Semakbelukar

Tak terbilang galaunya saya waktu itu, hingga mulai mempertimbangkan kematian. Sepertinya kematian lebih mudah daripada hidup yang rumit ini. Sampai, saya menemukan lagu Semakbelukar. Saya pencet tombol play.

BINGUNGBACA – Beberapa waktu yang lalu media sosial sempat dihebohkan oleh sekelompok santri penghafal Alquran yang menutup telinganya saat mengantri vaksinasi Covid-19. Pasalnya di lokasi vaksin itu, entah bagaimana ceritanya, ada alunan musik. Netizen, seperti biasa, langsung mengeluarkan beragam reaksi tanpa diminta.

Ada yang pro dan kontra. Yang pro bilang wajar para santri itu menutup telinga, karena mereka sedang menghafal dan musik bisa merusak konsentrasi mereka yang berakibat pada hilangnya hafalan. Sedangkan yang kontra menganggap para santri itu berlebihan. Bahkan, di Twitter ada yang mencuit, indoktrinasi mengharamkan musik seperti yang ditunjukkan para santri itu tidak beda jauh dengan Taliban, ISIS, Al Qaeda dan Wahabi Takfiri. Widiw ~

Cerita tadi hanya pengantar. Saya tidak akan membahas soal para santri, tapi soal musiknya. Soal haram tidak haramnya musik yang, bagi saya pribadi, masih debatable.

Saya tahu sebagian besar ulama mengharamkannya, ada pula yang membolehkan asal musiknya tidak mengajak pada kemaksiatan. Persoalan ini juga bukan barang baru, dalam video-video ceramah ustaz di YouTube sudah banyak dibahas. Silakan cari sendiri.

Saya suka mendengarkan musik, tapi tidak sampai merasa hampa juga kalau tidak mendengarkan dalam satu hari. Bagi saya musik seperti soundtrack di dalam film, hanya diperlukan di saat-saat tertentu dan justru merusak jika diperdengarkan sepanjang waktu. Ada kalanya bagi saya musik itu sangat mengganggu, misalnya saat menulis. Tapi ada saatnya saya butuh musik sebagai teman biar tidak sepi, misalnya saat mencuci piring.

Bicara soal keharaman musik, saya ingin cerita tentang pengalaman saya yang justru mengingat Tuhan sampai menangis meraung-raung karena musik. Lebih tepatnya, karena sebuah band bernama Semakbelukar dan lagu mereka yang berjudul Hina Dina.

Sebenarnya saya bisa dibilang terlambat mengenal Semakbelukar. Band folk ini konon sudah berhenti bermusik sejak 2014, sedangkan saya baru menemukan mereka pada 2020.

Tahun 2020 adalah tahun yang cukup berat bagi saya; menganggur, padahal sudah lama sarjana dan dihantam krisis seperempat abad. Belum pernah saya merasa hidup sekacau itu, dan semakin diperparah oleh kondisi keluarga yang memang, katakanlah… ehm, sedikit disfungsional (?)

Intinya, 2020 adalah tahun yang berat bagi saya. Tapi bahkan dalam situasi seperti itu, saya masih mencoba melakukan apa yang paling saya sukai: menulis.

Saya memang punya mimpi menjadi penulis cerita fiksi, dan jujur saja, saya merasa cukup memiliki bakat di bidang ini.

Namun, saya menerima penolakan cukup keras dari orang terdekat. Beliau meminta saya untuk realistis dan hidup di dunia nyata, mencari pekerjaan yang sesungguhnya. Ya, menurut beliau penulis bukan profesi sungguhan. Dan, beliau juga bilang tulisan saya tidak akan menghasilkan apa-apa karena tidak enak dibaca.

Tak terbilang galaunya saya waktu itu, hingga mulai mempertimbangkan kematian. Sepertinya kematian lebih mudah daripada hidup yang rumit ini. Sampai, saya menemukan lagu Semakbelukar. Saya pencet tombol play.

