BINGUNGBACA – Saya sudah lama tidak mencuci motor. Selain karena stigma wartawan itu “jorok” tertanam dalam di kepala saya, saya memang merasa hal-hal semacam motor tak perlu kinclong-kinclong amat. Toh, motor akan dipakai ke jalanan, bakal kumuh lagi.

Hari ini saya ada satu rencana yang mengharuskan motor saya bersih. Makanya setelah berbulan-bulan, Djarot, nama motor saya, akhirnya disentuh dan dicuci orang lain lagi. Saya datang ke salah satu cucian motor di KM 1 Jalan Garuda Sakti, Panam, Pekanbaru.

Djarot dicuci berbarengan dengan motor lain. Ada sekitar 7 kalau tidak salah. Selain Djarot, motor lain sepertinya adalah motor terawat. Motor yang tak perlu penanganan ekstra. Tapi Djarot, dengan riwayat perjalanannya, tentu beda.

Zaki, anak usia SMA yang memandikan Djarot, tampak berkali-kali diledek teman-temannya karena terpaksa bekerja lebih berat. Buktinya, ketika 6 motor lain selesai dilap dan diberi pengilap, Djarot baru 50 persen diselesaikan.

“Nikmatilah apa yang dikerjakan,” kata teman Zaki yang mencuci Scoopy baru yang tanpa dicuci pun sudah tiga kali tampak lebih bersih daripada Djarot–sambil mengejek.

Zaki cuma bisa membalasnya dengan senyum kecut, sambil terus dengan khidmat dan teliti menggosok sela-sela motor saya.

Para pencuci motor ini, yang saya lihat usianya tak lebih dari 18 tahun, punya pola pikir berbeda dengan pemilik motor. Oleh karena itulah saya memutuskan menyerahkan Djarot kepada mereka. Mereka, mencuci agar motor menjadi bersih. Sedangkan pemilik, terutama saya, mencuci agar motor tampak bersih. Itu dua hal yang sangat berbeda.

Baca juga curhatan lainnya: Silampukau, Grup yang Membuatku Ingin Kuliah

Kalau saya mencuci Djarot sendiri di rumah, saya tak akan peduli dengan sisa oli di bawah mesin dan gumpalan kotoran di dalam spakbor. Bagian-bagian itu tak tampak. Tapi Zaki dan teman-temannya berbeda. Mereka punya tugas, kewajiban, dan kehormatan yang harus dijaga. Motor harus bersih dari segala noda, di bagian tertutup, apalagi terbuka.

Perbedaan mendasar ini yang saya rasa, saat saya punya sedikit kelebihan uang, saya harus melakukan semua hal dengan jasa orang lain. Bukan karena malas, boros, atau tak bisa apa-apa, tapi setiap orang punya porsi dalam kehidupan ini dan berkewajiban menyelesaikannya. Itulah menariknya hidup. Sistem itu bakal melengkapi antara manusia satu dengan manusia lain.

Apalagi dalam profesi cuci motor, rata-rata pekerjanya usia pelajar. Si Zaki itu mestinya masih kelas 1 SMA. Dia terpaksa berhenti sekolah karena tidak punya biaya. Saya dulu juga pernah 3 tahun jadi pencuci motor, persis saat usia saya seperti Zaki. Dan itu saya lakukan karena saya ingin mandiri, ingin bekerja. Sama dengan anak-anak ini.

Perkara uang hasil pekerjaannya mereka gunakan untuk apa, halal atau haram, itu bukan urusan saya. Tapi yang pasti, dengan mencuci motor di tempat cucian, saya merasa telah membantu anak-anak yang ingin menjadi manusia sejati itu bertahan dan tidak menyerah.

Oh iya, Zaki ini tinggal di KM 6 Jalan Garuda Sakti. Belum lama ini dia terpaksa berhenti sekolah. Katanya, dia sempat beberapa bulan masuk SMA. Tapi, ya begitulah. Dunia tak selamanya bisa mudah dijalani.

Zaki sudah bekerja di cucian itu 4 bulan. Katanya, ketika SMP dia juga sudah 2 tahun jadi tukang cuci di tempat berbeda. Dengan tarif Rp15 ribu per satu motor, Zaki dapat bagian Rp7 ribu. Karena tidak lagi sekolah, Zaki bisa kerja dari pagi sampai magrib.

Orang-orang seperti Zaki, hanya tidak bersekolah sebagaimana negara mewajibkannya. Tapi hakekatnya, mereka sedang menempuh cara lain, cara yang mungkin lebih keras, gahar, dan lebih baik dari anak-anak sepantarannya.

Cuma ya itu, motor saya jadi mbrebeb-mbrebeb karena kemasukan air.

Bagikan Tulisan Ini

2 Comments

  1. Izin berkunjung yaa mas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mungkin Kamu Tertarik