Ilustrasi kemarahan

Langkah-langkah kecil menari sana-sini
Tersenyum manis penuh arti
seakan tak peduli apa yang sedang terjadi
Benarkah ia tak peduli atau bersandiwara diri?

Kita lebih tinggi seakan lupa diri
Padahal mengerti dan tidak tuli
Jeritan hidupnya seperti gitar tanpa tali
Tak boleh melangkahkan kaki kecilnya ke tempatmu ini

Semua sama di mata Sang Pencipta
Rata, tanpa pandang nasib dan rupa
Hanya dosa yang menjadi pembeda
Palamarta atau papakerma

***

Aku tersesat, tanpa kompas dan hanya mengandalkan matahari dan bulan
Sebuah pedang menjadi alat untuk bertahan
Kubersihkan setiap ilalang yang ada di depan
Terasa aneh di setiap ayunan
Ringan, semakin ringan
Seperti ada yang lebih dahulu membuka jalan

Aku terus berjalan
Ada sesorang yang duduk dengan senyuman
Oh ini tidak sopan
Aku mundur perlahan
Putar arah pindah tujuan

Aku awali dengan pelan
Ayunan pedang mulai tertahan
Haruskah aku berhenti atau terus berjalan?
Haruskah ini menjadi renungan atau penyesalan?

Aku tertunduk malu kepadamu Tuhan

***

Tak biasanya yang begitu sejuk
Sejuk … Peluk …
Peluk … Ambruk …
Langkahku terasa berat dan semakin membungkuk
Semua tercampur aduk hingga tak berbentuk
Masih melangkah hingga mataku melihat ke arah ufuk

Kudengar isak tangisannya
Kudengar rintihan perihnya
Kudengar auman kemarahannya
Kudengar detak jantungnya
Tapi aku tak mendengar suara hatinya

Apakah aku salah?
Apakah aku lemah?
Apakah aku tak menemukan arah?
Apakah aku harus berbenah?
Atau masikah aku menjadi seorang bedebah?

***

Busuknya permainan penguasa
Terlihat dengan telanjang mata
Setiap hari setiap bulan setiap tahun selalu sama
Apakah masih ada wujud sejati manusia?
Akal bulus berbalut tulus
Borok tak pernah pupus
Bobroknya rangka yang gampang rubuh
Bungkam sana bungkam sini
Menggrogoti pondasi tak pernah henti
Kasihan wahai kupunya negeri
Keadilan hanya sebatas lisan
Kebenaran hanya pembenaran
Janji seterang mentari
Ingkar tak pernah pudar
Mereka miskin disuap raskin
Mereka kau bekap saat ingin bercakap
Penguasa bermental penjilat pantat
Pajak segala lini makin diikat
Rakyat menjerit penguasa berkelit
Rakyat terhimpit penguasa membuncit
Urus ini disisipi upeti
Urus rakyat urusan nanti
Sejahtera cuma rangkulan penuh duri
Beda jalan kau dikebiri
Kapitalis sahabat sejati
Tunduk bak budak abadi
Pribumi seakan hanya boneka mati
Digerakkan ke sana ke mari

***

Percuma kuteriakan hal-hal yang tabu
Kuserahkan suaraku untukmu
Tak melulu hanya berkepalang rindu
Jika urusan dunia masih menjadi peringkat satu

Percuma kuletakkan karang untuk menghalau ombak
Satu demi satu hingga kuyakin tak retak
Namun ombak punya cerita yang tidak tertebak
Percayalah aku tak sekuat pohon oak

Percuma urat nadi menjadi jalan bunuh diri
Tusuk saja belati itu hingga menembus ulu hati
Perlahan, pelan-pelan saja hingga aku tak bergerak lagi
Jeritanku akan kusimpan di kemudian hari

Percuma saja aku hidup dengan rasa iba
Kulihat mereka tertindas dan hanya diam saja
Tetes keringat dan air mata menjadi humor dosa
Saat yang kau punya hanya untuk birahi nafsu durjana

***

Api-api itu membakar jerami
Kaki-kaki itu menginjak bumi
Sapi-sapi itu diperah kembali
Laki-laki itu beruntung sekali
Bayi-bayi itu menegak asi
Dewi-dewi itu melewati pelangi
Duri-duri itu menusuk jari
Babi-babi itu manusia sekali
Besi-besi itu menancap pasti
Bunyi-bunyi itu terdengar lagi
Emosi-emosi itu hinggap di sini
Geli-geli itu berfantasi
Ilusi-ilusi itu terindikasi
Intuisi penanda diri
Sepi … sepi …
Nyeri … nyeri …
Hati … hati …
Sunyi … sunyi …
Tutup mata hirup udara
Tutup cerita pergi sana
Benci-benci itu berharap tetap di sana

Oleh: Muhammad Zakia Ikhsan
Puisi-puisi marah

Biasa disapa Jack. Tukang buat kopi dan penjaja pulsa. Fans berat Batman.

Bagikan Tulisan Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mungkin Kamu Tertarik