Surga

“Si tua keparat itu, dia yang penuh dosa aku yang dibikin repot memesan surga untuknya.”

BINGUNGBACA – Saat usianya 13 tahun, Syahdan kabur dari rumah bersama sebatang rotan milik bapaknya dan beberapa lembar uang yang diambilnya tanpa izin dari dompet ibunya. Syahdan kabur karena sudah muak dengan hafalan Alquran yang harus disetor kepada bapaknya setiap hari selepas magrib.

Segala sesuatu ada sebab dan awal mulanya, karena itu aku harap kau jangan terburu-buru mengatai Syahdan sebagai anak durhaka, atau lebih parah, seorang muslim yang buruk hanya karena dia muak menghafal Alquran. Pertama, demi Tuhan, dia masih anak-anak, dan kedua, kau belum membaca ceritaku ini sampai habis.

Saat ini aku sudah dewasa dan kisah Syahdan terjadi sudah lama sekali. Sebagai orang dewasa, tentu aku mengerti jika sudah terlintas di benakmu pemikiran seperti betapa bodoh dan meruginya Syahdan. Sebab semua orang tahu, menjadi penghafal Alquran punya banyak keuntungan, terutama jika kau masih belia.

Kau bakal diundang untuk membacakan Alquran ke acara-acara yang digelar oleh pejabat, dan tidak hanya diberi uang yang banyak serta disuguhi makanan enak, kau juga akan diperlakukan bagai pangeran kalau bukan sejenis nabi.

Karpet akan dibentangkan untuk kau lalui, ditambah sepasukan laki-laki yang siap menjagamu dari serbuan orang-orang dekil yang berebut menyambar dan mencium tanganmu dengan harapan menghisap berkah Tuhan. Tapi, Syahdan tidak berselera dengan semua keistimewaan yang bisa saja dia dapat itu.

Cerita ini juga sudah banyak dituturkan oleh penduduk kampung kami, menurut versinya masing-masing. Pelarian Syahdan bersama rotan milik bapaknya telah menjadi sesuatu yang dirasa penduduk kampung kami pantas untuk diceritakan kepada siapa pun yang memiliki cukup waktu untuk mendengarnya. Orang-orang kadang juga mendatangiku untuk mendengar cerita yang mereka rasa lebih bisa dipercaya, karena aku adalah orang pertama jika bukan satu-satunya yang ditemui Syahdan sebelum dia melarikan diri dan tak pernah kembali hingga hari ini.

Tapi, sebenarnya, bukan hanya aku yang bertemu Syahdan menjelang pelariannya. Ada yang lain, Anggrek namanya, pelacur yang tinggal di rumah kontrakan tak jauh dari tempat pembuangan sampah di belakang pasar kampung kami. Tapi tidak ada yang mengetahui hal itu selain aku, dan sekarang kau. Cerita ini aku rangkai dari pengakuan Syahdan secara langsung, beberapa detail aku dengar dari Anggrek, juga dari penglihatanku sendiri.

Aku dan Syahdan memang berteman. Kau tahu, jenis pertemanan yang terbentuk hanya karena kami ada di kelas yang sama, dan rumahnya pun persis berada di samping rumahku, bukan pertemanan karena memiliki kesamaan sifat atau berbagi pengalaman istimewa yang bagaimana-bagaimana. Aku bahkan sudah lupa kapan tepatnya aku dan Syahdan mulai saling bicara dan bermain bersama. Dia ada begitu saja di dalam hidupku, begitu pun aku di dalam hidupnya.

Syahdan adalah seorang anak laki-laki bertubuh kurus karena ibunya jarang masak banyak dan tidak punya uang juga untuk melakukan itu sekali pun dia ingin. Syahdan yang harus membantu bapaknya menjadi kuli bangunan sepulang sekolah seringnya tiba di rumah menjelang magrib, dan saat itu biasanya sudah tidak ada apa-apa di bawah tudung saji karena makanan sudah dihabiskan lima orang adiknya, sementara makanan yang disimpan ibu hanya cukup untuk bapaknya.

