Selamat Jalan Sahabatku, Pejuang Melayu (Bung) Datuk Seri Al Azhar

Bung Al Azhar kini sudah pergi dengan maqam ketokohannya yang sudah teruji. Selamat jalan, Bung Datuk Seri Al Azhar.

BINGUNGBACA – Tanah Melayu Riau berduka. Telah wafat tokoh masyarakat, budayawan dan pejuang Melayu Riau, sahabatku (Bung) Datuk Seri Al Azhar. Kepergian sahabat lama semasa kuliah dulu di almamater kampus Universitas Riau (UNRI) dan sesama sastrawan terasa begitu menyentak hati yang terdalam pada diriku dan banyak orang. Inilah catatan tersisa dalam bayang kenanganku.

Keakraban kami sesama seniman yang sama-sama aktif menggerakkan kegiatan seni budaya di Riau sejak 1980-an menjadikan kami saling memanggil diri dengan sebutan ‘Bung’ . Bahkan sampai akhir hayatnya, di saat kami bersua di mana saja bahkan saat menyapa dalam pidato resmi tetap saja memanggil saya ‘Bung Fakhrunnas.’

Panggilan ‘Bung’ bagi kami kalangan seniman dan sastrawan bisa jadi diinspirasi oleh guru kami, budayawan UU Hamidy di era masa lalu itu. Pak UU sudah terbiasa memanggil kami yang berusia jauh lebih muda dengan panggilan ‘Bung’ sampai sekarang. Walaupun panggilan Bung secara nasional marak pada masa-masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia. Pada masa itu, rakyat begitu akrab dengan panggilan Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir dan lain-lain.

Kabar wafatnya Datuk Seri Al Azhar saya peroleh dari Bu Hj Azlaini Agus, Selasa malam (12/10) lewat telepon.

“Saya baru saja dapat kabar dari Irfan, anak Al Azhar bahwa Al Azhar sudah pergi,” suara Bu Azlaini terisak.

Padahal beberapa menit sebelumnya, kami bertelepon cukup lama membahas kondisi kesehatan Al Azhar yang sudah delapan hari diopname di RS Awal Bros, Pekanbaru sejak menjalani operasi pengangkatan batu empedu.

Bu Hajjah–panggilan akrabnya–bersama Ketua FKPMR, Dr Chaidir dan Sekretaris, Endang Sukarelawan memang sempat membesuk Al Azhar di ruang ICU RS Awal Bros pada hari yang sama.

“Waktu kami besuk tadi, kondisi Al Azhar yang terbaring di tempat tidur ruang ICU antara sadar dan tidak. Awak tengoklah besok di rumah sakit,” pesan Bu Hajjah kepada saya Selasa malam sekitar pukul 22.00 WIB lewat.

Tapi beberapa menit setelah komunikasi telepon kami berakhir, Bu Hajjah menghubungi saya lagi dan mengabarkan bahwa Datuk Seri Al Azhar telah mengembuskan napas terakhirnya tepat pukul 22.04 WIB. Terus terang, saya tertegun karena di luar dugaan sahabatku, Al Azhar sudah tiada. Begitu tiba-tiba.

Bung Al Azhar memang orang baik. Orang ramai dari berbagai kalangan berdatangan sejak di ruang ICU RS Awal Bros hingga dibawa pulang ke rumah duka di kawasan Sei Mintan, Pekanbaru hingga keesokannya dilepas dari rumah duka itu menuju Gedung LAM Riau untuk disemayamkan sebagai penghormatan terakhir. Bung Al Azhar masih menjabat Ketua Majelis Kerapatan Adat LAM Riau. Begitu pula saat disalatkan di Masjid Agung An-Nur, masyarakat masih tumpah-ruah. Titik akhirnya, saat dimakamkan di TPU Air Dingin, Marpoyan, Pekanbaru. Selanjutnya suasana ramai itu berlangsung dalam malam-malam takziah di rumah duka.

Sesama Sastrawan

Perkenalan saya dengan Bung Al Azhar diawali saat sama-sama aktif di bidang sastra di Pekanbaru. Di kampus UNRI, kami sama-sama jadi aktivis kampus di fakultas yang berbeda. Saya aktif di Fakultas Perikanan dan Al Azhar di FKIP. Sejumlah sastrawan lain di FKIP masa itu di antaranya Syafruddin Saleh Saj Gergaji (sekarang sudah jadi ustadz), Dasri Al Mubari (Alm) dan beberapa nama lagi. Menyusul generasi berikut seperti Taufik Ikram Jamil, Dheni Kurnia, Elmustian Rahman, dll.

Banyak sastrawan seangkatan 1980-an itu bermunculan di Riau, khususnya Kota Pekanbaru. Di antaranya, M. Husnu Abadi, Tien Marni, Aris Abeba, Zoel Berros, Zulkifli MZ, Wise Marwin, Ita Octavia, dan masih banyak lagi.

