BINGUNGBACA, Catatan Nongkrong – Kami, Matoa, sudah lama tidak nongkrong. Bisa jadi sebab sibuk, atau memang sudah malas saja. Namun pada Jumat (27/8) kemarin, Putri teriak-teriak di grup. Pengin kami ngobrol lagi, ngopi lagi. Kami pun terpaksa setuju.

Sebelumnya, izinkan saya memperkenalkan kami. Matoa, adalah nama yang kami sematkan pada kami sebagai identitas. Daripada kami disebut ‘orang-orangnya Ihsan’, ‘orang-orangnya Putri’, ‘orang-orangnya Wamoi’, dan lainnya, ya mending kami dipanggil ‘anak-anak Matoa’.

Kami sebut diri kami Matoa karena dulunya, kami selalu nongkrong di bawah matoa di belakang gedung fakultas. Kami berenam: saya, Wamoi, Bagus, Rico, Razak, dan Putri.

Jumat malam itu, setelah belasan purnama kami tidak bertemu, saya tersadar satu hal: kami, terutama saya, telah berubah terlalu jauh.

Begini, saya bersama teman lama, Pralegi, berencana serius membangun situs yang sedang kalian baca ini. Untuk awal, saya mengisinya dengan tulisan-tulisan lama saya beberapa tahun lalu. Saya, tentu paham bagaimana perubahan saya belakangan. Hanya, saya tetap kaget mendapati tulisan saya yang dulu bisa ‘begitu’.

“Kok aku bisa ya nulis begitu?” tanya saya ke anak Matoa lain.

Saya tahu tulisan saya tidak seberapa bagus–cenderung jelek, justru. Cuma, saya heran saja, kok, saya bisa ya mikir dan berimajinasi jadi seekor anjing, sebuah galon, atau mengkritisi peniadaan musala di fakultas, marah-marah, dan sebagainya.

Memang, konsumsi bacaan saya dulu lumayan banyak. Dulu, saya bisa sampai terbawa mimpi kalau baca sesuatu. Waktu baca Dunia Shopie, pas tidur siang, saya mimpi ketemu Alberto Knox, Socrates, Plato, Descartes, dan tentu saja, Shopie. Waktu baca Perjalanan Sunyi Bisma Dewabrata, saya mimpi ketemu tokoh-tokohnya sampai ikut ke Kurukhsetra, menyaksikan Baratayuda.

Sedangkan sekarang–meski hanya selang dua, tiga tahun–daya konsumsi baca saya anjlok. Akhir-akhir ini hanya sibuk mikirin isu, bikin isu, mengikuti isu, dan baca isu. Menulis berita, menyunting berita, mengunggah berita. Selera dan imajinasi saya benar-benar hancur. Saya bahkan tak lagi baca Mojok, Indoprogress, Basabasi. Yang saya baca cuma Kompas, Suara, Okezone, Detik, dan media yang kerap mendulang banyak klik.

“Kau masih bisa nulis cerpen? Ayoklah nulis lagi, yok. Tulisan lama kau punya magis buat aku. Membangkitkan keinginanku menulis juga,” kata Putri.

Seketika saya diam. Tersadar bahwa dua tahun belakangan saya sedang bertansformasi jadi batu, yang kaku, yang bebal. Tidak lagi ceria, tidak lagi punya rasa. Rasa imajinasi, dan rasa-rasa lainnya. Rasa peduli? Jangan tanya. Sirna sudah.

~

Di tempat kami nongkrong–mungkin pemiliknya seorang revolusioner–banyak buku, quote perjuangan, dan gambar-gambar pejuang: Marsinah, Wiji Thukul, Munir.

Ada juga tulisan ‘Gondrong bukan kriminal’, dan sebagainya, dan yang lainnya.

Saya kira, semua orang punya hak berubah menjadi apapun. Baik benar ataupun salah, sesuai standarisasi masing-masing. Tapi, tempat berasal, tempat dari mana kita mulai bergerak, berproses, harus terjaga dan tetap ada. Agar kita tahu ke mana harus pulang, ke mana harus mengulang pelajaran.

Bagikan Tulisan Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mungkin Kamu Tertarik