Mak Ijang, Tua Bangka yang Mati Disepak Kuda

BINGUNGBACA – Hawa dingin embun pagi masih semilir ketika rumah Mak Ijang riuh dipenuhi tetangga. Mereka seakan tak percaya kejadian secepat kilat itu: Mak Ijang tewas disepak kuda kesayangannya.

Kematian Mak Ijang membuat seisi kampung gempar. Mak Ijang dikenal sebagai seorang ibu yang santun, tetangga yang ramah, dan warga yang aktif berkegiatan. Bahkan di usianya yang senja dan kondisi ekonomi pas-pasan, Mak Ijang sering membantu orang miskin dan korban perang Palestina.

Belakangan diketahui ternyata Mak Ijanglah pelopor berdirinya Gerakan Peduli Palestina yang rata-rata beranggota pemuda-pemudi usia belasan.

Roni, anak Mak Ijang, juga sering dicekoki doktrin untuk tak jadi manusia egois yang hanya hidup untuk kepentingan perut dan keluarga sendiri. Mak Ijang sering memberinya wejangan berisi kombinasi ajaran Nabi Muhammad dan Karl Marx.

Terdengar aneh memang, sebab kedua tokoh tersebut bertolak belakang prinsip ketuhanannya. Akan tetapi, kata Mak Ijang, Marx sangat peka terhadap penderitaan umat manusia, persis seperti Nabi Muhammad.

Kata Mak Ijang lagi, kepedulian Nabi tak sekadar simbolik, tapi juga esensi. Nabi Muhammad tidak pragmatis yang hanya memikirkan perkara jangka singkat, namun juga jangka panjang, sampai bumi ini kembali ke Yang Kuasa.

***

Sore itu Mak Ijang tergopoh-gopoh memasuki rumah. Roni tercengang sampai lupa menyuap nasi ke mulutnya. Sampai di kamar, Mak Ijang mencari buku tulis yang biasa dijadikannya catatan agenda kegiatan penting. Ia menulis beberapa kata dengan kombinasi angka dan tanda baca. Ia juga memberi warna pulpen berbeda, pertanda ada penekanan makna pada tulisannya.

Entah apa yang ditulisnya. Yang pasti, setelah tulisan singkat itu selesai, Mak Ijang merobek kertas lalu melipat beberapa kali dan menempelnya di dinding dalam lemari baju yang terbuat dari kayu.

Mak Ijang duduk terkulai sembari bernapas dalam-dalam, tanda kepuasan. Roni masuk ke kamarnya setelah mengucap salam.

Dalam keluarga Mak Ijang, dahulu ketika suaminya masih hidup, mereka diwajibkan mengucap salam apabila hendak masuk kamar meskipun masih bersatu atap yang sama. Norma itu terbawa sampai Roni dewasa, usai 13 tahun kepergian ayahnya.

“Ada apa, Mak?”

“Ndak ada. Dah siap kau makan?”

Sambil menggerogoti tulang punggung ayam goreng, Roni menggeleng.

“Dah dah, siapkanlah makanmu. Bentar lagi magrib. Ke masjidlah kau!”

“Siap, Mak!”

Malam datang seperti biasa. Mak Ijang menyeruput kopi di dapur sambil sesekali membalik pisang goreng di wajan tua peninggalan ibunya. Menikmati suara jangkrik dan angin malam yang masuk lewat celah dinding papan.

“Sebelum Roni pulang taklim,” pikirnya, “mending aku nonton berita saja. Malas pula aku tiap hari harus mengikuti selera mudanya. Sibuk nonton film bule-bule kapitalis. Anak muda sekarang tak tahu dan tak mau tahu konspirasi-konspirasi apa yang bule kurang ajar itu ciptakan dari produksi masif film. Mereka cuma mau menikmati tanpa berpikir. Memang tidak semua, hanya saja Roni ini kurasa tak masuk pengecualian itu.”

Mak Ijang memang terkenal punya pikiran kritis. Bahkan di usia yang menginjak kepala delapan, Mak Ijang masih aktif bermedia sosial. Menyuarakan aspirasi dan membangun ikatan dengan kolega-kolega lamanya semasa kuliah dulu. Kegemarannya membaca pun tak tanggung-tanggung. Mulai dari buku atheis sampai agamis, mulai dari paling komunis sampai kapitalis, habis dilahapnya. Tapi, kecenderungannya pada buku-buku merah tetap tak dapat dipungkiri.

Di rak buku-buku kesayangannya, jumlah buku fikih, hadis, dan akidah sama banyaknya dengan buku pemikiran Marx, Lennin, Pram, Nietzsche, Tan Malaka, bahkan Bakunin, Adam Smith, Khomeini, dan yang sejenisnya. Namun bagaimana pun, Mak Ijang tetaplah muslimah seutuhnya, tetap kukuh di atas agamanya. Katanya, Islam adalah dasar pemikiran. Sedangkan ideologi-ideologi lain hanya sebatas pengetahuan belaka.

Kebiasaan Mak Ijang menyalurkan aspirasi melalui media sosial kadang membuat gerah antek-antek pemerintah curang yang selalu diawasinya. Benar saja, beberapa kali rumah Mak Ijang didatangi preman demi membungkam jarinya. Membungkam status-status media sosialnya. Tapi, ketika mendapati preman-preman itu mengamuk di halaman rumah, berteriak-teriak mengancam akan membakar rumah jika jarinya terus menulis, Mak Ijang dengan senyum sarkas melenggang keluar rumah, santai. Mak Ijang melihat gawainya lalu menekan beberapa tombol. Tak berapa lama, muncul suara. Ternyata Mak Ijang sengaja mengencangkan suara gawainya agar terdengar oleh preman-preman itu.