Waktu itu, kami mengikuti jejak para senior kami yang nama-namanya sudah masyhur pada masa itu seperti Idrus Tintin, UU Hamidy, Ibrahim Sattah, BM. Syamsuddin, Ediruslan Pe Amanriza, Rida K Liamsi, Hasan Yunus, Taufik Effendy Aria, Wunuldhe Syaffinal, Syamsul Bahri Judin, dan lain-lain.

Pertemuanku dengan Bung Al Azhar terjadi dalam banyak even sastra seperti perayaan Hopla (Wafatnya Chairil Anwar), Lomba Baca Puisi di kampus dan sekolah-sekolah atah seminar dan diskusi sastra. Seingatku, Al Azhar bersama sastrawan kampus FKIP UNRI merupakan penggagas kegiatan Praktikum Sastra bagi para mahasiswa Prodi Bahasa dan Sastra yang adu kebolehan dalam atraksi sastra. Even ini masih berlanjut sampai sekarang.

Kedekatan saya dengan Bung Al Azhar semakin bertambah ketika kami bersama aktivis kampus UNRI seangkatan diberi kepercayaan mendirikan dan mengelola surat kabar kampus Bahana Mahasiswa pada 1983. Saya dipercaya menjadi Pemimpin Redaksi pertama sedangkan Al Azhar bersama sejumlah aktivis utusan semua fakultas di UNRI menjadi redaktur. Di antaranya, WE Tinambunan (Wapemred), Netty Herawati (Sekred), Septina Primawati (Bendahara), Said Suhil Achmad, Nyat Kadir, Daeng Ayub Natuna, Yasin Abdi, Ridar Hendri, dan masih banyak lagi. Mantan Gubri, M Rusli Zainal yang masih kuliah di Fakultas Ekonomi juga cukup akrab dengan Bahana Mahasiswa karena sering bergabung dalam komunitas koran kampus ini.

Kemudian bergabung pula Yusmar Yusuf, Bahtiar (Sekretaris Redaksi), Mafirion, Said Ardillah, Helmi Edwar Darlis, Burman dan puluhan nama lainnya.

Al Azhar mengasuh rubrik Sastra Budaya yang diberi nama ‘Punca.’ Sekali sebulan, Al Azhar menulis esai-esai budaya dengan bahasa yang menarik. Berbunga-bunga penuh metaforik.

Bung Al Azhar selain aktif di sastra juga menjadi pemain Teater Bahana binaan teaterawan, Idrus Tintin. Sebab grup teater itu memang berbasis di SMAN 2 Pekanbaru, tempat Idrus mengajar. Sejumlah pementasan teater di Riau menampilkan Al Azhar menjadi aktor utama. Kelak, beberapa kali Al Azhar ikut membintangi film layar lebar, di antaranya Tuanku Tambusai, Raja Ali Haji, dsb.

Minat Al Azhar pada bidang sastra tradisional atau sastra lisan Melayu Riau telah mengantarkannya aktif dalam wadah Asosiasi Tradisi Lisan (ATL). Bahkan ia duduk dalam kepengurusan ATL Riau. Aktivitas dalam tradisi lisan ini menjadikan Al Azhar terlibat dalam banyak penelitian yang berkolaborasi baik di dalam maupun luar negeri. Jaringannya pun berkembang sampai AS, Canada dan Belanda.

Ketika ATL menggelar Seminar Sastra Lisan di Pekanbaru, Al Azhar–saya juga ikut jadi peserta–merupakan peserta termuda. Waktu itu, Al Azhar mendapat kepercayaan melanjutkan pendidikannya dan melakulan penelitian di bidang budaya Melayu di Universitas Leiden, Belanda. Beberapa tahun dia di sana hingga meraih gelar MA.

Sepulang dari Belanda, Al Azhar cenderung menekuni kegiatan penelitian kebudayaan Melayu. Aktivitas ini mendekatkan dirinya dengan banyak ahli dan peneliti budaya di sejumlah kampus di Indonesia, LIPI, Kemendikbud dan sebagainya. Bahkan di sebuah majalah sastra nasional, Al Azhar duduk sebagai redaktur.

Tokoh Pergerakan Reformasi

Pada masa perjuangan Era Reformasi tahun 1998, Al Azhar mulai tampil dalam aktivitas demonstrasi bersama banyak tokoh muda di Riau masa itu. Al Azhar pula yang mengomandoi besar-besaran para pemuda dan mahasiswa yang menamakan diri ‘ARUK’ di sejumlah perusahaan besar di antaranya perusahaan minyak PT CPI.

Begitu pula ketika digelar Kongres Rakyat Riau II yang akhirnya memilih opsi merdeka, Al Azhar juga terlibat bersama puluhan tokoh lain, di antaranya Tabrani Rab, Azlaini Agus, dan masih banyak lagi.

Tabrabi Rab yang sejak lama sudah memproklamirkan diri sebagai Presiden Riau Merdeka dan sempat membacakan Proklamasi Riau Merdeka di rumah kediamannya di Jalan Pattimura pada masa Presiden Abdurrahman Wahid, berhasil diajak menjadi Anggota DPOD (Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah).

