Membicarakan ini rasanya benar-benar mengiris hati. Meski sepak bola wanita mulai berkembang, tapi saya harus lebih dulu merasakan kehilangan percaya diri dan meruntuhkan mimpi-mimpi.

Oleh: Haslinda Burhan

BINGUNGBACA – Sepak bola adalah olahraga yang digemari hampir oleh seluruh penghuni jagat raya, termasuk saya. Pada ide bahwa sepak bola hanyalah sekadar permainan, tapi ia mampu memicu pertumpahan darah jika terlalu fanatik. Bahkan, pada level mafia, sepak bola dijadikan alat berebut kekuasaan dengan memanfaatkan pertandingan.

Tiap kali membicarakan sepak bola, terbersit di ingatan saya bagaimana rasanya kehilangan sahabat dan pendapat. Tumbuh besar dan mengalami pubertas, kecintaan saya terhadap si kulit bundar pun kian berubah.

Dari sepak bola saya mulai merasakan ketidakadilan. Dunia saya tidak lagi ramah. Kebebasan berekspresi mulai dirampas. Wanita yang bermain bola seperti jadi objek seksual untuk memuaskan pandangan mata jelalatan pria: tatapan penuh dahaga. Sorak gemuruh tepuk tangan bukan menandakan kekaguman, melainkan lebih seperti mendapat suguhkan adegan erotis. Kaum hawa dipecundangi dengan kalimat olok-olokan, seakan wanita yang bermain bola tidak punya harga diri. Kami dituding pamer bentuk tubuh, seakan kesalahan segalanya bersumber dari kami. Padahal, tidak ada yang aneh dari bentuk tubuh wanita yang hanya ingin sehat dengan gemar berolahraga.

Belum lagi kekasih yang mulai bertindak otoriter. Mengancam akan pergi jika kami ketahuan kembali mengejar bola di lapangan. Wanita mulai didikte, ditekan agar lebih banyak berdiam diri di rumah, belajar memasak atau mengotak-atik aplikasi online shop.

Juga soal anggapan wanita pesepakbola terlalu keras, mirip laki-laki, main panas-panasan, hitam, dan tidak cantik. Lagi-lagi, wanita dipaksa menelan stigma standar kecantikan. Merampas rasa percaya diri seseorang. Fisik kembali diikutsertakan.

Tidak selesai sampai di situ, kaum hawa kerap mendapatkan pelecahan seksual ketika datang ke stadion. Mulai dari catcalling hingga seksisme. Kejadian ini terekam pada laga sepak bola Liga 1 antara Persita vs PMS, 6 Maret 2020 lalu.

Rama Sugianto dan Erwin Fitriansyah yang menjadi komentator dalam laga tersebut, melontarkan kalimat tak wajar disambung gelak tawa yang membuat pendengar geram. Saat itu kamera menyorot tribun yang dipenuhi suporter wanita pendukung Persita.

“Sementara kita lihat ini dia. Saya melihat ada sesuatu yang menonjol tapi bukan bakat. Ada yang besar, tapi bukan harapan Bung Erwin. Apa itu Bung Erwin,” kata Rama.

“Perempuan-perempuan ini ya, yang yang menghiasi tribun ya,” balas Erwin.

Kita juga pasti masih mengingat jelas kejadian pada 2019 lalu mengenai seorang gadis Iran bernama Sahar Khodayari yang dilarang menonton pertandingan sepak bola. Kemudian ia memakai wig dan mantel, berlagak seperti pria agar tetap bisa menyaksikan pertandingan. Sayang, aksinya ketahuan. Ia didakwa hukuman enam bulan penjara.

Merasa tidak terima atas hukuman tersebut, ia akhirnya melakukan perlawanan keras dengan membakar diri. Meski sebelumnya sempat dilarikan dan dirawat di rumah sakit, namun luka bakar yang ia alami cukup parah hingga mengakibatkan nyawanya terenggut.

Pilu. Kematiannya tidak diberitakan oleh media resmi pemerintah Iran. Tetapi, tragedi ini diketahui oleh Federasi Sepakbola Internasional (FIFA). FIFA menyampaikan bela sungkawanya dan meminta larangan wanita menonton pertandingan sepak bola segera dicabut.

Mengutip pernyataan Amnesty Internasional, akhirnya setelah lebih dari 40 tahun sejak Revolusi Islam pada 1979, kini kaum hawa di Iran bisa ikut meramaikan suara dan bersorak gembira di Stadion Azadi, Teheran, Iran, meski harus lebih dulu dibayar dengan nyawa Khodayari.

Sudah seharusnya begini. Sepak bola untuk semua. Bukan malah dikutuk tunduk dengan kalimat bahwa sepak bola hanya untuk pria. Tak perlu melibatkan gender untuk olahraga yang satu ini. Tak perlu melontarkan kalimat-kalimat yang merendahkan martabat wanita. Pula, tak perlu melarang perempuan bermain sepa kbola. Tidak begitu cara kerjanya.

Jika alasannya tidak sesuai syariat Islam karena mengumbar aurat, maka berikan kami ruang yang pantas dan infastruktur yang tepat untuk mengembangkan bakat dan minat.

Membicarakan ini rasanya benar-benar mengiris hati. Meski sepak bola wanita mulai berkembang, tapi saya harus lebih dulu merasakan kehilangan percaya diri dan meruntuhkan mimpi-mimpi. Kekecewaan saya mungkin sudah tumpah dalam tulisan ini, tetapi kerinduan tidak. Seringkali saya rindu teman-teman saya untuk sekadar berbagi cerita dengan nafas yang masih terengah-engah. Berlari di rerumputan hijau dengan strategi yang sudah kami bangun. Tercium bau ketiak pada setiap hirupan napas. Menerima kekalahan dengan lapang dada dan berpesta atas kemenangan yang kami raih. Saya rindu itu semua.

*Tulisan ini pertama kali terbit di Fandom.id dengan beberapa perubahan.

Linda, gadis muda yang sudah lupa caranya bermain bola

Bagikan Tulisan Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mungkin Kamu Tertarik