Kenapa Harus Aku

BINGUNGBACA – Akhir pekan ini begitu cepat. Tadi malam aku tiba di rumah sekitar pukul sepuluh. Lebih lama satu jam dari batas maksimal yang papaku berikan pada akhir pekan biasanya. Tapi papaku tak marah, sebab bus yang disewa sekolah untuk mengantar jemput atlet memang berjalan agak lambat demi kehati-hatian.

Benar. Aku atlet, cabang bulu tangkis. Dan malam berlalu sangat cepat. Aku kelelahan bertanding mewakili sekolah di event open tournament tingkat provinsi yang diadakan di luar kota. Dan kini, sekilas berlalu, aku sudah berada di gerbang SMP, menjalani kewajiban lain yang tak kalah penting: belajar dan tentu saja, upacara.

Pagi ini sangat tidak membahagiakan. Tapi aku tidak sendirian. Bahkan yang aku tahu, tak seorang pun siswa di muka bumi yang riang menyambut Senin.

Aku masih di depan gerbang. Setelah mencium tangan papa, ia langsung menarik gas motor bututnya dan bergegas berangkat kerja. Lalu aku diam menatap sekolah, lalu langit.

Pagi sungguh cerah. Di tengah riuhnya suara oplet-oplet brengsek bermusik disko yang jadi angkutan umum teman-temanku, aku masih saja mendengar kicauan burung. Ya iyalah, karena kandang burung itu tepat di belakang punggungku.

Burung itu kayaknya mengejekku. Ia seakan berkata dalam kicauannya bahwa kondisi kami sama. Sama-sama terpenjara. Aku terpenjara aturan, sedangkan ia benar-benar terpenjara.

Aku menatapnya tajam.

“Burung sialan,” pikirku.

Kalau bukan karena aku masih SMP, sudah aku patahkan bambu kandangnya. Biar dia lepas. Setidaknya, keadaan kami tidak lagi sama, walaupun ia bahagia dan aku terluka. Yang penting ia tak lagi punya kuasa mengejekku.

Aku masuk ke sekolah ketika jam dinding di pos satpam menunjukkan pukul enam lewat lima puluh tujuh. Tak lama setelah sampai dalam kelas, bel berbunyi. Upacara segera mulai.

Di tengah upacara, lelah semalam mulai terasa kembali. Kepalaku pusing, perutku pedih, dan keringat mengucur di wajahku. Aku rasa maagku kambuh. Tapi aku yakin aku tidak selemah itu. Apa nanti kata teman-teman kalau aku menyerah di tengah upacara? Masak atlet bulu tangkis, upacara saja lemas. Bayangan cemoohan itu yang menguatkanku untuk terus melanjutkan upacara.

Upacara pun selesai.

Di dalam kelas, tubuhku mulai berontak. Aku benar-benar ingin pingsan. Pedih perutku akibat maag sudah tak terdeskripsikan lagi. Keringatku sudah sebesar biji jagung. Mataku kunang-kunang. Yang aku ingat cuma satu: kasur.

Dua jam pelajaran pertama berhasil aku lalui dengan perjuangan hebat, tapi setelahnya, aku menyerah. Teman yang duduk di sebelahku membantu membopong tubuhku ke UKS sebagai langkah penanganan awal. Tapi jujur saja, prosedur ini hanya formalitas demi tujuan yang hakiki: pulang.

Akhirnya papa ditelpon. Guruku yang menelponnya. Aku dijemput dan akhirnya pulang. Tapi tidak ke rumah orangtuaku, melainkan rumah sakit. Aku didiagnosa maag dan kelelahan. Aku dehidrasi dan harus mendapat parawatan intensif. Yang pasti, aku tidak diizinkan dokter untuk sekolah tiga hari ke depan. Aku tertawa girang dalam hati.

***

Sebuah Sekolah Menengah Pertama diguncang prahara. Semua siswi dikumpulkan di lapangan setelah jam istirahat. Pelajaran kalang kabut, namun tak satupun siswa dibolehkan keluar kelas. Mereka was-was dalam diskusi, lebih tepatnya gosip, menerka-nerka apa yang terjadi. Tapi tentu saja, mereka girang. Seperti gerhana bulan, Senin “kosong” seperti itu bisa saja tak terjadi lagi berabad-abad kemudian. Mereka sangat menikmatinya. Tapi tidak untuk para siswi.

Di lapangan, siswi dipaksa jujur mengatakan apakah mereka sedang haid atau tidak. Yang terbukti haid diasingkan, sedangkan yang tidak tetap di lapangan. Mereka yang tidak haid satu per satu digiring menuju ruangan UKS, diperintah membuka rok dan memperlihatkan organ privasinya. Terang saja mereka bingung. Tapi apa daya, guru tetaplah otoritas sejati. Tanpa tanya, tanpa bantah, lakukan saja.

Siswi-siswi itu bingung bukan kepalang. Guru pun demikian. Guru-guru itu bingung menjawab dan menghadapi pertanyaan yang terus datang bertubi-tubi, memekakkan telinga.

Akhirnya, salah seorang guru berbisik.

