Mahasiswa Gondrong itu Keren

BINGUNGBACA – Sudah belasan tahun sejak Orde Baru mengguncang dunia, tetapi jejak dan aromanya masih saja ada. Masa iya, sih, di zaman serbamodern ini kampus masih saja resek ngurusin gaya rambut mahasiswanya?

Padahal, masih banyak urusan kampus yang lebih penting dibenahi, apalagi di kampus saya. Proyektor saja rebutan kalau mau minjam. Belum lagi sampah yang masih sering berserakan (kalau ini mindset masyarakat kampus, sih). Masjid tidak kelar-kelar dibangun, dosen lulusan agama masuk ke kelas sosial, dan lain-lain, dan macam-macam.

Sepengetahuan saya, citra lelaki yang hobi memanjangkan rambut itu sudah ada sejak masanya Soeharto menjabat. Kala itu, ada narasi agar semua kode etik dan estetika tubuh diseragamkan. Ya, mirip militer, semua bentuk dibuat hampir sama persis.

Orba waktu itu benar-benar serius menangani persoalan ini. Sampai-sampai dituangkan dalam instruksi Menhankam (Menteri Pertahanan dan Kemananan) Jenderal Soemirto yang mengirim radiogram No. SHK/1046/IX/73. Isinya, melarang anggota TNI dan karyawan di lingkungan tentara beserta seluruh keluarganya berambut gondrong. Akibatnya, di jalanan terjadi razia pria-pria berambut gondrong.

Kira-kira begitu kisah sejarah yang saya baca. Waktu kejadian itu, saya di mana, ya? Ibu saya saja lahir pada 1975.

Nah, itu kan dulu. Setelah kerusuhan 98 alias reformasi yang dibapaki oleh Eyang Amien Rais, lha kan harusnya segala hal berbau Orba hilang, termasuk stigma gondrong ini, kan? Kok sampai sekarang stigma ini masih saja ada?

Setelah beberapa kali diskusi (debat, sih, tepatnya) dan ngobrol sama dosen, ini beberapa alasan mereka larang-larang mahasiswanya gondrong. Walau tidak masuk akal, tetapi beberapa pledoi ini tetap bikin mahasiswa “baik-baik” keok dan enggak lagi berani memanjangkan rambut.

  1. Mirip preman

Preman itu terminologinya sama dengan freeman yang dijelaskan Yusuf Kalla di film Jagal. Tetapi interpretasinya jelas begajulan, jahat. Maling, rampok, tukang todong, dan segala macam bentuk keburukan masuk di dalamnya. Enggak cuma sekadar manusia bebas yang mau disuruh-suruh … bunuh orang.

Kadang suka mikir, apa dosen itu sering lupa ingatan, ya? Bos-bos mafia kurang jahat apa, sih? Pemilik perusahaan yang limbahnya hancurin sungai, hutan, sampai lingkungan masyarakat adat, apa iya rambutnya awut-awutan? Koruptor di parlemen itu juga apa ada yang gondrong?

Saya tidak berusaha melegitimasi kejahatan maling, rampok, dan semacamnya. Cuma kalau tampilan fisik dijadikan tolok ukur, memang apa bedanya? Enggak sedikit juga orang jahat yang rambutnya cepak, seragam, pakai kemeja, pakai baju koko, pakai baliho, pakai peci.

  1. Mirip tukang parkir

Kalau dipikir ulang, hati saya perih. Waktu itu, dosen yang lumayan cantik dan muda memanggil saya untuk maju ke depan kelas. Kemudian tanpa basa-basi, bilang ke saya di depan teman-teman lain kalau saya mirip tukang parkir.

“Kamu persis tukang parkir di Pasar Selasa yang sering saya lihat. Kamu enggak malu saya samain sama tukang parkir?”

Waktu itu saya cengengesan saja. Udah biasa diginiin juga. Udah kebal. Tetapi saat pulang, sisi humanis saya muncul.

Memang apa malunya jadi tukang parkir? Apa kerja membantu mengatur letak kendaraan itu sebuah kehinaan? Apa seorang tukang parkir melakukan kejahatan? Dan yang lebih miris, kenapa bisa seorang dosen dengan titel S2 bisa berpikiran sekeji ini? Titelnya sosial pula!

Keperihan ini bertambah setelah seorang teman saya bilang bahwa orang tuanya di kampung adalah tukang parkir. Dia tadi ingin sekali menjawab pernyataan dosen itu, cuma katanya percuma. Gunanya juga enggak ada.

“Toh, nanti juga dosen itu lupa sama yang dia bilang,” kata teman saya dengan tatapan nanar.

  1. Jorok

Hei, kau tahu tidak bahwa saya jauh lebih perhatian sama rambut setelah memutuskan untuk gondrong?

Jangan main asal tuduh saja. Jorok itu sifat bawaan. Sifat manusianya. Tidak ada hubungannya sama gondrong. Kalau dari awal sudah jorok, mau dia cepak atau pakai gaya rambut macam apa pun, tetap saja jorok.

  1. Tidak Islami

Cuma ini tidak terucap, sih. Tersirat saja. Kebetulan saya kuliah di universitas Islam, jadi mereka seperti mengaitkan gondrong dan agama.

Padahal, kalau mau ditelisik lebih jauh, nabi mana, sih, yang enggak gondrong? Nabi Muhammad Shalallahu’alaihiwasallam saja, di riwayat hadis-hadis, dengan jelas ditulis rambutnya kadang kala sebahu. Apa itu bukan gondrong namanya?

Pokoknya, kalau sekarang masih saja ada kampus yang melarang mahasiswanya gondrong, kampus itu cupu. Tidak reformis. Oldschool. Ortodoks. Ketinggalan zaman. Mereka enggak tahu saja sekarang banyak karyawan sebuah perusahaan yang dibolehin gondrong. Jadi enggak ada lagi alasan apa pun, termasuk susah cari kerja.

Eh, ampuni aku, ya Allah. Aku enggak bermaksud takabur!

*Tulisan saya ini pertama kali terbit di Qureta dengan judul Kampus yang Larang Mahasiswa Gondrong Itu Tidak Reformis

Bagikan Tulisan Ini

7 Comments

  1. Wkwkwkwk
    Saya pengen gondrong biar keliatan keren, tp gk betah

    #sen3ward

  2. Mungkin dosen juga lupa bahwa jangan lihat sesuatu dari sampulnya, termasuk stigma rambut gondrong

  3. I am only commenting to make you know of the nice experience our princess experienced reading through your web page. She picked up some issues, which included what it’s like to have a marvelous giving nature to let other people with no trouble thoroughly grasp specific impossible subject matter. You actually surpassed readers’ expectations. Thanks for showing the invaluable, trusted, revealing and also easy tips about your topic to Tanya.

  4. Whats up very cool site!! Man .. Beautiful .. Wonderful .. I’ll bookmark your site and take the feeds I’m glad to search out numerous helpful info here in the put up, we’d like work out more strategies on this regard, thank you for sharing. . . . . .

  5. thank you so much for this awful internet site me and my sept loved this satisfied and brainstorm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mungkin Kamu Tertarik