“Lihat, penulis masyhur itu kembali menulis! Kali ini cerpen dan diterbitkan di koran. Saat kabar ini menyebar, seluruh koran di kios-kios ludes dibeli masyarakat. Yang tidak punya uang mencurinya lalu dibacakan di tengah lapangan sepak bola, kau tahu, menggunakan pelantang suara!”

BINGUNGBACA.COM – Alkisah, ada seorang penulis andal. Setiap orang yang membaca tulisannya seolah menjadi bagian dari tulisan itu. Tulisan itu hidup di jiwa-jiwa pembacanya lalu mekar dengan indah, seperti kaktus yang terkena embun di pagi hari.

Setiap peluncuran bukunya, orang akan berbondong-bondong mendatanginya. Jika diadakan di suatu gedung, maka ada yang rela hanya mengintipnya dari jendela, sekadar melihat rambut penulis itu.

Ia adalah legenda. Pejabat, tukang asongan, mahasiswa, siswa sekolah, ibu rumah tangga menyukai karya-karya miliknya.

“Saya tidak bisa tidur, sebab saya takut kesepian. Setelah saya membaca buku beliau saya tidak lagi takut, saya merasa tulisannya hidup lalu maujud sosok hangat yang memeluk saya ketika saya tidur,” testimoni seorang dosen wanita penggila bukunya.

Dengan logat batak, Dairi berkata, “Saya menangis saat orang tua Yahya mati, saya tertawa berteriak ‘mampus!’ saat pembunuh ayah Yahya ditikam pakai badik. Saya adalah Yahya dan semua musuh Yahya adalah musuh saya.”

Istri Dairi, si tukang tambal ban itu, keheranan saat suaminya menggebrak meja sambil bilang “mampus”. Namun, selang seminggu ia membaca buku itu, keheranannya sirna.

“Memang bajingan kali yang bunuh bapaknya Yahya tu,” ucap istri Dairi.

Singkat, padat, dan akhirnya ia berdiskusi pasal buku itu dengan suaminya.

***

Aku lalu mengisap rokok, mengembuskannya ke langit-langit sambil melirik matamu yang berbinar penasaran. Indah sekali.

“Lalu?” tanyamu singkat.

Aku melihat matamu masih berbinar heran. Gemas sekali.

“Entahlah, kabarnya semenjak penulis itu jatuh cinta ia tidak pernah menulis lagi,” jawabku.

Kau mengangkat alismu yang dua sudutnya berkerut tanda tidak mengerti.

“Mana boleh begitu, seseorang yang jatuh cinta biasanya suka menorehkannya pada sesuatu yang bakal jadi abadi. Apalagi ia seorang penulis.”

Kau mengisap rokokmu lalu berpaling padaku.

“Huh, kukira ia tak mencintai kekasihnya,” katamu ketus.

“Bukan seperti itu. Mau kuceritakan lanjutannya?” kataku.

Kau mengangguk, lalu rebah di pundakku.

***

Semenjak jatuh cinta, lebih tepatnya mabuk cinta, penulis itu tidak pernah menelurkan satu pun tulisan. Setiap ia menyelami alam ide untuk tulisan baru, ia malah memikirkan kekasihnya.

Alih-alih menuliskan perasaan cintanya seperti maestro atau pujangga yang menulis pada epos-epos mereka, penulis itu justru tidak ingin membagikan perasaan cinta yang dirasakannya kepada orang-orang.

Dalam banyak kali kesempatan wawancara mengenai mengapa ia hiatus dalam mengeluarkan karya, ia selalu berkata, “Saya sedang dimabuk cinta.”

Konon ada beberapa versi mengenai mengapa ia hiatus.

Yang pertama, kabarnya setiap ia berpikir di alam ide, yang teringat olehnya malah senyum kekasihnya, tatap matanya, binar pada sorot mata kekasihnya yang membuat candu. Ia mabuk. Alih-alih menulis, ia malah menulis surat kerinduan kepada kekasihnya.

Dalam 5 jam di ruangan kerjanya, tak kurang tujuh puluh surat rindu yang ia tulis. Walaupun surat itu tak pernah sampai karena akan terus dibakar. Ya, penggemar fanatiknya akan mencuri surat itu sebelum dikirimkan ke kantor pos. Hal itu berulang kali terjadi hingga akhirnya ia memutuskan membakar surat untuk kekasihnya itu.

Konon, dari surat yang dicuri itu pula diketahui bahwa ia selalu memikirkan kekasihnya.