Kalau mengingat itu, aku kadang merasa tidak enak pada Syahdan karena tubuhku tambun dengan pipi merah seperti bayi. Aku anak tunggal dan ibuku terlampau memanjakanku dengan berbagai masakan.

Walau kurus, tapi tubuh Syahdan tegap berotot karena sering melakukan pekerjaan berat. Dengan bentuk tubuh seperti itu, dia terlihat jauh lebih tua dibanding usia sebenarnya. Ditambah dengan kebiasaan mengerutkan alis hingga membuat wajahnya selalu terlihat marah dan tabiat yang suka menyumpah, sempurnalah Syahdan menjadi pemimpin remaja di kampung kami.

Saat ada pertandingan bola melawan kampung sebelah, Syahdan juga selalu dijadikan tokoh kunci untuk mengacaukan mental lawan dengan bentuk mukanya yang menyeramkan, kalau bukan untuk menjegal kaki pemain yang sedang membawa bola.

Aku pikir wajah Syahdan yang menyeramkan itu turunan dari bapaknya, tapi ternyata laki-laki itu merupakan jenis seram yang sama sekali lain, seram yang sesungguhnya.

Bapak Syahdan berkulit gelap mengilap karena terbakar matahari, kedua matanya tampak keruh dan merah, rahangnya persegi dan selalu terlihat seperti sedang menggertakkan gigi. Alisnya tebal tapi tak setebal kumisnya yang menyerupai serabut kelapa gosong di atas bibir tipisnya yang tak pernah sekali pun aku lihat tersenyum. Sepertinya lebih baik dia memang tidak usah tersenyum saja. Aku merinding membayangkan wajah seperti itu tersenyum, pasti tidak menenteramkan sama sekali dan malah semakin menakutkan.

Bukan hanya karena wajahnya, bapak Syahdan juga punya sifat yang menyeramkan. Tangannya yang padat dengan tonjolan urat berliuk-liuk berkat mengangkat bersak-sak semen dan batu bata setiap hari itu tidak segan mendarat di tubuh anak-anaknya. Tidak jarang aku terbangun saat subuh karena mendengar raungan bapak Syahdan yang membangunkan anak-anaknya untuk salat. Kalau mereka sulit dibangunkan atau terlalu lama meregangkan badan, dia akan mencubit, memukul, atau menampar tergantung usia dan jenis kelamin anak yang ditangani. Jika istrinya datang membela, gantian istrinya yang ditampar. Jika perempuan malang itu menangis karena tak bisa menahan rasa sakit di pipi atau di hatinya, suaminya akan menghardik dengan keras.

“Kau manjakan saja mereka terus! Kau tahu, anak-anak ini adalah ujian, mereka akan membuatmu terbakar di neraka. Sialnya aku yang dibakar duluan karena aku bapaknya. Karena itu harus diajari dengan benar—kenapa kau menangis? Aku tidak salah memukulmu, aku boleh melakukannya karena kau membiarkan mereka tidak salat. Kau akan berterima kasih padaku di akhirat nanti untuk tamparan itu.”

Syahdan anak sulung, karena itu banyak beban dan tanggung jawab yang diberikan padanya bahkan sebelum dia disunat. Bukan hanya tanggung jawab membantu ibunya mengurus rumah, mengawasi adik-adiknya, membantu bapaknya mengaduk semen atau menyusun batu bata, tapi Syahdan juga diberi tanggung jawab untuk memastikan orang tuanya masuk surga.