Kurasakan yang kau rasa
di saat kau tersingkirkan
padahal kau bukanlah sembarang

Insan yang selalu berkarya
bermimpi tak untuk kaya,
berdirimu dengan daya upaya

Saya terdiam mendengar lirik itu. Musiknya pun unik, ada suara gitar, gendang, bahkan mungkin kecapi? Seperti musik tradisional, tapi tidak juga.

Suara si vokalis terdengar penuh penghayatan. Jujur saja suaranya tidak merdu luar biasa, tapi penghayatan dan dayunya itu, benar-benar mengesankan.

Bayangkan sepi tak lagi
menusuk seperti duri
karena diri tak kan bisa sembunyi

Si vokalis menaikkan oktaf suaranya, menyayat hati saya yang memang sudah tak karuan bentuknya.

Kita ini bukan yang mulia,
bukan pula yang kuasa
Kita hanya manusia biasa,
hina dina dari tanah

Saya menangis. Awalnya hanya linangan air mata tak bersuara, lama-lama saya terisak, dan akhirnya meraung seperti bocah tidak kebagian permen.

Benar, saya lupa bahwa saya hanya manusia biasa. Saya memiliki keterbatasan, saya tidak sempurna dan banyak kurangnya. Mana boleh saya menggugat Tuhan dan bermisuh-misuh ria tanpa mengeluarkan usaha maksimal. Saya cuma tanah, mana boleh punya sifat langit.

Kudapatkan sebuah arti
dari bentuk kerelaan
tatkala aku dicaci dimaki

Saya terlalu fokus pada perkataan buruk orang lain. Tidak seharusnya saya menghukum diri karena orang lain yang tidak bisa melihat kebaikan pada diri saya. Jika saya bisa merelakan itu, tentu saya akan lebih bahagia.

Coba berhenti meratap
dan mulai untuk percaya
kematian itu akan terjadi
kematian itu sedang terjadi
kematian itu pasti terjadi

Saya menangis, menyesali pikiran sesat saya yang dengan sombongnya mengira kematian akan lebih mudah.

Tidak perlu saya kejar, kematian itu akan terjadi, seperti lirik Semakbelukar. Bahkan, kematian itu sedang terjadi, jika saya tetap berkubang dalam ratapan. Dan lagi, kenapa saya terlalu merasa dipusingkan oleh hidup? Namanya juga hidup. Dunia ni nyo.

Rasa sedih saya berganti malu pada Tuhan. Sudah cukup lama Dia saya tepikan.

Hubungan kami memang tidak pernah terlalu harmonis. Saya bukan orang yang religius, saya jarang beribadah sekalipun kepala saya dibungkus kain. Dengan segala hal yang terjadi sejak saya kecil, saya menyimpan banyak ketidakpuasan pada hidup, pada dunia, bahkan pada Tuhan.

Sementara suara vokalis Semakbelukar menghujam gendang telinga, saya mengingat kembali segala kebaikan Tuhan pada saya selama ini.

Ah, tentu saja Dia Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Bahkan walau saya terlampau sombong dengan mengacuhkannya, sibuk meratap, lupa bersyukur, Dia masih saja baik. Bisa saja Dia kirimkan satu peleton burung yang melempari kepala saya dengan kerikil, tapi Dia lebih memilih untuk mengirimkan musik merdu dan lirik penuh arti dari Semakbelukar. Bahkan cara Dia menegur halus sekali.

Saya menangis meraung-raung menyadari betapa ringkihnya iman saya selama ini.

Saya matikan musik, lalu buru-buru ke kamar mandi untuk mengambil wudu dan salat, saya mau minta maaf pada Tuhan.

Oleh: Rinai Bening Kasih
Rinai Bening Kasih

Perempuan, kalau senggang bekerja sebagai jurnalis.

Bagikan Tulisan Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mungkin Kamu Tertarik