Soekarno

BINGUNGBACA – Seorang manusia butuh teman. Sekumpulan orang butuh pemimpin. Sekumpulan pemimpin butuh persatuan. Persatuan akan menciptakan sebuah komitmen yang sistematis. Sebuah negara, ya negara. Dan negara butuh pengakuan. Pengakuan untuk apa? Kemerdekaan. Kemerdekaan tercapai dengan perjuangan, tak bisa hanya membalikkan telapak tangan.

Soekarno memang sosok yang ditakuti. Tapi, dunia bukanlah rimba. Singa di hutan memang bersenang-senang dengan segala kenikmatan dan tetap ditakuti. Berbeda hal dengan Soekarno, beliau bukan singa, tapi manusia nasionalis, seorang yang loyal terhadap negaranya. Ditakuti pihak lawan? Ya, tapi itu justru membuatnya jatuh bangun untuk perjuangan.

Pulau Ende, adalah salah satu dari sekian banyak kesakitan yang beliau rasakan dalam asam garam perjuangan. Ditemani sang istri, Inggid Garnasih yang selalu menjadi sosok penyemangat di balik wibawa sang proklamator, Bung Karno.

Pada 1934, waktu pertama kali Soekarno menginjakkan kaki di Pulau Ende. Tempat pengasingan oleh kolonial Belanda bersama istri dan metuanya karena dianggap seorang yang gerakannya berbahaya.

Kesendirian dan pengekangan bukan penghalang bagi Soekarno untuk tetap menjadi seorang nasionalis. Banyak hal yang dilakukannya untuk terus memerjuangkan kemerdekaan. Belanda salah menyagka bahwa pengasingan akan menyempitkan ruang gerak Bung Karno. Justru, dengan terasingnya di pulau Ende, dia seperti mendapat ilham dengan membuat sebuah teater sebagai sarana berjuang.

Ini bermula ketika Bung Karno mengadakan pengajian rutin di kediamannya di pulau Ende. Walaupun rezim berkuasa saat itu mencurigai gerak-gerik yang ada di dalam pengajian, namun tak ada alasan bagi Belanda untuk membatasi sebuah acara keagamaan. Sampai pada akhirnya, beliau menyusun sebuah naskah teater yang halus tetapi membakar semangat pemuda setempat untuk berjuang.

Seorang pastor Belanda yang sejujurnya tak pernah setuju dengan pengeksploitasian bangsa yang dilakukan negaranya, turut membantu Bung Karno dalam setiap aksinya. Salah satunya, menjamin Bung Karno agar terbebas dari penangkapan yang terjadi usai pementasan teater di lingkungan sebuah gereja karena dituduh membangkang kepada Belanda.

Film garapan Viva Westi yang bekerja sama dengan Kemendikbud ini membuka mata setiap orang, terkhusus pemuda dan pemudi Indonesia yang sudah tak kenal perjuangan, bahkan rasa nasionalis dan cinta tanah air yang secara tak sadar telah pudar dengan pasti.

Mengenal tokoh perjuangan itu penting. Sama pentingnya ketika orang tua berkisah betapa susahnya kehidupan yang dulu dijalani sebagai pelajaran bagi anaknya. Paling tidak, kebodohan yang dahulu dilakukan diharapkan tak terjadi lagi di masa kini.

Kenal? Bagaimana akan kenal bila tak berusaha mengenal? Film adalah salah satunya. Banyak pemuda pemudi yang mungkin hanya punya sedikit rasa keingintahuan terhadap negara menjadi tergugah setelah mendapat gamparan keras dari film-film seperti ini. Setidaknya, mereka akan tahu bahwa pengetahuannya terhadap perjuangan bangsa tak sebanyak koleksi bedak, lipstik, dan deodorannya.

Sadar bahwa Soekarno bukanlah sosok yang monoton dan kaku terhadap metode perjuangan—misal pemberontakan dan demonstrasi—dapat dilihat dari caranya berjuang lewat teater. Terinspirasi dari para wali songo yang menyebarkan Islam dengan drama, Bung berkeyakinan bahwa teater akan membakar semangat pemuda, meski tidak dengan cara frontal.

Tidak harus dengan cara yang sama adalah kata kunci perjuangan hari ini. Tak harus bela negara, tak harus angkat senjata, tak harus duduk di kursi legislatif, tak harus ikut organisasi pergerakan, dan tak harus teriak panas-panasan demonstrasi, jika hanya ingin menunjukkan sikap nasionalis dan perjuangan.

Nasionalis ada di hati, akan dan pasti tumbuh bila ada feedback kongkrit dari pihak yang di-nasionalisi-kan. Bung Karno tetap bersungguh-sungguh berjuang dikarenakan tetap melihat semangat membara dalam jiwa pemuda bangsa kala itu. Berbeda dengan sekarang. Zaman telah berganti. Perjuangan tak lagi dengan cara yang sama. Sudah tak lagi terlihat ada feedback positif dari setiap pergerakan anak bangsa. Demonstrasi hanya berujung sia-sia. Tetap saja berpangkat besar yang berkuasa. Tetap saja yang berharta melimpah yang berjaya. Indonesia telah berubah. Inilah negeri kita.

Belajar, menulis, berkarya, patuh agama, dan banyak lagi cara lain untuk kita berjuang. Soekarno sebagai sosok panutan. Bahwa perjuangan tak pernah sia-sia, dan perjuangan tak harus dengan metode yang sama.

*Dikutip dari tugas essay Beri Lananda, mahasiswa Analisis Kimia Angkatan 51 Diploma IPB

Bagikan Tulisan Ini

2 Comments

  1. […] Baca juga esai lainnya: Soekarno dan Perjuangan Masa Kini […]

  2. belly laugh truly an awful cognitive content thanks so much for sharing i will confabulate this enthusiastic site every lone daylight

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mungkin Kamu Tertarik