Oleh: Wahid Irawan

Pada hari yang malang itu ia ditugaskan oleh redaktur untuk menulis tentang seorang istri yang mengamuk lalu menghancurkan rumah setelah mengetahui suaminya memiliki perempuan simpanan. Tentu saja si istri tak melakukan dengan tangannya sendiri. Ia menyewa sebuah ekskavator untuk menghancurkan rumah mereka, demi memberi pelajaran pada suaminya bahwa ia tak main-main dengan ucapannya.

BINGUNGBACA – Setelah tak berhasil mewawancarai dua dari tiga narasumber, Tatan datang menemuiku. Ia datang ke kontrakanku dengan tampang lusuh dan wajah yang mengkilap kena leleran minyak rambut.

“Aku butuh minum, Bung,” katanya tiba-tiba sambil langsung telentang dan menatap langit-langit.

Sumpah mati aku terkejut. Sebab suara motornya tak terdengar sama sekali.

“Ambil sendiri saja lah,” kataku syok dan karena juga tengah asyik membaca koran bekas.

“Aku minta untuk pertama dan terakhir kali, Bung. Sudah diminta baik-baik tapi tetap tak mau bicara. Cukimae!” katanya merepet dan sungguh tak aku mengerti maksudnya apa.

Akhirnya aku ke dapur mengambil air dengan malas. Di dapur, aku masih mendengarnya mengomel berkali-kali dan meratapi sekian macam kesialan hidup sebagai wartawan.

Wajah Tatan tampak pucat, napasnya naik turun seperti habis dikejar anjing. Aku pernah dikejar anjing saat pulang sekolah melewati rumah orang Cina. Kejadian itu meninggalkan bekas luka yang abadi di lutut kananku. Aku paham rasanya.

“Nih! Aku belum ada keluar buat beli air galon. Jadi minum air keran saja lah, ya,” kataku sambil menaruh botol di lantai.

Ia minum dalam tegukan besar dan seketika air itu tandas. Tatan seperti tak mendengar apa yang aku katakan soal keran. Ia bahkan mengelap sisa air di sudut bibirnya dengan lengan kemeja. Persis cara minum orang yang tak bertemu air belasan hari.

“Apa yang kau minta?” kataku penasaran.

“Bayangkan, aku sudah minta baik-baik untuk mewawancarai narasumber ini, demi Tuhan, saat aku tiba di depan rumahnya ia bilang kalau ia sedang tak bisa diganggu untuk saat ini.”

“Lalu?”

“Aku bilang aku akan menunggunya sampai ia mau bicara. Karena melihatku benar-benar menunggu di depan rumahnya, ia kemudian memanggil satpam perumahan tempat ia tinggal. Cukimae!

“Memangnya kau menulis apa?” aku bertanya penasaran.

Ia kemudian mengeluarkan sebuah tabloid dari tas punggungnya dan memberikannya kepadaku.

“Baca halaman empat!”

***

Tatan sebenarnya baru tiga bulan menjadi wartawan. Enam bulan sebelumnya ia lulus, meski dengan susah payah, dari perguruan tinggi swasta. Ia tak berminat pulang ke kampung halamannya di Selatpanjang. Karena itu ia memilih tetap di Pekanbaru sampai menemukan pekerjaan yang tepat.

Ia sempat menjajal bekerja di sebuah perusahaan pialang saham. Perusahaan itu sedang butuh humas, sekretaris, dan administrasi. Ia memilih posisi humas. Yang ia lihat dan bayangkan; tempat kerja bagus, lokasi di kawasan elit pertokoan, dan akan selalu bekerja di ruangan ber-AC.

Begitu mulai bekerja, ia tak langsung jadi humas. Tapi harus menjalani proses belajar menjual jasa dan menggaet nasabah lebih dulu. Ia mendapatkan pelatihan pemasaran sebelum turun ke lapangan, meski ia tak merasa membutuhkan itu.

Setiap kali Tatan datang ke kantor pialang itu, ia harus membayar parkir. Tatan merasa ditipu oleh cara perusahaan menarik orang-orang seperti dirinya. Pada hari ketujuh, ia kabur dan tak pernah kembali lagi.

“Aku butuh kerja kok malah dikerjai,” katanya kepadaku tak lama setelah kabur.

Setelah itu, ia lama tak muncul. Mungkin ia sudah mendapatkan pekerjaan baru atau akhirnya pulang ke kampung halamannya. Entahlah, aku tak tahu apapun tentangnya kecuali ia sendiri yang bercerita kepadaku.

Dulu sewaktu masih sama-sama jadi mahasiswa, ia biasa datang ke kontrakanku untuk tidur, mengobrol, membicarakan mimpi-mimpi muluk, dan kalau laptopku sedang menganggur, memintaku memberi tahu di folder mana aku menyimpan bokep.

Setelah peristiwa dikerjai itu, ia kembali muncul lewat pesan WhatsApp, mengabarkan bahwa ia sudah bekerja di Tabloid XX.

Saat ia menyebut nama tabloid itu, aku agak jeri. Sebab aku tahu tabloid seperti apa yang Tatan sebutkan. Tabloid yang suka menjual cerita kriminal dan seks sebagai penyedap utama. Aku hanya memberinya balasan emotikon seperti ini:

Setelah itu, kami sibuk menjalani hidup masing-masing. Ia sibuk dengan kewartawanannya dan aku terus, dengan naif, mempercayai bahwa aku bisa menjadi penulis di koran-koran mingguan.

***

“Kenapa kau memintaku membaca artikel ini?” kataku setelah selesai membaca.

