Depresi

Peliknya, Kasim adalah tipe lelaki pemain hati yang memang pandai berakting. Belakangan waktu, aku makin sering saja menyaksikan laku tipu dayanya di hadapan Mia. Dari balik kaca jendela kantor kami, aku bisa melihatnya tampil dengan sikap manis setiap kali menerima makanan dari Mia di halaman parkir. Dari kejauhan, aku bisa membaca bahwa ia jago memberikan puji-pujian, hingga perempuan itu merasa tersanjung dan makin tertarik mengulang kebodohannya.

BINGUNGBACA – Tiga hari yang lalu saat jam istirahat kantor, setelah aku keluar dari toilet, aku melihat Tini, seorang petugas kebersihan, sedang memandang ke dalam tong sampah.

“Ah, sungguh mubazir makanan dibuang-buang begini,” katanya, terdengar prihatin.

Dengan rasa penasaran, aku pun melangkah menghampirinya. Aku lalu menilik isi tong tersebut dan melihat nasi goreng yang berserakan.

“Siapa yang buang, Bu?”

Ia lantas mendengkus pilu, “Kasim, Pak,” jawabnya.

Seketika aku menjadi gusar. Aku pun lekas menemui Kasim untuk menyampaikan protes. Aku tak habis pikir bahwa ia tega mencampakkan makanan pemberian Mia. Aku merasa kesal kepadanya, sekaligus merasa kasihan kepada perempuan lugu yang menaksirnya itu.

Kasim memang sering mendapatkan makanan dari Mia. Ia kerap menerimanya secara langsung di kos-kosannya, sebagaimana ceritanya kepadaku. Tetapi beberapa kali pula ia menerimanya di depan kantor kami, seperti yang biasa kulihat, termasuk tiga hari yang lalu itu.

Tetapi nahas bagi Mia. Diam-diam, Kasim yang pasif dalam hubungan mereka, makin kehilangan selera untuk meladeni perhatian Mia. Sebaliknya, Mia yang bertindak aktif demi mendapatkan hati Kasim, malah tampak makin memperturut sangkaan sesatnya sendiri.

Akhirnya, aku mengutuk Kasim. Aku menilai bahwa sebagai lelaki, ia seharusnya bersikap jujur kepada Mia, bahwa ia tidak memiliki perasaan yang spesial. Jikalau begitu, tentu Mia tidak akan terlalu terluka atas kenyataan cintanya yang bertepuk sebelah tangan di waktu mendatang.

Tetapi itu hanyalah harapanku yang tak sudi melihat lelaki mempermainkan perempuan. Kasim berbeda.

Sebenarnya, sudah beberapa kali aku menasihati Kasim agar ia menghargai perasaan Mia, tetapi ia seakan-akan tidak peduli. Ia malah tampak makin gandrung membodoh-bodohi perempuan polos itu. Ia bahkan beberapa kali menuturkan kebanggaannya kepadaku perihal ia yang mengabaikan makanan dari Mia, entah dengan memberikannya kepada orang lain atau kepada anjing dan kucing, seolah-olah ia memang merasa puas kalau berhasil mempermainkannya.

Peliknya, Kasim adalah tipe lelaki pemain hati yang memang pandai berakting. Belakangan waktu, aku makin sering saja menyaksikan laku tipu dayanya di hadapan Mia. Dari balik kaca jendela kantor kami, aku bisa melihatnya tampil dengan sikap manis setiap kali menerima makanan dari Mia di halaman parkir. Dari kejauhan, aku bisa membaca bahwa ia jago memberikan puji-pujian, hingga perempuan itu merasa tersanjung dan makin tertarik mengulang kebodohannya.

Tetapi ketegaan Kasim tiga hari yang lalu, kurasa sudah sangat keterlaluan. Pasalnya, ia tidak lagi sekadar mengalihkan makanan masakan Mia kepada orang kantor seperti biasa, terutama kepada Tini, tetapi malah membuangnya di tempat sampah tanpa rasa kasihan.

Akhirnya, hari itu, aku pun menyidiknya dengan nada keras di meja kerjanya.

“Kenapa kau tega membuang makanan dari Mia?”

Ia hanya tersenyum dengan raut yang santai.

“Aku sudah bosan makan nasi goreng buatannya. Lidahku sudah muak.”

“Tetapi kau seharusnya tidak membuangnya. Kau bisa memberikannya kepada orang lain,” sergahku, kesal.

Ia lantas mendengkus.

“Aku takut orang yang memakannya malah tersiksa juga karena rasanya. Bisa-bisa, mereka jadi sakit perut,” balasnya, dengan sikap bercanda.

Aku pun makin gusar.

“Kalau kau memang tidak lagi menyukai masakannya, dan kau memang tak punya perasaan kepadanya, sebaiknya kau jujurlah kepadanya agar ia tak lagi mengharapkan balasanmu,” nasihatku untuk kesekian kalinya.

Tetapi ia malah tertawa lepas sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia kemudian melangkah pergi ke luar ruangan tanpa beban perasaan, seolah-olah pesanku tak ada artinya.

Akhirnya, aku menyerah lagi untuk menyadarkannya. Aku menerka bahwa ia memang tidak akan menghiraukan kata-kataku. Aku menaksir bahwa ia mengidap kecenderungan narsistik yang pelik. Buktinya, ia sama sekali tidak risi ketika orang-orang di kantor kami mengetahui bahwa ia tidak menghargai pemberian dan perasaan Mia. Sebaliknya, ia malah tampak merasa hebat jikalau bisa menjukkan kepada orang-orang bahwa ia berhasil mempermainkan seorang perempuan.

