Ciri-Ciri Pemabuk Pemula: Sombong dan Tidak Tahu Diri

BINGUNGBACA.COM – Untuk informasi awal, ini adalah pengalaman pribadi sahabat saya. Inisialnya AHD. Iya, sahabat saya. Paling tidak begitu saya menganggapnya.

Malam itu AHD uring-uringan di tongkrongan. Mulutnya tak berhenti misuh, tapi sudut bibirnya tampak tersenyum kecil. Ia marah, tapi wajahnya biasa saja. Emosinya tidak buruk, bahkan cenderung baik. AHD, kesal pada pacarnya.

Dari penuturan sahabat lama saya itu, pacarnya bersama rombongan gengnya menggelar hajatan kecil di sebuah kos-kosan. Kata AHD, salah satu dari mereka ada yang mau pulang kampung selamanya karena ijazah sarjana sudah keluar. Dalam hajatan itu, pacar AHD dan teman-temannya membeli sebotol anggur dan banyak makanan ringan. Sementara AHD dengan niat ikhlas menyumbang wiski setengah botol gepeng yang sudah dua hari tak habis ditenggaknya.

AHD tahu pacar dan teman-temannya itu belum pernah mengadakan hajatan sambil mabuk-mabukan. Makanya AHD dengan senang hati mendukung acara itu. Katanya, agar pemudi-pemudi Indonesia tak kikuk ketika kelak sukses dan harus bekerja ke luar negeri, bertemu orang asing yang menjadikan mabuk sebuah budaya.

“Ini demi kebaikan bersama. Setelah mereka mabuk, mereka bisa memilih. Meneruskan mabuk-mabukan sampai tua, atau berhenti sekarang juga. Setiap orang punya preferensi masing-masing. Namun setidaknya, mereka tahu bagaimana mabuk itu sejak sedini mungkin. Singkatnya, biar tidak kaget,” jelasnya berapi-api.

AHD seorang muslim. Cenderung taat, kalau saya nilai. Saya tidak pernah mabuk, tapi sering ikut hadir saat tongkrongan ini mabuk-mabukan. Dari situ saya tahu, bahwa AHD selalu salat isya sebelum minum. Ia tak pernah mau teler sebelum kewajibannya sebagai muslim tuntas dilaksanakan. Nanti, ketika pagi, ia juga akan salat subuh meski entah jam berapa AHD terbangun pascabegadang.

Menurut saya, AHD adalah prototipe manusia realisasi dari nilai yin dan yang. Seimbang. Dosa jalan, ibadah terus.

“Jancuk! Goblok! Pemabuk pemula, sombong, tidak tahu diri!” kata AHD teriak sambil menatap layar HP butut keluaran merk payah yang tak laku, mengagetkan kami semua.

“Kenapa kamu? Gajimu telat lagi?” kata saya coba menenagkan.

“Ini, pacarku. Kelihatan sekali pemabuk pemulanya. Teman-temannya juga. Dari tadi selalu tanya kalau mabuk begini ya, kalau mabuk begitu ya. Mabuk kok dicari-cari. Minum ya minum saja. Nikmati sajalah. Mana pas aku bilang dia udah mabuk, dia ga percaya. Katanya, ‘Aku ga mabuk lo. Aku sadar lo.’ Jembut!”

Dari penjelasan AHD setelah jiwanya tenang, pacarnya terus-menerus mengirim pesan. Menanyakan apakah dirinya sudah masuk kategori mabuk. AHD menjawab sudah, tapi pacarnya tidak percaya. AHD kesal karena pacarnya juga mengiriminya video sambil cekikikan ketawa dan ngomong tidak jelas. Dalam video itu, kata AHD, mata pacarnya sudah merah dan sayu. Beberapa kali AHD juga di-videocall. Padahal AHD sedang di tempat ramai dan berisik bersama kami.

AHD kesal, tapi puas. Ia dengan jiwa heroiknya telah berhasil memberi salah satu pelajaran hidup yang mesti dihadapi semua orang, khususnya anak kuliah: mabuk. Senyum kecil di sudut bibirnya menunjukkan kepuasan itu.

Saya tak pernah mau diajak mabuk, tapi AHD tidak mengucilkan saya. Beberapa kali dia memang pernah bilang sebenarnya kecewa dengan pilihan hidup saya. Hanya ia tak bisa memaksa dan bilang pertemanan tidak diukur dengan mabuk. Lagipula, katanya, mabuk bukan kegiatan positif. Yang pasti, saya tetap bisa mengambil pelajaran dari mereka, meski tak pernah melakukannya.

Kemarin, saat saya bertemu AHD di tempat ngopi, dia cerita soal pacarnya. Katanya, tempo hari pacarnya memang benar-benar mabuk. Soalnya pacarnya cerita, bahwa ketika akan menyuap makanan, tangan dan otaknya tidak sinkron. Bukannya diarahkan ke mulut, tapi malah ke hidung.

“Wis tak kandani. Dekne ra percoyo,” kata AHD yang artinya sudah saya bilang, tapi dia tidak percaya.

AHD juga bilang, pacarnya memutuskan tidak akan lagi pernah mabuk. Dia sudah janji sama dirinya sendiri. Malam itu hajatan plus mabuk-mabukan pertama dan terakhir dalam hidupnya. Pacar AHD mengaku, setelah mabuk baru sadar kalau tidak mabuk dan hidup di dunia nyata itu menyenangkan, daripada kepala oleng dan pandangan kabur.

“Tugasku sebagai wiseman selesai. Sekarang terserah mereka mau milih jalan yang mana. Tapi, San, kamu kapan coba minum juga?” kata AHD sebelum pipinya merah saya tampar pakai sandal.

Bagikan Tulisan Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mungkin Kamu Tertarik