Burgerkill dan Masa Remaja, Sebuah Catatan Seorang Fans

Guitar Pro

BINGUNGBACA – Aku jarang terpukul mendengar kematian. Apalagi kematian seorang artis. Sebab kupikir, hidup memang persiapan menuju mati dan semua orang bakal sampai pada titik itu. Tapi, kematian Eben beda rasanya. Eben bukan semacam artis pada umumnya yang kuanggap angin lalu saja. Ia punya tempat di sisi kehidupanku sejak remaja.

Kemarin (3/9/2021), aku telat datang ke kantor. Aku harus liputan ke pinggiran kota sejak siang. Sampai di kantor pukul 4 sore, aku langsung menghidupkan komputer dan membuka salah satu situs berita. Dan tulisan yang pertama kali terbaca adalah kabar kematian Eben.

Aku spontan berteriak ke arah Bagus, rekan kerjaku yang juga suka musik underground.

“Gus, Eben meninggal!” teriakku.

Bagus juga kaget, sebab memang kabar wafatnya Eben baru diunggah di semua situs berita sekitar setengah jam sebelumnya.

Kami diam beberapa saat. Terkejut, terpukul. Aku langsung menyadur berita itu. Si Bagus, cepat-cepat kembali ke mejanya.

Saat sedang menulis berita kematian Eben, Bagus memutar Atur Aku. Bulu kudukku seketika merinding. Tanganku gemetaran. Mataku berkaca-kaca, entah terharu, entah sedih. Pikiranku berantakan.

Baca juga: Eben Burgerkill Wafat, Metalhead Indonesia Berduka

Seingatku, idola yang kusesali kematiannya cuma dua: S Teddy D dan Rusdi Mathari. Aku cinta mati pada karakter mereka yang kukenal dari buku-buku. Aku berharap besar bisa bertemu mereka saat aku kaya. Namun, takdir punya garisnya sendiri.

Sejak rasa sesal menyergap jiwaku membaca kabar kematian Eben, saat itu aku sadar bahwa cintaku pada karakter Teddy dan Rusdi, bertambah satu. Eben. Eben Burgerkill. Aku ternyata betul-betul mengidolakannya.

Pertama kali aku kenal Burgerkill saat SMP. Waktu itu, aku sedang gandrung-gandrungnya pada musik underground. Aku ikut dengan abang-abang black metal di kampungku. Melihat mereka tampil sangar di panggung, membuatku yakin bahwa metal memang aliras musik yang paling enak di dunia.

We Will Bleed adalah lagu Burgerkill yang pertama kudengar. Aku kira, dulu, metal itu ya black metal. Aku tak tahu ada genre metal-metal lain. Dan We Will Bleed membuka mataku.

Sejak kenal Burgerkill, aku hampir selalu mengikuti perkembangannya. Video-videonya di Youtube banyak sudah yang kutonton. Yang paling teringat adalah panggung mereka di LA Indie Fest Sabuga belasan tahun lalu. Di sepanjang video, mataku selalu tertuju pada aksi Eben dan Vicky (aku belum kenal Burgerkill saat vokalisnya masih mendiang Ivan Scumbag). Karena kebetulan aku gitaris di bandku dulu, Eben resmi kujadikan panutan setelah Mark Morton, Lamb of God.

Di aksi panggungku zaman sekolah dulu, gaya Eben selalu kuandalkan: kaki ngangkang, putar kepala, nunjuk-nunjuk penonton, dan lainnya. Bahkan hingga ke pakaian: celana kargo loreng, kaos oblong, sepatu tanpa kaos kaki.

Kini, sejak kuliah dan tak lagi ngeband, lagu-lagu Burgerkill tetap aku dengar. Album-album mereka, kabar mereka manggung di Wacken Open Air, vlog-vlog mereka, gosip-gosip mereka, masih tetap aku ikuti perkembangannya, maski tak seintensif waktu sekolah.

Keluarnya Abah, drumer mereka dari keanggotaan Burgerkill, kupikir sudah cukup menyakitkanku sebagai fans. Belakangan Vicky juga hengkang. Dan yang terakhir, satu-satunya pentolan mereka sejak awal berdiri, Eben, juga tiba-tiba keluar dari Burgerkill. Lebih parah, Eben meninggalkan Burgerkill selama-lamanya untuk pindah ke dunia yang berbeda. Aku tak bisa bayangkan bagaimana Burgerkill tanpa mereka, tanpa Eben terutama.

Benar salahnya Eben dan Ivan Scumbag membangun Burgerkill bisa diperdebatkan. Tapi yang pasti, kehidupan remajaku benar-benar berwarna karena mereka, Burgerkill, khususnya Eben.

Tadi malam, aku lihat akun Instagram pribadi Eben. Beberapa orang komentar di unggahan terbarunya, yang kemudian Eben membalas. Pada ketarangan waktu, kulihat balasan Eben baru 15 jam yang lalu.

Salah satu fansnya bahkan ada yang bilang, “Ini baru 5 jam yang lalu maang.”

Selamat jalan, Eben. Meski aku menyesal belum sempat berjabat tangan dan bicara langsung denganmu, tapi aku pernah menontonmu sekali di Pekanbaru.

Terima kasih. Aksi panggungmu luar biasa. Kuyakin kau orang baik, penyayang keluarga, dan disenangi teman-temanmu. Semoga dosa-dosamu diampuni, semoga surga jadi teempatmu setelah ini. Doaku menyertaimu.

Terima kasih, Eben. Terima kasih, Burgerkill!

Bagikan Tulisan Ini

8 Comments

  1. Hey there! I’ve been reading your site for a long time now and finally got the bravery to go ahead and give you a shout out from New Caney Tx! Just wanted to say keep up the fantastic job!

  2. Hey There. I found your weblog using msn. That is a very smartly written article. I will make sure to bookmark it and come back to read more of your helpful information. Thank you for the post. I will certainly comeback.

  3. It’s a shame you don’t have a donate button! I’d definitely donate to
    this excellent blog! I guess for now i’ll settle for book-marking and adding your RSS feed to my
    Google account. I look forward to brand new updates and will share this website with my Facebook group.
    Chat soon!

  4. Hey there! Quick question that’s totally off topic.
    Do you know how to make your site mobile friendly?
    My website looks weird when viewing from my iphone. I’m trying to find a theme or plugin that might
    be able to resolve this problem. If you have any recommendations,
    please share. Many thanks!

  5. Pretty section of content. I just stumbled upon your website and in accession capital to assert that I get in fact enjoyed account your blog posts. Any way I will be subscribing to your augment and even I achievement you access consistently fast.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mungkin Kamu Tertarik