Syahdan bilang, dulu bapaknya tidak peduli dengan surga atau neraka. Syahdan bahkan ragu bapaknya sungguhan Islam karena tidak pernah sekali pun dia lihat bapaknya salat, puasa, apalagi membaca Alquran. Tapi suatu hari, di malam peringatan kelahiran rasul, bapaknya tiba-tiba pulang dengan kepala basah kuyup dan menghampiri lemari. Istrinya dengan sigap bersiap menahan suaminya mengambil uang untuk jatah memasak besok seperti yang sering ia lakukan. Tapi tidak, bapak Syahdan justru mengambil sajadah, dibentangkannya di lantai, lalu salat. Satu rumah dibuatnya geger, istrinya menangis bahagia. Ada percikan harapan yang tiba-tiba menghangatkan perasaannya melihat laki-laki itu salat. Dia pikir tidak akan ada lagi hardikan, tamparan, tendangan, atau uang simpanan yang diambil untuk menyewa pelacur atau mabuk-mabukan. Bapak Syahdan sudah hijrah, pikirnya.

Untuk beberapa minggu, keadaan rumah Syahdan terasa jauh lebih baik. Bahkan tidak pernah sebaik itu. Sepulang kerja, setelah bebersih bapaknya langsung ke masjid, salat lima kali sehari, mendengarkan ceramah, dia juga mengemasi beberapa pakaian terbaiknya untuk dibarter dengan tiga buah baju koko bekas di pasar, dan segala hal lain yang dirasanya perlu dilakukan untuk kembali ke jalan Tuhan. Dia juga tidak lagi meminum tuak atau keluyuran hingga dini hari. Tidak ada bekas lipstik atau bau parfum yang menyengat lagi, tanda bahwa dia sudah berhenti berkunjung ke kontrakan Anggrek.

Lalu suatu hari, setelah menghadiri ceramah, bapak Syahdan memanggilnya.

“Kau bisa baca Alquran?”

“Bisa,” jawab Syahdan.

“Hafal berapa surah?”

“Mm… Alfatihah?”

“Itu saja? Kau tidak membaca surah pendek saat salat?”

“Surah qul qul aku juga hafal.”

“Selain itu?”

“Tidak ada.”

“Mulai besok kau hafal, mulai dari alif lam mim, sehari 5 ayat. Selepas magrib setor di depanku.”

“Untuk apa?”

“Kau ini dungu atau apa? Menghafal firman Tuhan kok bertanya untuk apa. Tak pernahkah kau diajari di sekolah bahwa anak yang menghafal Alquran akan membuat kedua orang tuanya istimewa di akhirat nanti? Kau juga akan dicintai rasul, kau akan selamat, Nak.”

Waktu Syahdan menceritakan padaku apa yang dikatakan bapaknya itu, otakku mengingat kembali ucapan pak ustaz. Katanya rasul memang pernah berkata seperti itu, tentang anak yang hafal Alquran dan jenis keistimewaan seperti apa yang akan didapat orang tuanya; di akhirat nanti mereka akan diberikan mahkota dari cahaya.

Waktu mendengar itu aku berpikir, memangnya kenapa jika diberi mahkota cahaya? Memangnya orang-orang bermahkota tak bisa masuk neraka? Tapi aku belum pernah mati jadi tidak tahu jawabannya. Aku pikir nanti akan kutanya saja pada pak ustaz, walau pak ustaz juga belum pernah mati, tapi dia berilmu dan orang berilmu tak perlu mati dulu untuk mengetahui jawaban atas segala sesuatu.

Awalnya Syahdan tersanjung, dia merasa diandalkan, dan bahagia sebab baru kali itu bapaknya memanggilnya dengan sebutan “nak”. Bapaknya bilang dia juga akan dicintai rasul. Syahdan tidak terlalu mengenal rasul, tentu dicintai rasul akan menyenangkan—dicintai siapa saja itu menyenangkan—tapi dia lebih berharap dicintai bapaknya. Maka Syahdan melakukan permintaan bapaknya untuk menghafal Alquran, lima ayat per hari.

