meja

BINGUNGBACA – Si pemilik rumah tempat aku tinggal, selalu menulis. Tapi bagiku ia bukan penulis—Roberto Bolano, Kurt Vonnegut, Ursula K. Le Guin—bukan, ia bukan seperti penulis-penulis itu. Ia saban hari berkutat dengan laptop, bahkan selalu mengacuhkan waktu. Satu kali pernah ia kulihat sedang terlelap. Akhirnya, si bocah tengil ini tidur juga, batinku. Ternyata, 20 menit kemudian ia terjaga lagi dan bangkit menuju mejanya, tempat di mana laptopnya bertengger bak ayam selasih. Ia mulai menulis. Menulis. Dan terus menulis. Kuperhatikan apa yang ditulis bocah tengil ini. “Mengapa kau gunakan “kita tahu” seakan-akan pembacamu memang benar-benar tahu saja?” Sialan si bocah tengil ini diam saja, sama sekali tak menggubris. Kuperhatikan dia menulis dengan cepat. Bahkan cepat sekali. Ia mengutak-atik tulisan yang sudah ada dan menambalnya di sana-sini, lalu selesai. Sepuluh menit saja, tuntas di tangan si bocah tengil ini. Kuperhatikan lagi, kali ini ia mengutak-atik paragraf pertama tulisan itu. “Heeey, jangan mulai tulisanmu dengan kalimat pembuka, ‘entah kenapa’. Kalau kau sendiri saja tidak tahu apa yang kamu tulis, bagaimana pembaca mengetahuinya, Anjing Buduk?” Bajingan, lagi-lagi ia mengabaikanku. Kini kursor mouse di monitor laptopnya mengarah ke kolom judul, dan si bocah tengil ini mulai mengetik.

5
FAKTA
D
O
K
T
E
R
INI
CAMPURKAN
SP
ER
MA
ke MAKANAN
I
B
U
N
Y
A

Aku membatin. Menelan ludah sesaat, dan memproses peristiwa yang barusan kusaksikan. “Luar biasa kau, Anak Muda. Ini baru namanya di atas rata-rata istilah CREATIVE WRITING. Istilah yang populer itu. Istilah yang selalu digadang-gadang oleh penulis tua yang kesepian. Ngomong-ngomong, ada unsur puisi mbeling di judul tulisanmu itu. Salut!” Dan kali ini ia tak mengabaikanku. Kukira ia menusukkan tatapannya ke arahku. “Aghhh nyamuk, Anjing!” bentaknya, sembari tangannya bergerak secepat kilat memukul tangan satunya. Kupikir aku kecolongan sepersekian detik, tak sempat beranjak aku dari tangan itu. Sepertinya tak sempat menyelamatkan diri. Paripurna sudah tugasku. Kuserahkan masa depan penulisan kreatif kepada si bocah tengil itu. Dan tidak ada dendam.

Oleh: Bagus Pribadi

Mahasiswa Ilmu Komunikasi. Pengin bisa salto sambil ngedit berita sambil menerjemahkan teks-teks.

Bagikan Tulisan Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mungkin Kamu Tertarik