“Sebab artikel ini sudah membuatku kembali menganggur.”

“Kenapa?”

Tatan lalu bercerita panjang lebar kepadaku. Ceritanya aku rangkum seperti ini.

Pada hari yang malang itu ia ditugaskan oleh redaktur untuk menulis tentang seorang istri yang mengamuk lalu menghancurkan rumah setelah mengetahui suaminya memiliki perempuan simpanan. Tentu saja si istri tak melakukan dengan tangannya sendiri. Ia menyewa sebuah ekskavator untuk menghancurkan rumah mereka, demi memberi pelajaran pada suaminya bahwa ia tak main-main dengan ucapannya.

Merasa itu hanya gertakan, si suami enteng saja menanggapi ancaman istrinya sampai saat ia pulang dan mendapati rumahnya sudah rata dengan tanah.

Menurut redaktur itu berita bagus. Maka berangkatlah Tatan ke lokasi. Ia pertama-tama menemui si istri yang mengamuk. Si istri hanya bersedia bercerita jika namanya tak disebut—kebiasaan Tabloid XX menyebut sumber perkosaan dengan nama anonim seperti Bunga atau Mawar. Tatan tanpa pikir panjang menyanggupi.

Si istri bercerita kepada Tatan bahwa satu tahun pernikahan mereka adalah hal terindah yang ia rasakan. Hidup mereka semakin lengkap dengan kehadiran seorang bayi. Setelah itu si istri masih melahirkan tiga anak lagi dengan jarak antara satu anak ke anak lainnya satu tahun. Itu terjadi saat mereka berdua masih bersemangat menambah anak.

Sejak anak keempat lahir, si istri merasa ada yang berubah dari suaminya. Lelaki itu tidak bersemangat lagi baku hantam di ranjang dengan seribu sekian alasan; sedang masuk angin, sakit pinggang atau puyeng berkepanjangan, bisnis sedang lesu. Hingga ekornya, seperti yang bisa dibaca istri, si suami punya perempuan simpanan.

Pernah juga suatu malam, si istri menemukan panggilan masuk ke gawai suaminya saat lelaki itu berada di kamar mandi. Nama pria muncul di layar, tapi saat si istri menerima panggilan tersebut, malah suara perempuan yang didengarnya di ujung sana.

Cerita itu Tatan dapat dengan mudah dari si istri. Ia pikir begitu juga dengan istri simpanan. Tapi ternyata, ia mendapatkan adegan pengusiran seperti yang ia ceriatakan di atas.

Masalahnya ada di sini. Selama bekerja di Tabloid XX, Tatan belum pernah sekali pun berjumpa dengan pemilik media itu. Bahkan hingga ia diberhentikan paksa dan tidak hormat oleh si pemilik XX karena merasa Tatan mencampuri urusan pribadinya.

Si redaktur yang menugaskan Tatan, bermain aman dengan mengatakan Tatan tidak punya etika dan mengeluarkan jurus berkelit sembari pura-pura merasa kehilangan saat Tatan dikeluarkan.

Aku memandangi Tatan, menanti reaksinya saat aku tatap. Tapi ia tak memandangku. Matanya menatap lantai.

“Jadi apa yang akan kau perbuat setelah ini? Wowowowow, sejak kapan kau jadi cengeng begini? Tenang, Bung, masih ada MLM. MLM Bung! Satu dari seribu cara untuk mengatasi persoalan hidup ini,” ujarku mencoba melucu.

Tatan diam saja.

***

Saat sedang berada di sebuah toko buku di Marpoyan, aku mengambil Tabloid XX dan membacanya. Aku membolak-balik halaman dari depan ke belakang dengan cepat untuk mencari berita yang ditulis Tatan. Maksudku, aku pura-pura berpikir bahwa Tatan masih bekerja di tabloid itu. Tapi, tentu saja aku tak menemukan yang aku cari. Tabloid itu aku kembalikan ke tempat semula.

Aku memang sering menumpang baca karena tak berminat membelinya. Aku hanya tergerak membeli edisi koran Minggu. Beberapa koran menyediakan cerita pendek pada hari itu. Dan aku membelinya sambil berharap cerita pendek yang aku tulis dimuat.

Tatan mungkin lebih beruntung, meskipun aku ragu apa makna kata beruntung itu. Ia sempat mencicipi kerja. Sedangkan aku masih berkeyakinan kalau bisa hidup dari menulis, sejak kami selesai dari Fakultas Komunikasi.

***

Sejak peristiwa nahas itu, Tatan kembali menganggur. Baru aku tahu belakangan, sepeda motor miliknya dijual ketika ia kehabisan uang dan belum mendapatkan kerja usai dikerjai perusahaan pialang. Itulah mengapa ia selalu terlihat seperti dikejar anjing setiap menjumpaiku. Ia berjalan kaki ke mana-mana. Sesekali naik angkutan umum.

Lama sudah aku tak mendengar kabar Tatan. Pada Jumat pagi September, saat aku ke toko buku di Marpoyan, aku membolak-balik halaman XX dan juga koran Minggu. Aku teringat Tatan dan entah kenapa teringat juga pada diriku sendiri. Aku meremas tangan yang tak berkeringat dan segera pergi dari toko itu sambil membanting koran Minggu brengsek yang memuat cerpen orang lain.

Baca juga cerpen lainnya di rubrik Sastra

Penulis serabutan. Kadang menulis, tapi lebih sering serabutan.

Bagikan Tulisan Ini

1 Comment

  1. Cerita yg menarik

    #sen3ward

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mungkin Kamu Tertarik