Saat Syahdan menyetor hafalannya, bapaknya akan mendengarkan dengan seksama sambil memegang Alquran terjemahan sebagai pedoman, memastikan yang diucapkan Syahdan sesuai dengan yang tertera di kitab itu.

Hari pertama hingga ketujuh tidak ada masalah. Tapi di hari kedelapan Syahdan merasa gerah karena belum mandi, sehingga hafalannya kacau, mulutnya terbata-bata. Saat itulah bapaknya mengambil sebatang rotan, lalu dilecutnya kedua betis Syahdan. Syahdan disuruh mengulang kembali hafalannya, tapi dia teralihkan oleh rasa perih di betisnya. Dia kembali terbata, bapaknya kembali mengayunkan rotan. Hal itu berlanjut terus, setiap kali Syahdan terbata, pukulan akan semakin keras, jika dia lupa, pukulan akan semakin banyak.

Kabar hijrahnya bapak Syahdan sudah didengar ayahku, juga seisi kampung, begitu pula dengan kebiasaan barunya merotan anaknya demi hafalan Alquran. Ayahku bilang dia cukup terkejut dengan perubahan bapak Syahdan, sebab mereka dulu pernah sekelas. Ayahku berhasil menyelesaikan sekolah sementara bapak Syahdan tidak. Ayahku bilang, di masa mudanya bapak Syahdan sudah senang mengunjungi tempat-tempat yang seharusnya tidak dikunjungi dan melakukan banyak hal ganjil kalau tidak mengada-ada. Hijrahnya dia adalah kabar baik, tapi melihat kelakuan barunya yang mengulang kebiasaan lama membuat ayahku heran.

Yang paling ajaib, kata ayahku, seorang laki-laki yang tidak lancar membaca Alquran malah memaksa anaknya menjadi hafiz.

Selain menghajar betis Syahdan dengan rotan, bapaknya kembali pada kebiasaan lama; memukul istrinya. Kali ini dia beralasan karena istrinya tidak salat, atau karena membela anak-anak mereka yang juga dipukuli karena tidak salat atau mengaji. Uang belanja semakin berkurang karena bapak Syahdan lebih memilih memperbanyak ibadah, membuat pekerjaannya lambat dan mandornya jengkel lalu menunda pembayaran upah. Hal ini membuat bapak Syahdan geram, dia menceramahi mandornya karena telah berbuat zalim dengan tidak memberi upah sebelum keringatnya kering, dia juga memberi peringatan soal api neraka yang akan membakar si mandor hingga renyah. Mandor yang tidak terima disamakan dengan kerupuk karena dia tidak pernah mengucapkan syahadat itu kemudian memecatnya.

Bapak Syahdan menganggap hal itu sebagai cara Tuhan menyelamatkannya, ia menyebut pekerjaan itu memang tidak mendatangkan berkah karena diupah oleh pemakan binatang haram. Sebagai pengangguran, bapak Syahdan jadi punya banyak waktu di rumah untuk menebar teror pada anak-anaknya. Syahdan semakin tidak konsentrasi, hafalannya tidak mengalami kemajuan, rotan pun semakin membabi buta menghajar betisnya.

Suatu pagi saat aku baru saja selesai memakai seragam sekolah, Syahdan melompat ke dalam kamarku lewat jendela. Dia memakai seragam sekolah, juga menyandang tas, tapi di tangannya tergenggam sebilah rotan. Wajahnya seperti orang habis dikejar setan.

“Boy, kau punya obat merah?” tanya Syahdan. Aku mengambil obat merah dari laci meja dan menyerahkannya pada Syahdan. Dia segera meneteskan obat merah itu ke kedua betisnya. Nampaknya bapak Syahdan semakin telaten dalam melecut, aku meringis melihat bekas hantaman rotan yang bertubi-tubi hingga menyayat kulit Syahdan itu.

“Si tua keparat itu, dia yang penuh dosa aku yang dibikin repot memesan surga untuknya,” gerutu Syahdan.