Atas ketegaannya yang tak terperi kepada Mia, aku pun menduga bahwa ia memang tidak punya ketertarikan untuk sungguh-sungguh mencintai perempuan. Ia hanya ingin bermain-main dan bersenang-senang dengan ego kelaki-lakiannya yang liar dan sesat.

Tetapi akhirnya, dua hari yang lalu, ia tiba-tiba menuturkan kepadaku bahwa ia sedang menyukai seorang perempuan, yang tentu bukan Mia.

“Apa kau tidak merasa bersalah telah mempermainkan perasaan Mia yang tulus kepadamu?” tanyaku tak habis pikir.

Ia lantas tertawa meremehkan.

“Baik, sih, baik. Tetapi aku sama sekali tidak tertarik dengan fisiknya. Badannya terlalu kurus, dan wajahnya jelek.”

Dua orang teman kami yang lain akhirnya tergelak mendengar keangkuhannya.

Aku hanya mendengkus kesal.

Ia lalu memandangi kami dengan tatapan yang serius.

“Tetapi, seorang yang sedang kusukai dan kusasar itu, adalah seorang wanita yang sempurna. Ia cantik dan seksi. Aku yakin kalian pasti sependapat denganku setelah melihatnya.”

Seketika aku pun kesal mendengar kepicikannya dalam memandang perempuan. Ia begitu enteng menghina Mia yang menurutku cantik, sembari memuji perempuan lain yang ia anggap lebih cantik. Ia seolah telah disesatkan oleh kenyataan bahwa ia memang memiliki paras yang rupawan, sehingga ia memiliki kemampuan untuk menaklukkan perasaan perempuan mana saja.

Atas nafsu kelaki-lakiannya yang semakin menjadi-jadi dalam memperdaya perempuan, aku merasa tak bisa melakukan apa-apa lagi untuk menyadarkannya. Aku bahkan mulai menafsir bahwa sikapnya itu adalah cerminan dari watak yang terbentuk dari pengalamannya. Sebab menurut pengisahannya sendiri, ia tak pernah sekali pun gagal mendapatkan perempuan yang ia inginkan.

Akhirnya, kini, di tengah ketidakberdayaanku mengajarkannya perihal cara menghargai perempuan, aku hanya berharap pada satu saat ia akan mendapatkan tulah atas perbuatannya, hingga ia menginsafi kejahatannya sepenuh hati.

Tetapi sebelum karma itu benar-benar menimpanya, aku harus bersabar menyaksikan kenyataan bahwa selama itu pula, ia akan tetap mempermainkan Mia. Buktinya, pada hari ini, menjelang tengah hari, ia kembali menerima kiriman makanan dari Mia setelah tidak mendapatkannya selama dua hari kemarin. Ia menerima makanan itu melalui seorang tukang ojek daring, sebab kabarnya, Mia sedang tidak enak badan sehingga tidak bisa mengantarnya secara langsung.

“Jangan kau buang lagi makanan itu,” pesanku seketika, setelah ia masuk ke dalam ruang kantor kami.

“Ya, aku memang tidak akan membuangnya.“

Ia lalu menghampiriku dan meletakkan sekotak makanan tersebut di atas meja kerjaku.

“Tetapi karena kau tampak begitu peduli padanya, silakan, makanlah makanan racikannya ini.”

Aku pun tersenyum.

“Baiklah. Terima kasih.”

Ia lantas mendengkus dan beranjak ke meja kerjanya.

Untuk beberapa lama, aku menganggurkan saja makanan itu dan fokus menyelesaikan ketikan laporanku di laptop. Lalu, saat jam istirahat tiba, ketika Kasim dan teman-teman sekantorku yang lain ke warung makan, aku memilih tinggal untuk menyantap masakan Mia.

Dengan rasa penasaran, aku membuka kotak makanan tersebut. Seketika pula, aku mengendus aroma nasi goreng yang lezat, yang membuatku makin heran mengapa lidah Kasim tak berselera menyantap hidangan yang tampak enak tersebut.

Tanpa menunda-nunda waktu, aku menyantap sajian itu dengan lahap. Tetapi seiring kunyahan demi kunyahanku, perlahan-lahan, aku merasakan keanehan. Lidahku mengecap rasa pahit dan sepat, sedang tenggorokanku terasa panas dan kering. Lalu tiba-tiba, aku merasakan sakit di sisi perutku. Cepat-cepat aku bangkit dan melangkah menuju toilet. Namun di tengah langkah, aku linglung dan tumbang.

“Pak …! Pak …!” seru Tini di ujung kesadaranku, sambil mengguncang-guncangkan tubuhku.

“Tolong …! Tolong …!”

Waktu terus bergulir, dan aku tak tahu lagi apa yang terjadi.

Sampai akhirnya aku menemukan diriku terbaring lemah di rumah sakit.

Oleh: Ramli Lahaping

Kelahiran Gandang Batu, Kabupaten Luwu. Berdomisili di Kota Makassar. Aktif menulis blog (sarubanglahaping.blogspot.com). Bisa dihubungi melalui Twitter (@ramli_eksepsi) atau Instagram (@ramlilahaping).

Bagikan Tulisan Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mungkin Kamu Tertarik