Demi ibu pertiwi, ibu-ibu dari ibu yang ibunya adalah ibu
Demi merah putih, bendera kebangsaan yang sempat waktu terbalik instalasinya
Demi presiden dan lukisan-lukisannya yang sempat tak layak tayang
Demi sumpah pemuda, yang terucap di kala mahasiswa dan sumpah harta yang dengan lantang tersirat ketika sarjana
Percayalah, kita ini anak Endonesah

Demi cintaku padamu
Demi hedonis-hedonis kaula muda sampai tua yang antimatahari di siang hari
Demi kebul knalpot dan kebul-kebul udud
Demi notice anjing di jalan-jalan yang tak kunjung terperhatikan
Percayalah, kita ini berada di Endonesah

Demi madu-madu janji yang jarang sekali terpenuhi
Demi harta rakyat yang mengepul dari dapur pejabat
Demi mobil-mobil Mercy yang kesetanan di depan sepeda ontel petani
Demi peci, dan kitab suci di bawah tapak kaki
Percayalah, kita ini dalam hegemoni Endonesah

Demi penyair yang kepalanya terbungkus karung
Demi Wiji Thukul yang hilang tertelan diam
Demi Munir yang mati dalam konspirasi
Demi Jendral yang dua juta nyawa berada di kepalannya
Percayalah, kita ini rakyat Endonesah

Demi penulis idiotelektual yang mencacah kecerdasan karena lapar
Demi mahasiswa sosialis tersarjana kapitalis
Demi seniman-seniman angka yang terbuang dari senja
Demi musisi-musisi televisi yang dirundung nestapa
Percayalah, kita bangga dengan Endonesah?

Demi relung jiwa yang ngeri akan ria
Demi portal kebenaran yang ingin membuang sampah pada tempatnya
Demi mahasiswa yang terpaksa membelot atas dasar paksaan mama
Demi kepala yang terpaksa terbenam karena takut akan derita
Percayalah, nama negara kita, negara Endonesah, penjunjung tinggi nilai Pancasila, pemegang teguh aturan agama

Atau sebaliknya?

M Ihsan Yurin, 2016

*Terinspirasi dari pembacaan puisi Anti Pembodohan Buku 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh oleh Saut Situmorang

Bagikan Tulisan Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mungkin Kamu Tertarik