Aku menunggu. Syahdan memuntir-muntir ujung rotan dengan raut wajah gelisah. Hingga kusadari kedua matanya sembab, mungkin habis menangis.

“Kau takut?” tanyaku saat melihat jari-jarinya yang kini menekuk-nekuk rotan sedemikian rupa, bergetar hebat.

“Pada siapa?”

“Bapakmu lah. Kau kan tidak takut pada Tuhan juga tidak percaya hantu.”

“Sembarangan kau!”

Dia diam sesaat, ada semburat kesedihan dan takut di sana, bercampur dengan marah yang tidak main-main.

“Aku akan pergi jauh. Tapi bus baru ada siang nanti. Boy, sembunyikan aku sampai siang.”

“Sekolah bagaimana?”

Syahdan menatapku tepat di kedua mata. Aku langsung tahu bahwa hari itu aku tidak bisa ke sekolah, dia pun tidak akan sekolah, mungkin tidak akan pernah lagi.

“Kau tidak bisa sembunyi di sini,” kataku.

Tak lama kemudian kami berdua sudah sampai di pasar. Berusaha berjalan sewajar mungkin selayaknya dua bocah berangkat sekolah. Ketika ada kesempatan, kami berbaur di kerumunan, lalu melompat ke gang sempit di antara kios ikan, mengendap-endap di balik tumpukan peti berisi jeroan, lalu berjalan lurus menuju bak sampah raksasa.

“Sembunyi di mana?”

Aku melirik bak sampah. Syahdan mendelik tidak senang padaku. Aku lalu menunjuk sebuah rumah yang tidak akan kelihatan jika tidak diperhatikan baik-baik karena terhalangi gunungan sampah untuk memberi tahu maksudku pada Syahdan. Aku tidak menyuruhnya sembunyi di tumpukan sampah, tapi di rumah itu.

Itu rumah Anggrek, yang kemudian baru kutahu bahwa itu bukan nama yang sebenarnya. Nama lahirnya, nama yang diberikan oleh sang ibu yang seorang kepala madrasah diniyah sekaligus seorang pelantun barzanji adalah Qhoirunnisa Jihadia, nama yang dirasanya tidak cocok untuk tetap dipakai saat menjalani profesinya saat ini. Karena itulah dia menciptakan Anggrek.

Jika kau ingin tahu kenapa Anggrek dengan latar belakang keluarga seperti itu memilih jalan hidup yang menjadi penyebab ibunya mati kena serangan jantung, aku akan menceritakannya lain kali, sekarang masih ada Syahdan yang harus kita bahas.

Aku dan Syahdan mengetuk pintu rumah Anggrek setelah memastikan tidak ada orang yang melihat. Anggrek membukakan pintu, Syahdan melenggang masuk sebelum dipersilahkan. Aku mengikutinya.

“Bukankah kalian masih terlalu kecil, sayang?” kata Anggrek sambil tersenyum manis.

“Izinkan aku di sini sampai siang. Kau bebas lakukan hal lain, jangan pedulikan aku. Selepas zuhur nanti aku akan pergi.”

Anggrek menatap Syahdan dan aku bergantian dari ujung kepala hingga kaki.

“Baiklah.”

Kami berdua duduk di sofa yang pernya sudah mencuat keluar. Anggrek berjalan ke dapur, diputarnya rekaman barzanji, lalu dia kembali ke tempat kami membawa secangkir teh untuk dirinya sendiri.

“Kalian pernah dengar tidak?” tanya Anggrek. Aku dan Syahdan tidak menjawab. “Itu suara ibuku. Hari ini aku sedang rindu padanya. Merdu, kan? Dia memang pelantun barzanji, juga guru mengaji yang handal.”

“Masa?” ceplos Syahdan.

Anggrek mengeluarkan sebatang rokok.