Perubahan sikap Tabrani Rab ini dianggap pengingkaran terhadap perjuangan menuju Riau Merdeka. Akhirnya Al Azhar menyatakan diri mengambilalih posisi Presiden Riau Merdeka itu sampai akhir hayatnya.

Semenjak itu, Al Azhar lebih banyak terlibat dalam kegiatan pergerakan masyarakat di samping kegiatan kebudayaan Melayu. Al Azhar bersama banyak tokoh di Riau ikut dalam perjuangan perolehan Dans Bagi Hasil (DBH) Minyak Riau yang sudah dieksploitasi lebih setengah abad dan berkontribusi lebih dari 60 persen pada APBN Indonesia. Terakhir, ketika, PT CPI berakhir masa kontraknya melalui LAM Riau, Al Azhar bersama pengurus lain mendirikan BUMA (Badan Usaha Milik Adat) untuk ikut mengelola perusahaan minyak bersama Pertamina.

Begitu pula, Al Azhar dalam kapasitas sebagai tokoh Melayu terus menyemangati para karyawan Melayu di perusahaan-perusahaan besar di Riau seperti PT CPI, RAPP, Indah Kiat, PTPN V, dan lain-lain. Tujuannya agar manajemen puncak perusahaan tersebut memberikan alokasi yang lebih besar pada pekerja tempatan. Bahkan, Al Azhar selama bertahun-tahun diajak sebagai Penasehat Program CD PT RAPP.

Keterlibatan di LAM Riau

Sewaktu Alm Dr HC Tenas Effendy ingin mundur sebagai Ketua Harian LAM Riau–belasan tahun silam–Pak Tenas pun membujuk Al Azhar ikut bergabung. Dalam penilaian banyak orang, gaya hidup dan penampilan Al Azhar yang ‘nyeni’ (rambut gondrong, brewokan) dirasa masih perlu dipertimbangkan lagi.

Tapi, Pak Tenas dengan keyakinannya berhasil menempatkan Al Azhar yang terpilih menjadi Ketua Harian LAM Riau melalui Musda LAM Riau. Saya masih ingat pidato perdana Al Azhar saat pelantikan yang tampil sangat rapi dan klimis dalam balutan baju Melayu dan tanja hitam beragi keemasan:

“Pengorbanan terbesar saya saat dipercaya memangku jabatan Ketua Harian LAM Riau ini adalah dengan memotong rambut dan janggut saya sehingga tampil rapi seperti terlihat saat ini.”

Itu hujjah Al Azhar yang membuat hadirin bertepuk tangan.

Beberapa hari kemuduan saat saya bertemu dengan Pak Tenas di rumahnya–aktivitas ini sering saya lakukan karena dipanggil Pak Tenas berbincang dan diskusi–saya sempat mempersoalkan terpilihnya Al Azhar sebagai Ketua Harian LAM Riau itu. Dia memang selalu jadi obor Melayu yang tak pernah padam.

Pak Tenas langsung saja menanggapi, “Tak apalah, mudah-mudahan Al Azhar itu bisa berubah karena ada tanggung jawab yang besar dalam menegakkan marwah adat Melayu Riau ini. Saya yakin dia mampu dan mau mengemban tugas mulia itu dengan bertanggung jawab.”

Al Azhar pun membuktikannya selama bertahun-tahun hingga saat menghembuskan napas terakhirnya. Dia tampil sebagai sosok yang matang dan berwibawa baik dalam upacara adat saat penabalan Datuk Seri bagi tokoh-tokoh Riau dan nasional–di antaranya Presiden Jokowi, Presiden Penyair Sutardji Calzoum Bachri, Rida K Liamsi, para Guberbur Riau, Ustadz Abdul Somad, dll–maupun saat tampil berdampingan dengan para petinggi negeri dan pemuka masyarakat lainnya. Terakhir Al Azhar duduk sebagai Sekretaris Dewan Pembina Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Riau di mana Ketua Dewan Penasehat dan Ketua Pembinanya Wagubri, Timbalan Datuk Seri Setua Amanah, H Edy Natar Nasution.

Bung Al Azhar kini sudah pergi dengan maqam ketokohannya yang sudah teruji. Selamat jalan, Bung Datuk Seri Al Azhar.

Oleh: Fakhrunnas MA Jabbar

Fakhrunnas MA Jabbar adalah budayawan, sastrawan, dan kini merupakan anggota Dewan Kehormatan Adat Melayu LAM Riau

Bagikan Tulisan Ini

1 Comment

  1. I’ve noticed that fixing credit activity must be conducted with techniques. If not, chances are you’ll find yourself endangering your ranking. In order to grow into success fixing your credit history you have to ascertain that from this moment in time you pay your monthly expenses promptly before their timetabled date. It is definitely significant because by certainly not accomplishing so, all other measures that you will choose to adopt to improve your credit rating will not be powerful. Thanks for revealing your suggestions.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mungkin Kamu Tertarik