Kabar yang kedua, penulis itu menjadi petani apel. Orang tua kekasih si penulis kebetulan memang seorang petani. Kabar teranyar inilah yang kudengar.

Hari ini, sudah sekitar sembilan tahun sejak isu si penulis menjadi petani apel. Tak ada lagi yang bisa melacak keberadaannya. Penggema gilanya mencari-cari penulis itu hingga ke seluruh perkebunan apel di penjuru negeri. Namun sia-sia.

“Hah, gila sekali!” katamu berseru.

“Apa yang gila?” tanyaku.

“Semua, semua tentang penulis itu,” jawabmu sambil berdecak.

“Hal yang biasa kita lihat tanpa kita pahami memang sering dibilang gila. Semua perihal gagal memahami saja,” kataku.

Kau mengangguk, lalu seperti biasa, kau lanjut bertanya lagi,

“Hei, bagaimana caranya buku penulis itu dibaca tukang tambal ban?”

Aku melanjutkan kisahku tentang penulis tersohor itu.

Kadang kala ia berjalan menyusuri kota. Setiap ia melakukan itu, ia tidak pernah melihat gedung pencakar langit. Yang ia lihat adalah apa yang ada di bawahnya; tukang tambal ban tadi, pengesol sepatu, ojek payung, dan pelancong di pasar.

Orang-orang itulah yang diberikan buku secara cuma-cuma olehnya. Sebab, harga yang dipatok penerbitnya terlewat mahal karena menjual kemasyhuran namanya.
Pembelinya kalangan elit, berduit. Ya mau bagaimana lagi, si penulis juga masih butuh uang.

Buku yang diberikannya secara cuma-cuma itu kemudian difotokopi, diperbanyak eksemplarnya lalu dijual sebagai buku bajakan. Penerbitnya kewalahan menghadapi perkara ini, tanpa mengetahui bahwa penulis itu sengaja membajak bukunya sendiri. Ia ingin bukunya dibaca oleh siapa saja.

***

Saat itu sore dan aku sedang duduk di teras rumah. Memandangi cipratan cahaya matahari di tanah yang turun dari daun-daun. Kau datang sambil tergopoh-gopoh.

“Lihat, penulis masyhur itu kembali menulis! Kali ini cerpen dan diterbitkan di koran. Saat kabar ini menyebar, seluruh koran di kios-kios ludes dibeli masyarakat. Yang tidak punya uang mencurinya lalu dibacakan di tengah lapangan sepak bola, kau tahu, menggunakan pelantang suara!” katamu dengan nafas yang naik turun.

“Untung keluargaku langganan koran itu. Lihat ini, cerpen terbarunya,” katamu lagi, sambil menyodorkan koran itu.

Cerpen itu menceritakan tentang seorang penulis yang gemar memakan apel. Suatu hari penulis tersebut menuliskan bagaimana dan dengan cara apa ia ingin mati.

Dalam cerpen itu dikisahkan sang penulis ingin duduk di atas kursi di atas meja makan. Di hadapannya ada amplop berwarna merah. Matanya sembab. Penulis itu kemudian mengambil apel, mengiris nadi.

Ia membayangkan cara ia mati, kemudian mendongengkan bagaimana pisau buah yang diasahnya sedari sore mengiris kulit luar, melukai jaringan epidermis, lalu mengiris arteri di tangannya. Darah yang keluar membanjiri meja, menggenangi piring apel. Cerpen ini dimuat di koran dengan judul Mengupas Apel, Mengiris Nadi.

“Gila …! Gila …! Bagaimana bisa dia membikin cerpen sadis seperti itu tentang kematian. Membacanya saja membuat setengah nyawaku berjalan menuju kerongkongan. Aku menahan napas saat ia bunuh diri. Sialan … Sialan …!” kutukmu.

Aku hanya diam, memandangi reaksimu, reaksi yang membuatku candu. Binar matamu, kerling saat kau menggodaku. Ah, manis sekali.

Sore ini kau pamit pulang. Katamu orang tuamu akan melakukan pengiriman apel ke luar kota dan kau akan habisi diomeli saat mereka tahu kau masih mengunjungiku. Tak enak pada suamimu, kata orang tuamu.

Kau pergi memberikan sebungkus apel pagi tadi. Sambil tersenyum kau melangkah keluar pagar rumahku. Aku masuk menata apel darimu, mengambil pisau, dan mengiris nadi.

Oleh: Putri Sari Dewi

Baru jadi sarjana, pengin kaya tapi tetap bikin konten sastra, dan tak mau menikah muda.

Bagikan Tulisan Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mungkin Kamu Tertarik