Aku hanya ingin anak-anaku semua tahu, tak ada yang aku beda-bedakan.

BINGUNGBACA.COM – Seorang ayah rela menekuni pekerjaan apa saja demi menyekolahkan anaknya. Karena yang aku tahu dan percaya, pekerjaan itu jangan dinilai dari kerjanya. Yang penting hasil dan berkahnya. Itulah pegangan dan semboyanku sampai bisa aku sekolahkan anak-anakku ke jenjang perguruan tinggi.

Pada suatu hari kucoba bekerja sebagai penjual ikan basah dengan sebuah motor sederhana beserta satu keranjang untuk berangkat ke mana-mana pasar. Di situlah awal mulai aku bekerja sebagai pedagang ikan.

Tepat saat itu anak sulungku kuliah. Berkat kehendak Allah subhanahuata’ala, diterimalah di suatu perguruan tinggi ternama di Pekanbaru. Perjuanganku tambah berat. Aku dan ibunya berjuang membiayai anak-anak kami dengan berjualan apa saja asal halal.

Tahun berganti. Belum selesai anak pertama, menyusul anak kedua. Beban tambah berat. Tapi kami tak pernah mengeluh, sebab Tuhan tak pernah tidur. Prinsipku dan ibunya, tiap manusia lahir ada rezekinya.

Dari tahun ke tahun, menyusul terus dari anak pertama sampai anak keempat. Alhamdulillah semua anakku bisa mengenyam perguruan tinggi. Cita-cita pertamaku sudah tercapai. Tinggal cita-cita kedua, apa bisa aku dan ibunya menyelesaikan pendidikan mereka hingga selesai?

Aku hanya ingin anak-anaku semua tahu, tak ada yang aku beda-bedakan.

Suatu ketika, kami sekeluarga diuji oleh Allah. Pada akhir perjuangan, ibunda mereka tercinta berpulang ke rahmatullah. Detik-detik perjuangan yang berat kami lalui, musibah dan cobaan yang diberikan kepada umatnya.

Tahun 2021, tercapailah cita-citaku yang kedua. Keempat putra-putriku menyelesaikan pendidikannya dan menyandang sarjana. Aku sangat bahagia. Sebagai orang tua sangat bangga. Berterima kasih kepada Allah subhanahuata’ala, cita-citaku sekeluarga berhasil.

Namun aku merasa ada ketimpangan. Aku datang ke Pekanbaru seorang diri. Wisuda anakku yang ketiga sudah tak ada ibunya yang mendampingi. Di situlah kesedihan yang aku alami sampai meneteskan air mata. Hampir selesai anak-anaknya, hanya bapak yang bisa hadir.

Sekali lagi ya Allah, terima kasih sebanyak-banyaknya. Kami sekeluarga tak pernah bayangkan bisa sukses dalam kondisi ekonomi sepertu ini.

Amin ya Rabbal’alamin.

Oleh: Burhan

Mantan bos para mafia besar di kampungnya. Mengawali karir sebagai pelaut yang menjelajahi negara tetangga. Namun, sejak rumahnya terbakar dan pernah ditipu rekan kerja, Burhan menghabiskan masa tua sebagai pedagang ikan.


Bagikan Tulisan Ini

4 Comments

  1. Bunda Larinka

    Wah. Gak terasa air mata jatuh ngebaca tulisan ini. Semoga Allah jadikan anak anak Bapak terutama Beno jadi anak yang sukses dunia dan akhirat. Sehat sehat untuk Bapak. Aamiin.

    1. Amiin ya Rabbal alamin 🙏🏻🙏🏻🙏🏻

  2. I am really enjoying the theme/design of your web site. Do you ever run into any internet browser compatibility issues? A couple of my blog readers have complained about my blog not operating correctly in Explorer but looks great in Safari. Do you have any tips to help fix this issue?

  3. Tampa terasa Air mata seketika jatuh begitu derasnya, teringat perjuanga ortu yg bisa mensuksesskan anak2 nya ……

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mungkin Kamu Tertarik