaan kalian.

Dua tahun belakangan saya memelihara merpati. Awalnya cuma dikasih lima ekor sama teman. Setelah berkembang biak, jumlahnya pernah sampai dua puluhan lebih. Tapi sekarang tinggal empat. Beberapa tewas jadi santap malam musang, sisanya diadopsi orang.

Setahu saya, sama seperti kebanyakan orang, merpati itu setia pada pasangannya. Antiselingkuh, antipoligami. Tapi kejadian malam itu benar-benar mengejutkan. Membuat kepercayaan saya terhadap kewibawaan merpati di seluruh dunia, di seluruh undangan pernikahan dan acara keagamaan, runtuh seketika. Merpati jadi terkesan tidak bermoral.

Ilustrasinya begini. Sepasang merpati saya bernama Robert dan Jane tengah memadu kasih. Mereka akan bermesraan di mana saja asal situasi dan kondisi memungkinkan. Pokoknya, mereka couple goals. Seakan-akan keduanya bakal selalu bersama sampai suatu saat bersatu dalam peti mati.

Robert dan Jane sibuk membangun rumah. Menyiapkan sarang untuk keluarga kecilnya. Agar ketika buah hati mereka menetas, suasana hangat selalu menyelimuti.

Setelah Jane bertelur, proses inkubasi akan dilakukan bergantian. Setahu saya, Jane bertugas malam, sedangkan Robert siang. Mereka harus disiplin membagi tugas agar telurnya tidak dingin yang akan membuat dua buah hati mereka mati (biasanya, jumlah telur merpati hanya dua).

Sebagai pemilik peternakan, saya berkeliling hampir tiap malam. Saya harus memastikan kondisi tetap aman dan damai. Apalagi, musuh merpati dan telurnya bukan hanya kucing, tapi juga musang dan monyet.

Namun, betapa terkejutnya saya, dengan mata kepala sendiri saya saksikan Robert tidak tidur bersama Jane. Ia menginap di rumah tetangganya. Tidur bersama Illiana.

Saya lihat Jane tengah tertidur pulas sambil menjaga telur-telurnya. Entahlah apa ia tahu suaminya sedang berselingkuh dengan tetangganya sendiri.

Paginya, batin saya masih menolak kejadian tadi malam. Saya tak percaya simbol kesetiaan macam merpati sanggup melakukan kekejian, selingkuh. Akhirnya saya cek lagi sarang-sarang mereka.

Benar saja, ternyata bukan hanya Jane, Illiana pun telah bertelur. Berarti Robert berselingkuh bukan baru tadi malam. Jadi selama ini, di balik kemesraan, keromantisan, kesucian, keharmonisan Robert dan Jane, tersimpan rahasia besar. Tersimpan pengkhianatan.

Sejak saat itu, saya tidak lagi percaya teori monogami dan kesetiaan merpati. Padahal ya, merpati itu punya tugas mengerami telur secara bergantian dengan pasangannya. Entah gimana caranya Robert membagi waktu dan membuat keempat telur dari dua pasangannya tetap menetas. Meski kenyataannya tak semuanya bisa selamat hingga dewasa.

***

Sekitar satu bulan yang lalu, tangan saya berlumuran darah. Saya terpaksa menyembelih anak merpati yang bahkan belum bisa makan sendiri. Jasadnya tak saya manfaatkan untuk apa-apa. Hanya dimakamkan di samping rumah. Hari itu, saya berduka sekaligus lega. Anak merpati itu, Biru–entah berjenis kelamin apa–tenang dalam tidur abadinya.

Kali ini yang jadi biangkerok bukan pejantan. Tapi Tasha, merpati betina brengsek yang kawin lagi saat anaknya masih sangat belia.

Tasha dan suaminya, Arnold, sudah cukup lama berhubungan. Persis merpati lainnya, mereka begitu romantis. Berciuman hampir di setiap tempat yang mereka sambangi.

Jadi, setelah membuat sarang dan bertelur, akhirnya anak mereka, Biru, menetas. Entah kenapa hanya cuma Biru. Telur yang satu lagi busuk, mati.

Biru sempat hilang. Saya berprasangka baik ia tewas dilahap musang. Saya sudah ikhlas. Tapi, beberapa hari setelah hilang, suara Biru muncul lagi. Ternyata kemarin ia bersembunyi. Saya yang berpatroli sekadarnya, tak nampak ia meringkuk di balik pintu kandang.