“Aku tidak pernah meminta keluar dari selangkangan guru mengaji. Sama sepertimu, aku yakin jika kau boleh memilih orang tua macam apa yang akan kau miliki saat terlahir ke dunia, kau pasti tidak akan memilih seorang laki-laki temperamen dengan mulut berbau seperti tape busuk.”

Syahdan menundukkan kepalanya, nyaris seperti malu-malu. Anggrek membakar rokok, mengisapnya dalam-dalam. Dia memalingkan wajah dari Syahdan dan aku saat mengembuskan asap.

“Aku dengar bapakmu berubah. Hijrah dia,” kata Anggrek. “Tahukah kau kalau bapakmu mendapat hidayah sehabis dari sini, dari rumahku? Aku cukup yakin bapakmu memang mendapat hidayah di sini. Malam itu aku sedang tidak berselera karena rinduku pada ibu sedang kumat, aku putar rekaman ini. Bapakmu lalu tiba-tiba pergi dan setelah itu tidak pernah datang lagi. Aku dengar dari Jaya—kau kenal kan? Marbot masjid itu. Dia kadang main ke sini dan selalu bisa kuandalkan untuk mendengar gosip kampung terbaru—bapakmu datang ke masjid saat orang-orang sedang merayakan malam kelahiran rasul, dia mematung sebentar seperti orang kehilangan akal lalu mengguyur kepalanya dengan air keran. Sejak itu dia berubah.”

Kami tidak merespon. Anggrek menyunggingkan sudut bibirnya.

“Pernahkah kalian dengar kisah tentang pelacur yang mati lalu mayatnya disalati rasul?”

“Mana mungkin rasul menyalati pelacur,” sambar Syahdan.

“Itulah bedanya rasul dengan bocah dungu seperti kau, juga dari orang-orang tua bau langu yang mengajarimu bicara seperti itu. Rasul penuh kasih dan tidak pernah membeda-bedakan manusia. Pelacur punya alasan, rasul punya alasan, Tuhan pun punya alasan. Nah, kau sendiri bagaimana? Apa alasanmu kabur dari rumah?”

“Aku tidak kabur.”

“Aku dulu juga kabur dari rumah, aku tahu perbedaan antara bocah yang kabur dan yang tidak.”

Syahdan tidak menjawab. Dia menatapku, aku menatapnya balik. Anggrek menatap kami. Tidak ada di antara kami yang bersuara lagi.

Itu adalah saat terakhir aku bersama Syahdan. Selepas zuhur, Syahdan mengganti seragam sekolahnya dengan baju yang sudah dibawanya di dalam tas, lalu dia menaiki bus yang akan mengantarnya ke Surabaya. Setelah itu dia akan menentukan nasibnya sendiri.

Keesokan harinya bapak Syahdan berkeliling kampung mencarinya, menyumpah sepanjang jalan. Dia tampak mengenaskan, perpaduan antara orang bingung dan naik darah. Ibu Syahdan menangis berhari-hari.

Setiap kali ada yang bertanya apa aku tahu ke mana Syahdan pergi, aku jawab tidak tahu. Ada yang mengaku pernah melihatnya di Surabaya, menjadi marbot masjid, tapi ada juga yang mengaku melihatnya digiring polisi setelah tertangkap saat mencopet, bahkan ada yang mengaku bertemu Syahdan baru-baru ini. Konon Syahdan mengganti namanya dan maju sebagai calon kepala daerah. Aku tidak tahu mana yang benar, yang jelas sejak hari itu Syahdan sama sekali tidak berusaha menghubungiku. Dia lenyap bersama rotan bapaknya dan tidak pernah kembali.

Oleh: Rinai Bening Kasih
Rinai Bening Kasih

Perempuan, kalau senggang bekerja sebagai jurnalis.

Bagikan Tulisan Ini

2 Comments

  1. Bagus sekali ceritanya.
    Ada pelajaran yang bisa diambil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mungkin Kamu Tertarik