“Halo, Bosque!”

“Hei, Mak Ijang! Apa kabar kau?”

Mak Ijang melirik beberapa preman yang sudah mulai gemetar mendengar suara tersebut sambil berbisik halus, “Kau tahu kan siapa ini?”

“Iya, Mak,” kata seorang preman dengan suara parau, ketakutan.

“Ini, bapak dari bosnya bos kau! Kau pikir tak kenal aku jaringan bangsat bisnis bos kau itu? Aku puluhan tahun lebih dulu hidup dari pada kau! Pergi kau dari rumahku kalau tak mau kepala kau berpisah dari badan besok pagi!”

Preman-preman itu kocar-kacir berlarian. Hanya meninggalkan asap bekas kendaraan mereka di halaman rumah Mak Ijang. Mak Ijang pun tertawa setelah menutup gawainya.

Begitulah Mak Ijang. Terkenal dengan kesaktiannya dalam berpikir dan persahabatannya dengan petinggi-petinggi mafia di Indonesia. Walaupun begitu, Mak Ijang pernah mengaku kepada Roni bahwa menyelesaikan perkara tak semudah membalikkan telapak tangan. Ada banyak faktor yang harus dipertimbangkan dalam mengeksekusi sebuah permasalahan. Makanya, Mak Ijang lebih senang berorasi di media sosial, membuat gerah orang-orang licik di lingkungannya bahkan para sahabat-sahabatnya sendiri. Mak Ijang bahkan tak segan menulis nama orang yang sedang dibicarakannya di kolom status.

Sambil tertawa, Mak Ijang pernah berujar, “Kalau ada masalah sama yang satu, kan masih bisa minta tolong ke yang lain, hahahaha!”

Dengan kemampuan yang dimilikinya, Mak Ijang tak memilih jadi ‘pahlawan bangsa’ seperti politisi. Dia lebih memilih mengurus kuda-kuda peninggalan suaminya, lalu menyewakannya pada turis yang hendak berkeliling desa.

Kini, Mak Ijang sudah renta. Tiga kali lebih renta dari saat preman-preman datang memaki-makinya di halaman rumah dahulu. Kini, Mak Ijang menghabiskan waktu hanya dengan mengurus dapur, memandikan kuda, berstatus soal melulu kebaikan dunia akhirat, dan sering kali mengikuti taklim rutin di masjid samping rumah. Tidak lagi membicarakan politik sebagaimana masa gelora mudanya dulu. Paling tidak kegiatan itu baru ditinggalkannya beberapa tahun belakangan. Setelah pertama kali rutin mengikuti taklim.

***

Roni, anak satu-satunya Mak Ijang sebentar lagi punya cucu. Anak bungsunya, Susi, tengah mengandung 6 bulan. Kebahagiaan tiada tara menyelimuti keluarga Roni sampai ketika Susi, menulis beberapa kata di kertas di kamar dalam posisi persis seperti Mak Ijang dulu.

Roni termenung menyadari bahwa setelah 32 tahun kepergian ibunya, dia lupa membuka kertas yang dulu membuatnya penasaran.

Roni ke kamar ibunya. Kamar yang dibiarkan kosong agar sesekali bisa ditiduri jika ia rindu ibunya. Semuanya masih sama seperti yang ditata ibunya sebelum meninggal. Bahkan susunan baju dalam lemari tak berubah sedikit pun. Roni akan marah besar ketika ada yang memindahkan posisi barang di dalam kamar tersebut. Itu bukti kasih cintanya pada Mak Ijang yang meninggal mendadak dua hari setelah tergopoh-gopoh memasuki kamar.

Roni mengambil kertas yang tertempel rapi di dinding dalam lemari baju Mak Ijang. Lalu membuka lipatan-lipatannya. Tulisan itu masih bisa terbaca, namun samar karena tinta puluhan tahun pasti takkan sejelas ketika baru ditulis.

Roni menitikan air mata. Tak lama kemudian tersedu-sedu sampai air mata membasahi jenggot lebatnya. Di dalam surat itu, ternyata Mak Ijang meninggalkan pesan.

“Roni anakku. Nanti, ketika ibumu ini meninggal, tolong hapus semua media sosial ibu. Di sana banyak caci maki ibu terhadap orang lain dan pemerintah. Ibu takut itu menjadi pemberat bagi ibu. Namun sekarang, ibu belum rela menghapusnya karena masih ada benci yang besar dalam hati ibu. Tapi, nanti ketika ibu meninggal, tolong hapus semuanya. Ibu tak mau tersiksa, Nak! Ustaz yang mengisi taklim sore ini sudah mewanti-wanti untuk tak meninggalkan dosa sedikit pun ketika meninggal. Sebagaimana amal, dosa pun ada jariahnya, Nak. Terima kasih.”

*Cerpen saya ini pertama kali terbit di Matoakita dengan beberapa perbaikan.

Baca cerpen lainnya di rubrik Sastra

Bagikan Tulisan Ini

1 Comment

  1. […] Baca juga: Mak Ijang, Tua Bangka yang Mati Disepak Kuda […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mungkin Kamu Tertarik