Kami Mewawancarai Petani Ganja yang Muak dengan Ide Legalisasi Ganja di Indonesia

Tanaman Ganja

BINGUNGBACA – Cerita ini bermula ketika salah satu following Twitter saya menyukai postingan dari sebuah akun “berbahaya” yang basis kegiatannya berada di Indonesia. Akun tersebut bernama Asosiasi Petani Ganja Indonesia (APGI).

Tiba-tiba muncul di beranda, menampilkan foto ganja yang ditanam di pot bunga di sebuah pekarangan rumah, membuat saya penasaran dan mencari tahu apa dan siapa sebenarnya APGI.

Tulisan saya ini pertama kali dimuat pada Jumat (12/3/2021) di Riaumandiri.co dengan judul Wawancara dengan Petani Ganja Sekaligus Pendiri APGI dengan beberapa perubahan. Ini merupakan naskah aslinya.

Setelah mengirim pesan ke akun Twitter APGI, saya diarahkan untuk langsung mewawancarai founder asosiasi ini, Adrian (bukan nama sebenarnya). Saya mewawancarai Adrian selama berminggu-minggu lewat pesan elektronik. Adrian yang merupakan pengusaha muda berusia 30-an yang sibuk, hanya dapat sesekali membalas surat saya. Adrian, tinggal di salah satu kota besar di Pulau Jawa.

APGI adalah asosiasi bawah tanah yang berusaha mengajak sebanyak-banyaknya orang untuk memanfaatkan ganja. Baik sekadar rekreasi, maupun kesehatan, industri, tekstil, dan lain sebagainya. Adrian, membuat gerakan ini bersama teman-temannya atas dasar kemuakan terhadap basa-basi upaya legalisasi ganja yang selama ini ada di Indonesia. Terutama, terkait slogan-slogan klasik “pemanfaatan ganja untuk medis” yang dinilai menutup banyak manfaat ganja lainnya.

“APGI sebenarnya berawal dari ide beberapa teman nongkrong yang merasa muak dengan perjuangan legalisasi yang stagnan sejak awal topik ini mulai dibicarakan secara umum (mungkin circa 2008-2009 di Facebook). Kami kebetulan adalah beberapa kawan dekat yang pernah studi di Netherlands dan United States. Dan kami rasa, perjuangan di luar sana sangat bold dan apa yang sudah dilakukan di Indonesia hanya ‘sekadar menyentuh permukaan air’. Kami ingin tenggelam, menyelam dalam, dan benar-benar memosisikan diri di dalam ranah ini,” ujar Adiran kepada saya.

Di Indonesia, aktivisme ganja dimulai sejak dibentuknya Lingkar Ganja Nusantara (LGN) pada 2010 oleh Dhira Narayana, sarjana psikologi Universitas Indonesia. Setelah itu, mulai bermunculan gerakan-gerakan serupa, baik legal maupun tidak. Di media sosial, Instagram misalnya, akun-akun yang memperjuangkan ganja sangat banyak. Sebut saja akun triggerfinger_hemp, lgn_id, dan lain sebagainya.

Kendati gerakannya yang ekstrem, Adrian merasa tidak bertolak belakang dengan aktivisme dan organisasi ganja lainnya di Indonesia. Namun, ia merasa bahwa ganja tidak seharusnya hanya diperjuangkan manfaat medis dan industrinya saja, tapi juga rekreasi dan bentuk-bentuk pemanfaatan lainnya.

Dokumen pribadi Adrian

“Sebenarnya bertolak belakang, sih, enggak, hanya beda visi misi aja kayaknya. LGN targetin riset legal untuk medis, kami targetin riset dengan cara apapun dan untuk semua manfaat,” jelasnya.

Goals kami lebih ke-awareness dan angka, sih. Lebih banyak yang menanam, lebih banyak yang menggunakan. Kalau 2% saja dari total populasi Indonesia melakukan ini, coba hitung berapa banyak kepala itu kira-kira?” tambahnya.

Di Indonesia, pemanfaatan ganja dilarang keras oleh pemerintah. Dalam Pasal 112 UU Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika, ganja dikategorikan narkoba golongan I yang pemanfaatannya dalam bentuk apapun dapat dipidana kurungan hingga 15 tahun. Sedangkan pengedar, diganjar lebih lama lagi, yaitu hingga 20 tahun.

Aturan ini berbanding lurus dengan asumsi kebanyakan masyarakat Indonesia yang menganggap ganja sebagai salah satu biang kerok penyebab perbuatan kriminal, menurunkan fungsi otak, dan hal-hal buruk lainnya.

“Kolot. Mungkin itu kata pilihan saya. Semua stigmatisasi yang ada di dalam kepala orang-orang kolot di negara kita sudah basi. Enggak update. Ibarat sistem operasi Windows, mereka stuck, tertahan, terjebak di Windows 97. Sedangkan layaknya sekarang orang pakai Windows 10,” kata Adrian.

“Pandangan saya terhadap ganja selalu positif. Terlepas dari opini orang dan riset ilmuwan-ilmuwan. Sederhananya, saya enggak begitu peduli dengan opini orang lain. Bagi saya ganja baik. Penghilang stres, peningkat nafsu makan, meningkatkan kualitas hidup, bisa mengganti pohon-pohon besar untuk bahan baku produksi kertas, bijinya bisa jadi bio-fuel, bisa diambil seratnya untuk tekstil, dan masih banyak lagi. Enggak mungkin saya bahas semuanya di sini. Untuk masalah “onar” saya harus tertawa terbahak-bahak, nih, Mas. Belum pernah saya lihat orang yang onar setelah konsumsi ganja. Seringnya orang habis pakai ganja, tuh, jadi santai dan bersahabat, peaceful,” tambahnya.