Seminggu sebelum disembelih, tubuh Biru luka-luka, lebam, dan memar. Kepalanya bocor. Matanya sembab tak bisa dibuka. Ia hanya bisa memandang sedikit dari balik mata bengkaknya. Bulu-bulunya yang baru tumbuh, gundul. Berganti kulit yang robek di sana-sini.

Tubuh Biru masih jauh dari perkembangan sempurna. Membuatnya hanya bisa merangkak ketika ada ancaman. Saat saya kira hilang kemarin, Biru rupanya merangkak ke balik pintu untuk bersembunyi dari penganiayaan Julius, selingkuhan ibunya.

Tak lama setelah Biru menetas, Tasha rupanya masuk masa berahi lagi. Tapi Tasha tidak mau lagi dengan Arnold. Tasha lebih terpikat pada Julius, pejantan lain dari kamar sebelah.

Setelah memutuskan fokus pada perkawinan barunya, suami baru Tasha, Julius, tak mau istrinya ada ikatan apa pun dengan keluarga lamanya. Akan tetapi, sebagai ibu, naluri alami Tasha tetap mendorongnya bertanggung jawab memberi makan Biru saban pagi dan sore. Julius yang tak terima, berusaha mati-matian membunuh anak merpati malang itu.

Biru ditabok, dicotok, atau entah diapakan lagi oleh Julius. Pokoknya kondisi Biru mengenaskan. Saya bahkan tak tega sekadar memotretnya sebagai bukti. Anak merpati itu hanya bertemu dua makhluk setiap harinya: Tahsa yang memberinya makan pada pagi dan sore, atau Julius yang membabatnya hampir setiap waktu.

Kondisi Biru membuat saya tak habis pikir, berhati apa hewan merpati ini hingga tega ingin membunuh cuma karena keegoisan cinta?

Tak hanya itu, ayah kandung Biru, Arnold, sama sekali tak pernah menolong. Padahal, ia bertetangga dengan Julius dan Tasha. Arnold menyaksikan sendiri bagaimana anaknya dipukuli habis-habisan oleh Julius. Arnold cuek seakan-akan anak merpati itu hanya patung manekin, bukan anak kandungnya.

Saya sudah berusaha menolong dengan memindahkan Biru ke kandang lain. Niatnya, agar saya bisa mengontrol makanan dan proses penyembuhannya. Tapi, Biru terlalu kecil. Ia belum mampu makan sendiri dan tak mau saya suapi.

Setelah Biru dua hari saya asingkan, saya tetap tak tau cara memberinya makan. Akhirnya Biru saya kembalikan ke kandang lama. Pintunya saya tutup sepanjang hari kecuali pagi dan sore, jadwal Tasha memberinya makan.

Dua hari berjalan mulus tapi Tasha tak selalu tepat waktu. Di sela-sela keterlambatan Tasha itulah kesempatan Julius kembali menjalankan aksinya. Anak merpati itu, kembali babak belur. Lukanya yang mulai kering, kembali menganga.

Lalat mulai datang. Luka yang tak kunjung sembuh membuatnya tampak seperti onggokan daging segar berdarah yang bernapas. Saya tidak lagi ada akal. Pagi itu, dengan sangat menyesal, Biru saya sembelih.

Biru tak banyak bergerak. Hanya sesekali meringkih sebab mungkin lukanya tersentuh tangan saya. Air mata saya menetes. Biru telah pergi dengan damai. Tangan saya menguburnya masih dengan berlumuran darah.

Berhari-hari setelah Biru pergi, leher Julius masih saja tampak coklat. Sungguh mengerikan. Tasha bermesraan dengan Julius padahal darah kering anaknya belum hilang. Sedangkan Arnold, tengah sibuk membangun sarang bersama pasangan barunya.

Jadi, berhenti gunakan merpati sebagai simbol cinta, ketulusan, suci, dan hal-hal baik lainnya. Kalian telah ditipu. Saya adalah peternak. Akuntabilitas ucapan saya jauh lebih baik daripada apa yang dikatakan Luhut Binsar Panjaitan.

Oleh: M Ihsan Yurin
Bagikan Tulisan Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mungkin Kamu Tertarik