Silampukau, Grup yang Membuatku Ingin Kuliah

Silampukau

Mendengarkan Silampukau, aku membayangkan sore, menghisap rokok, tenang di kampus dengan rambut gondrong, menulis, bernyanyi, membaca puisi, berdiskusi, menghasilkan karya, hidup seadanya, terus produktif, dan tetap menghasilkan uang dengan cara serabutan. Yang penting: bisa tetap hidup dan memang begitulan manusia seharusnya.

BINGUNGBACA – Dalam ilmu psikologi, setiap hal itu punya warna aura. Termasuk menurutku grup musik. Entah pemahamanku soal warna salah, tapi kurasa Silampukau auranya kuning, tepatnya jingga seperti senja.

Aku mendengarkan mereka sebelum kuliah pada 2015 silam. Waktu itu, grup dengan sistem indie meledak lagi. Hanya genrenya jauh berbeda dari grup-grup indie satu dekade sebelumnya, kayak The Adams, Pee Wee Gaskin, mungkin juga Club 80’s.

Teman-teman nongkrongku tahu banyak soal grup indie pada 2015-an itu. Sedangkan aku masih terus-terusan mendengar Lamb of God, Burgerkill, dan Deadsquad.

Akhirnya, sebab insekyuritas itu, aku browsing di internet kata kunci “band indie terbaru”. Muncul beberapa nama seperti Star and Rabbit dengan Man Upon The Hill, Fourtwnty dengan Aku Tenang, Tetangga Pak Gesang, Payung Teduh, Efek Rumah Kaca, hingga Silampukau dan yang lainnya.

Aku dengarkan rentetan grup yang disarankan itu satu per satu di Youtube. Semuanya enak, semuanya asik. Tapi cuma Silampukau yang waktu itu bikin perasaanku jadi aneh. Ada rasa “kampung” di setiap lagu-lagunya. Sederhana. Mengena.

2015 adalah waktu aku bergulat dengan rencana dan perhitungan, apakah aku benar-benar bisa kuliah atau tidak. Baik itu darimana biaya didapat, bagaimana menjalani hidup, apakah bisa bertahan lama, dan segalanya. Tapi, saat mendengar lagu-lagu Silampukau, semua perhitungan dan ketakutan itu seakan sirna.

Apa ya, aku juga sulit menjelaskannya. Tapi, saat mendengarkan Silampukau, terasa kuat olehku aura kuning jingga, sore, kampung, dan sederhana itu. Seakan-akan kehidupan ini, ya begitu saja. Semua manusia memiliki kesusahannya masing-masing. Makanya kita mesti santai.

Apalagi, Silampukau membawakannya kental dengan nuansa Jawa, Surabaya. Aku yang sejak dulu pengin kuliah di pulau itu, ditambah memang keturunan Minang-Jambi-Jawa, tentu membuat lagu mereka betul-betul masuk ke dalam jiwa.

Mendengarkan Silampukau, aku membayangkan sore, menghisap rokok, tenang di kampus dengan rambut gondrong, menulis, bernyanyi, membaca puisi, berdiskusi, menghasilkan karya, hidup seadanya, terus produktif, dan tetap menghasilkan uang dengan cara serabutan. Yang penting: bisa tetap hidup dan memang begitulan manusia seharusnya.

Maka, jujur saja, Silampukau salah satu hal yang membuatku yakin untuk melanjutkan pendidikan di Pekanbaru. Meski suasana Silampukau yang sore dan Jawa dan tenang dan keren hampir tidak kudapatkan di Pekanbaru, tapi saat aku otakku “lumpuh” di hari-hari perkuliahan, Silampukau adalah tempatku kembali. Kembali tenang, kembali sederhana, kembali hehe.

***.

Sebenarnya sudah cukup lama aku tak mendengarkan Silampukau. Tepatnya semenjak pekerjaan menghabiskan hampir seluruh waktuku. Tapi, minggu lalu teman kantorku, Bagus, tiba-tiba memutar Sambat Omah dari album Dosa, Kota, dan Kenangan. Seketika kepalaku menoleh ke arahnya.

“Anjing, udah lama kali rasanya ga dengar Silampukau,” kataku.

“Iya. Aku baru tadi malam juga dengar lagi,” kata Bagus.

Kami berdua bersaut-sautan, ikut bernyanyi. Seisi kantor diam saja. Tak tahu apa yang membuat kami sangat bahagia. Dan sederhana.

Waktu memang jahanan, kota kelewat kejam, dan pekerjaan menyita harapan …

Oo, demi Tuhan, atau demi setan, sumpah aku ingin rumah untuk pulang …

Oleh: M Ihsan Yurin
Bagikan Tulisan Ini

3 Comments

  1. Last kid from pluto

    Tulisan mu hidup.

    1. Terima kasih banyak 🙂

  2. […] Baca juga curhatan lainnya: Silampukau, Grup yang Membuatku Ingin Kuliah […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mungkin Kamu Tertarik