Sebagai bentuk manifestasi keseriusannya, pada 2018 APGI membagi-bagikan bibit ganja berbentuk biji gratis ke seluruh Indonesia. Saat itu, pusat operasi mereka ada di Batu, Malang. Mereka memanfaatkan celah pada salah satu perusahaan ekspedisi untuk mengirimkan bibit tersebut.

Minggu lalu (pada saat tulisan ini dibuat), APGI juga diketahui mengadakan gathering dengan pengurus dan pendiri selama beberapa hari. Orang-orang yang hadir dilarang membawa gawai ke tempat pertemuan. Makanya, wawancara kami dengan Adrian sempat terputus kurang lebih seminggu.

“Kita lagi ngatur buat nyebarin bibit lagi, nih,” kata Adrian.

Selama membangun APGI, Adrian mengaku selalu mendapat dukungan, termasuk dari istrinya. Istri Adrian juga pengguna ganja. Ia bahkan bertemu istrinya saat berada di acara 4/20 di Belanda.

“Terror, puji alhamdulillah belum ada. Sejauh ini hanya dukungan dan dukungan positif yang kami terima. Saya bertemu istri dulu di acara 4/20 di Netherlands. Jadi istri saya dukung total. Kebetulan belum ada anak jadi kita masih bisa salurin waktu untuk hobi dan passion seperti ini,” ungkapnya.

Adrian menanam ganja secara serius di lokasi pribadi miliknya. Dalam sehari, Adrian mengaku bisa menghabiskan 3-8 gram ganja kering atau setara dua hingga tiga batang ganja linting siap hisap.

Dokumen pribadi Adrian

Adrian menceritakan pengalamannya mengkonsumsi ganja selama ia melanjutkan gelar masternya di Amerika dan Belanda. Menurutnya, di sana membeli ganja hanya perlu datang ke coffee shop dan dipersilakan memilih sendiri berbagai varian dan olahan ganja, mulai dari dibakar seperti rokok, hingga bentuk permen dan losyen.

“Di US kita kalau mau beli asyik banget. Sekalipun underground, ya. Di masa saya dulu belum seterbuka sekarang. Kita kalau beli selalu harus datangin rumah bandarnya, lalu kita akan disodorkan banyak pilihan strain (jenis) yang dia punya. Ada banyak rasa dan berbagai efek,” jelasnya.

“Yang jadi kiblat saya pribadi, orang sana tuh enggak stigmatized dan mindset mereka terhadap ganja ya biasa aja. Seperti alkohol. Beda dengan masyarakat kita. Di Twitter ada postingan ganja, masih sering di-bully, dicengin. Komentar-komentar halo bnn, halo divhumaspolri, dll. Di US zaman saya kuliah, lu mau nyimeng di parkiran, di taman, di wc kampus, enggak ada yang ambil pusing. Enggak ada yang cepuin,” paparnya.

Berbeda dari LGN, Adrian mengatakan gerakan APGI akan selamanya berada di bawah tanah. Ia tidak berniat menawarkan solusi kepada pemerintah sebab menurutnya, Indonesia punya politik dan birokrasi berbelit dan rumit.

“Kita agak muak, sih, dengan pemerintahan. Terlalu bertele-tele. Birokrasinya kotor, seperti lingkaran setan. Saya pribadi lebih tertarik bicara dengan pedagang senjata daripada dengan anggota DPR, dll,” katanya.

Adrian menutup wawancara dengan pesan agar seluruh pengguna ganja di Indonesia, terutama anggota APGI selalu berhati-hati. Tidak paranoid, tunjukkan keberanian, tapi tidak juga ceroboh.

“Di atas semua itu, teruslah berbuat hal baik. Karena dari kebaikan, datang semua sumber hidup. Lawan dengan tanam. Juga untuk teman-teman di LGN, Mas Dhira, saya berharap kita bisa ketemu dan ngobrol suatu hari. Mungkin kita bisa upayakan sesuatu untuk perjuangan legalisasi ini,” tutupnya.

Gerakan bawah tanah dengan jargon dan tagar Lawan Dengan Tanam ini aktif melaporkan aktivitasnya di akun Twitter APGI_ID. Di websitenya, mereka menyebarkan berbagai hal tentang ganja. Mulai dari artikel-artikel terkait ganja, produk-produk olaham ganja, bibit ganja, hingga buku panduan penanamannya.

Kami mencoba mengunduh buku elektronik berisi panduan sebanyak 29 halaman tersebut. Dan benar, di dalammya dijelaskan secara rinci langkah-langkah penanaman ganja. Namun, kami juga mendapati teks bersifat ofensif yang dilontarkan APGI kepada aparat di Indonesia yang menunjukkan bahwa APGI memang menyadari aktivitasnya sangat berbahaya dan berisiko.

“Oh iya, sekalian deh. Dalam kesempatan ini kami ingin menyapa mereka yang mungkin saja penasaran dengan isi ebook ini. Halo polisi, halo BNN, atau instansi mana pun yang tidak suka dengan keberadaan kami. Kami tau kok fakta bahwa kalian itu diam-diam suka nyabu sebelum berangkat nangkep-nangkepin orang TO. Ya iyalah diam-diam. Ya kali kan, ‘pemburu’ narkoba pakai narkoba juga. Apa kata media nanti?” tulis buku panduan yang disusun sendiri oleh Adrian tersebut.

Bagikan Tulisan Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mungkin Kamu Tertarik