Oleh: Rinai Bening Kasih

Stigma negatif yang paling banyak disasar kepada feminis adalah bahwa feminis itu membenci laki-laki, tidak mau menikah, tidak percaya pada agama, tidak mencukur bulu ketiak dan tidak suka pakai beha.

BINGUNGBACA – Sulit rasanya membicarakan feminisme tanpa menerima cemoohan dari orang-orang. Bahkan, di inner circle saya sendiri.

Memang separah itulah stigma yang melekat pada feminis sehingga nyaris mustahil untuk mengajak orang lain membicarakannya tanpa membuat tensi mendadak naik.

Saking sulitnya menghapus stigma negatif tentang feminis, rasanya hampir sama kayak menghapus foto alay di Facebook yang sudah kita lupakan sandi dan e-mailnya yang entah apa. Satu-satunya cara hanya menyurati Facebook minta akun itu dihapus, tapi Facebook akan bilang: Apa buktinya akun itu milik Anda? Dan kita enggak bisa cuma jawab: Well, itu muka saya, jadi…

Stigma negatif yang paling banyak disasar kepada feminis adalah bahwa feminis itu membenci laki-laki, tidak mau menikah, tidak percaya pada agama, tidak mencukur bulu ketiak dan tidak suka pakai beha.

Nyatanya, banyak feminis yang sangat vokal dan ‘garang’ justru memiliki pasangan serta tidak segan menunjukkan bahwa mereka juga bucin. Sebut saja Kalis Mardiasih, Andrea Gunawan, dan saya, hehe…

Mbak Kalis berhijab, dan kalau dicari di Wikipedia, dia dideskripsikan sebagai aktivis muda Nahdlatul Ulama dan anggota Sekretariat Nasional Jaringan Nasional Gusdurian–kelompok fanatisme paham-paham Gusdur. Kurang beragama apalagi coba beliau itu?

Feminisme tidak pernah memerangi laki-laki. Feminisme bukan tentang sekumpulan perempuan pemarah yang menolak mencukur bulu ketiak. Hal-hal yang diperjuangkan feminis jauh lebih besar daripada sekadar ngurusin bulu ketiak.

Baca juga esai lainnya: Soekarno dan Perjuangan Masa Kini

Salah satunya memang tentang bagaimana perempuan harus mampu mencintai dan menerima kondisi dirinya sendiri apa adanya, termasuk tidak cukuran, tapi kalau mau cukuran juga enggak apa-apa. Mau merokok silakan, tidak merokok juga oke. Mau pakai baju off-shoulder atau pakai cadar, silakan. Mau pakai beha silakan, kalau gerah dilepas juga enggak masalah. Silakan lakukan apa yang membuat dirimu nyaman dan bahagia tanpa paksaan siapa pun.

Itulah inti dari gerakan feminisme paling dasar: perempuan berhak memilih.

Bahkan, feminisme kini tidak lagi terkhusus pada perempuan. Pada awal kelahiran gerakan ini memang segalanya tentang perempuan. Tapi sekarang, sudah jadi gerakan yang tidak mengenal gender. Perempuan, laki-laki, or if you feel more comfortable without being described as one, semua bisa jadi feminis.

“Kalau gitu kenapa harus disebut feminis? Kenapa enggak disebut humanis aja jika yang diperjuangkan memang kesetaraan umat manusia?”

Pertanyaan itu sering saya dengar dari orang-orang yang mengaku tidak memiliki masalah dengan perjuangan kesetaraan yang diusung feminis, tapi mempermasalahkan sebutannya. Tidakkah mereka sadar bahwa keberatan dengan sebutan ‘feminis’ juga sebuah bukti yang sangat besar bahwa posisi perempuan se-tidak dihargai itu? Mereka membenci embel-embel berbau perempuan. Mereka tidak mau perempuan memiliki sebuah identitas. Mereka tidak mau perempuan tampil sebagai manusia yang memiliki keberanian dan kekuatan.

“Tapi kalau namanya feminis, berarti tidak setara karena kata feminis merujuk pada feminine yang artinya perempuan.”

Feminine atau feminin di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bermakna mengenai perempuan, bersifat perempuan, atau menyerupai perempuan. Jadi, laki-laki juga bisa memiliki sifat feminin di dalam dirinya. Feminis hanyalah sebutan yang tidak melemahkan misi yang diemban orang-orang yang meyakininya.

Memahami feminisme memang tidak bisa selesai hanya dalam sehari, terlebih lagi kalau sejak awal sudah ada stigma-stigma negatif yang bercokol di dalam kepala.

Terkadang, stigma-stigma tersebut diperparah oleh perempuan-perempuan yang baru belajar feminisme dan sudah mendeklarasikan dirinya sebagai feminis, tapi kadung berapi-api dalam menyampaikannya. Kalau aku bilang, belum hafal huruf hijaiyah sudah mengajari orang mengaji, sehingga hasilnya bukan hanya salah membaca, tapi juga salah melafazkan dan lebih salah lagi dalam menafsirkan.

Kadang, ada juga perempuan yang menjadikan feminisme sebagai strategi pembenaran atau validasi atas perbuatan buruk mereka terhadap laki-laki. Ini yang sering memperkeruh keadaan dan memperburuk citra feminis yang sudah buruk di mata sebagian masyarakat.

Hal-hal yang diperjuangkan feminis jauh lebih besar daripada sekadar ngurusin bulu ketiak atau tali beha. Feminis bicara tentang sebuah sistem busuk yang telah mengakar selama berabad-abad; sebuah sistem yang meletakkan perempuan sebagai makhluk kelas bawah, tidak memiliki hak untuk menerima pendidikan, kesempatan kerja yang tidak adil, gaji yang tidak setara, bahkan untuk berpikir dan merasa pun harus diwakilkan atau atas persetujuan laki-laki. Sistem itu bernama patriarki, dan itu adalah satu-satunya musuh yang diperangi feminis.

Feminis tidak pernah membenci laki-laki hanya karena dia laki-laki. Menjadi feminis berarti melihat setiap gender setara dan dibebaskan dalam mengambil pilihannya masing-masing, tanpa tuntutan, tanpa paksaan, tanpa intervensi apa pun dari siapa pun.

*Tulisan ini pernah dimuat di asique.id dengan sedikit perubahan.



Rinai Bening Kasih, perempuan, kalau senggang bekerja sebagai jurnalis.

Bagikan Tulisan Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mungkin Kamu Tertarik