“Di toilet guru, dekat labor komputer, ada janin bayi,” katanya.

Lima detik kemudian, suasana UKS pecah dan setiap siswi berkomentar serampangan. Mereka semua, yang terbukti tidak sedang haid, tertuduh sebagai ibu dari janin malang tersebut. Ini akan menjadi berita paling hangat tahun ini, akan jadi mahakarya SMP paling populer se-kabupaten.

***

Hari Kamis pagi, setelah mencium tangan papa, aku mengulangi kegiatan yang sama. Berdiri di depan gerbang sekolah dan membelakangi burung sialan sambil menikmati disko brengsek dari oplet-oplet yang berseliweran. Dengan seragam jingga khas sekolahku untuk Kamis, aku merasa jauh lebih siap menghadapi sekolah. Tubuhku tidak lagi lelah seperti Senin lalu. Mataku tidak lagi kunang-kunang dan perutku tidak akan pedih seperti saat upacara berlangsung. Aku segar, aku bugar.

Sesampainya di pintu kelas, aku merasakan hawa berbeda. Agak aneh. Teman-temanku nyengir. Kukira mereka tambah gila setelah beberapa hari ini.

Dua jam pelajaran berlalu, bel istirahat berbunyi. Aku bergegas ke kantin untuk jajan. Perutku lapar. Tapi, karena beberapa hari ini aku tidak masuk sekolah, teman-teman mendatangiku. Mereka menanyakan kabarku dan bagaimana aku bisa sakit. Mereka memang baik. Mereka teman yang perhatian.

Aku masih menikmati jam istirahat bersama teman-teman sampai seorang guru perempuan sekaligus wakil kepala sekolah menemuiku.

“Monik, gimana kabarnya?”

“Alhamdulilah, Buk. Sudah enakan, hehe.”

“Ibu mau minta maaf ya.”

“Kenapa, Buk?”

“Hmm, hari Senin ada sedikit kejadian di sekolah kita.”

“Oh ya? Kenapa, Buk?”

Teman-temanku mulai cengengesan dan aku makin bingung dengan permintaan maaf ini.

“Kemarin itu, di toilet guru, ada guru nemuin gumpalan darah. Ternyata itu janin, Monik. Nah, satu sekolahan jadi geger. Semua siswi dikomando agar berkumpul di lapangan, terus dicek satu-per satu pakaian dalamnya. Kami berusaha agar berita ini tidak sampai ke luar sekolah, makanya kami ambil tindakan sendiri dulu. Sebisa mungkin kami yang harus menemukan ibu dari janin tersebut.”

“Loh, saya baru tahu ini, Buk. Terus gimana, Buk, ketemu?”

“Nah, itu masalahnya. Tidak satu pun pakaian dalam mereka yang berdarah. Ya, itu berarti tidak ada dari mereka yang terbukti melakukan aborsi di sekolah. Karena kamu hari itu kebetulan sakit dan minta izin pulang, jadi ..”

“Jadi kenapa, Buk? Ibuk nuduh saya?”

“Iya begitulah, Monik. Saya dan guru-guru lain minta maaf sama kamu. Kami berpikiran buruk sama kamu. Maafin guru-guru ya.”

“Iiiihhh, Buk! Saya maag, Buk. Saya dehidrasi karena minggu malam baru sampai setelah tanding bulu tangkis. Saya kurang istirahat dan ga dibolehin sekolah sama dokternya selama tiga hari. Dan saya ga mungkin ngelakuin hal itu, Buk!”

“Iya, saya tahu. Sekali lagi maaf ya.”

“Jadi, Buk, kalau bukan saya dan teman-teman lain yang aborsi, terus siapa?”

“Nah, jadi …”

Ternyata itu alasan wakil kepala sekolah bolak-balik menelpon papa saat aku dirawat. Papa juga sudah sedikit curiga karena tidak biasanya pihak sekolah seperhatian itu kepada siswanya yang sakit. Namun, papa tak pernah berpikiran sejauh ini. Aku menyesal dan kecewa. Sungguh. Aku menyesal tidak ikut dalam serunya kegaduhan di sekolahku yang, aku yakin tidak akan terulang lagi.

Tapi, aku kecewa karena dicurigai aborsi dan jadi ibu dari segumpal janin kucing.

*Cerpen saya ini pertama kali terbit di Matoakita dan ditulis berdasarkan kisah nyata dengan sedikit penambahan.

Bagikan Tulisan Ini

7 Comments

  1. Cerita yang luar biasa, keren sekali..

    1. Terima kasih, Mas 😁😁😁

  2. cerita yang sangat menginspirasi

  3. Novita Pernia

    Kejadian ini terjadi pas aku kelas 2, dan yg nemuin tmn sekelas aku. Tpi kami GK tau sih, kata guru itu janin kucing iya apa nggak. Soalnya kata tmn aku yg nemuin, tuh janin kyk janin manusia. Teronggok pas di sblh lubang WC. Aku jd ingt kjdian ini Krn cerita ini. Jangan2 penulisnya 1 letingan aku di SMP itu? Atau si penulis org yg nemuin, yaitu tmn sekls aku itu🤣

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mungkin Kamu Tertarik